<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591</id><updated>2012-02-16T17:34:07.110-08:00</updated><title type='text'>BERDZIKIR, BERFIKIR, DAN BERAMAL SHALEH</title><subtitle type='html'>INTELEKTUAL DAN SPIRITUAL PERLU KITA KOMBINASIKAN SECARA CERDAS DAN CEMERLANG AGAR KITA  MAMPU MEMILIKI KEDALAMAN spiritual, KELUASAN ILMU dan KEAGUNGAN AKHLAK</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-6620665882957533732</id><published>2012-01-05T00:20:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T00:26:29.687-08:00</updated><title type='text'>KISI KISI UAS TPKI</title><content type='html'>1.Tentang "karya ilmiah" segi etimologis dan terminologisnya!&lt;br /&gt;2.Syarat-syarat yang harus ada pada seorang calon peneliti ketika akan menyusun karya ilmiah&lt;br /&gt;3.Tahapan-tahapan persiapan dalam penyusunan karya ilmiah&lt;br /&gt;4.Dalam penyusunan karya ilmiah, 'pokok masalah' merupakan bagian yang paling esensial yang harus terlebih dulu ditemukan dan dikuasai oleh seorang calon peneliti. Menurut anda bagaimanakah kiat/cara menemukan pokok masalah&lt;br /&gt;5.Tugas membuat karya ilmiah (artikel/makalah) di kumpulkan bersamaan dengan mengumpulkan jawaban UAS dan diserahkan ke pengawas UAS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-6620665882957533732?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/6620665882957533732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2012/01/kisi-kisi-uas-tpki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/6620665882957533732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/6620665882957533732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2012/01/kisi-kisi-uas-tpki.html' title='KISI KISI UAS TPKI'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-2542513489651113048</id><published>2012-01-05T00:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T00:20:23.091-08:00</updated><title type='text'>KISI-KISI UAS DDP</title><content type='html'>1.Definisi makna pendidikan yang mencerminkan beberapa unsur pendidikan yang ideal sesuai  profesi saudara.&lt;br /&gt;2.Manusia dikatakan sebagai obyek dan subyek pendidikan dan apa keterkaitannya dengan hakekat manusia sebagai makhluk Allah.&lt;br /&gt;3.Dari sekian aliran pendidikan yang ada, mana yang paling ideal menurut saudara yang berprofesi sebagai seorang pendidik dan berikan alasan saudara!&lt;br /&gt;4.Maksud  dengan life long education&lt;br /&gt;5.Implikasinya jika manusia tidak disentuh pendidikan, uraikan berdasarkan pengalaman belajar anda sendiri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-2542513489651113048?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/2542513489651113048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2012/01/kisi-kisi-uas-ddp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2542513489651113048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2542513489651113048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2012/01/kisi-kisi-uas-ddp.html' title='KISI-KISI UAS DDP'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-2303828886548293210</id><published>2011-10-12T22:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T23:07:53.790-07:00</updated><title type='text'>DASAR-DASAR PENDIDIKAN I</title><content type='html'>TEMA : Pendidikan dan perkembangan hidup ummat manusia, perlunya pendidikan bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Pendidikan&lt;br /&gt;Kata pendidikan , memiliki multi fungsi yang dapat diberikan makna sesuai dengan aspek yang menyertainya. Beberapa kata yang identik dengan pendidikan antara lain “Tarbiyah, Ta’lim, Tadris, Education, Paedagogie. Namun jika kita cermati dari berbagai definisi.secara sederhana dapat di rinci bahwa unsure yang terdapat didalam  pendidikan antara lain; Merupakan proses kegiatan (usaha yang sadar), adanya subyek pendidik, adanya obyek anak didik, adanya perubahan tingkah laku, adanya dasar dan tujuan , adanya alat/media yang digunakan.&lt;br /&gt;Dari aspek psikologi, maka makna pendidikan adalah proses pembentukan tingkah laku manusia yang dilakukan secara sengaja, terencana dan sistematis untuk mencapai tingkat perkembangan dan kedewasaan psikologis manusia secara optimal.&lt;br /&gt;Dari aspek sosiologi, maka makna pendidikan adalah Proses pembentukan kecakapan-kecakan fundamental secara intelektual dan emosional menuju kedewasaan social manusia agar dapat hidup secara mandiri.&lt;br /&gt;Dari aspek agama/Islam maka, makna pendidikan adalah proses pemberian tuntunan  dan bimbingan untuk mencapai tingkat kedewasaan manusia sesuai dengan syariat dan ajaran Islam itu sendiri guna melaksanakan fungsi-fungsi kemanusiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan uraian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya.&lt;br /&gt;2. Pendidikan juga berarti lembaga yang bertanggungjawab terhadap kegiatan pendidikan…..&lt;br /&gt;3. Pendidikan berarti pula hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan lembaga lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG PERSOALAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Salah satu naluri manusia yang terbentuk dalam jiwanya secara individual adalah kemampuan dasar dalam psikologi sosial yang disebut instink gregarius (naluri untuk hidup berkelompok)/ bermasyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Naluri itu dalam pandangan antropologi sosial sehingga manusia disebut homo socius / makhluk yang bermasyarakat, kecenderungan untuk berkumpul guna mengembangkan potensi dalam segala bidang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk memperoleh cita-citanya, pendidikan menjadi sarana utama yang perlu dikelola secara sistematis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Manusia adalah makhluk yang dinamis, dan semakin tinggi cita-citanya, semakin tinggi pula tuntutan kehidupannya, dibalik itu semakin komplek pula jiwa manusianya. Karena masing-masing didorong oleh tuntutan hidup (rising demands) yang meningkat pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Oleh karena itu pendidikan dalam satu sisi dengan lembaga-lembaga pendidikannya harus menjadi cermin dan cita cita kelompok manusia pada satu pihak dan pada waktu bersamaan pendidikan sekaligus menjadi lembaga yang mampu merubah dan meningkatkan cita-cita kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jadi, antara kedudukan pendidikan yang dilembagakan dalam berbagai bentuk dengan dinamika masyarakatnya harus selalu berinteraksi (saling mempengaruhi). Oleh karena itu pendidikan tidak mungkin lepas dari faktor psikologis manusia dan lingkungan sosio-kulturalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. sistem hubungan kependidikan jika dilihat dari aspek operasionalnya mencakup 5 faktor yakni; pendidik, anak didik, alat-alat pendidikan, lingkungan dan  tujuan. Semua aspek tersebut berperan satu sama lain secara interaksional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-2303828886548293210?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/2303828886548293210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2011/10/dasar-dasar-pendidikan-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2303828886548293210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2303828886548293210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2011/10/dasar-dasar-pendidikan-i.html' title='DASAR-DASAR PENDIDIKAN I'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-5110315811259814794</id><published>2010-10-21T18:16:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T17:34:36.182-07:00</updated><title type='text'>DRAF TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH STAIN SAMARINDA</title><content type='html'>BAGIAN  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Landasan Pemikiran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ilmiah adalah peradigma perguruan tinggi. tradisi ini Adalah suatu keniscayaan bagi setiap civitas akademika dalam  mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Tradisi ini penting sebab perguruan tinggi adalah garda terdepan dalam  pengembangan ilmu pengetahuan yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah baik melalui berbagai ragam kajian, penelitian dan aktivitas keilmuan lainnya.&lt;br /&gt;Salah satu indikator bahwa tradisi ini telah membumi di perguruan tinggi dapat diukur dari munculnya karya-karya ilmiah dalam bentuk tulisan seperti skripsi, tesis, disertasi, hasil penelitian, makalah, jurnal dan bentuk tulisan lainnya oleh setiap komponen di dalamnya baik mahasiswa, dosen maupun tenaga kependidikan lainnya secara kualified.&lt;br /&gt;Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda sebagai salah satu perguruan tinggi yang mempunyai stressing kajian dalam ilmu-ilmu keislaman (Islamic studies) dalam setiap aktivitas keilmuannya diharapkan mempunyai paradigma ilmiah seperti diatas. Hal ini menjadi tantangan sekaligus dapat menjadi spirit tersendiri untuk senantiasa berupaya melakukan pemberdayaan kelembagaan melalui berbagai program-program peningkatan mutu akademik.  &lt;br /&gt;sebagai salah satu lembaga di STAIN Samarinda, Unit Peningkatan Mutu Akademik (UPMA) mempunyai tanggung jawab besar untuk selalu cermat sebagai motor dalam melakukan program-program inovatif peningkatan system akademik. Prespektif UPMA, guna mewujudkan tradisi ilmiah dalam bentuk karya tulis ilmiah, maka tersusunnya sebuah pedoman dasar penulisan karya tulis ilmiah bagi STAIN Samarinda menjadi hal yang sangat urgen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersusunnya pedoman sebagaimana dimaksud bukanlah suatu aturan baku dan final dalam tata cara penulisan karya ilmiah, tetapi lebih dimaksudkan sebagai konsistensi penulisan karya ilmiah yang berlaku di STAIN Samarinda.&lt;br /&gt;Guna merealisasikan gagasan diatas, Unit Peningkatan Mutu Akademik (UPMA) mencanangkan program peningkatan mutu akademik   dalam bentuk “Desain Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah  STAIN Samarinda”.  Desain TPKI ini  dimunculkan dari workshop peningkatan mutu STAIN Samarinda yang pesertanya terdiri dari seluruh dosen STAIN Samarinda dengan harapan hasilnya dapat menjadi patokan bersama, Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Maksud dan Tujuan Program Desain TPKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Desain Teknik Penulisan Karya Ilmiah ini dimaksudkan dan bertujuan mencari patokan atau pedoman tentang konsistensi teknik penulisan Karya Ilmiah. Dengan program ini diharapkan civitas akademika STAIN Samarinda mempunyai standar teknik karya tulis ilmiah, baik pedoman penulisan karya penelitian mahasiswa (skripsi), tesis, disertasi, penelitian dosen,  jurnal dan makalah.&lt;br /&gt;Guna mewujudkan keinginan diatas, Unit Peningkatan Mutu Akademik (UPMA) STAIN Samarinda mencoba mengkaji materi-materi terkait melalui Workshop pengembangan Akademik yang salah satu grand materinya adalah teknik penulisan Karya tulis Ilmiah. Workshop ini dilaksanakan pada tanggal 10 – 13 Agustus 2005 di Aula Perpustakaan (lt 1) STAIN Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Target Program Desain TPKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target program ini adalah tersusunnya pedoman teknik penulisan karya tulis ilmiah STAIN Samarinda dalam bentuk buku pedoman TPKI STAIN Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN  II&lt;br /&gt;GAMBARAN UMUM KARYA TULIS ILMIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;1. skripsi&lt;br /&gt;Skripsi adalah karya ilmiah yang ditulis berdasarkan  hasil penelitian dan telah dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi strata satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.&lt;br /&gt;2. tesis&lt;br /&gt;Tesis adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji, untuk mempereoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkap masalah ilmiah tertentu dan memecahkan secara analitis kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Disertasi&lt;br /&gt;Desertasi adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelasaian studi pada tingkat strata tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi  untuk memperoleh gelar doktor (DR). Pembahasan dalam desertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan keagaman yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan.  Untuk itu,  pembahasan harus menggunakan pendekatan multi disipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. makalah&lt;br /&gt;Makalah adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau  sebagai hasil kajian, yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah ( seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa.&lt;br /&gt;Untuk penulisan makalah, rencana penelitian tidak diperlukan  Mengingat sifatnya sederhana  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jenis-jenis penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Penelitian Pustaka (Library Research)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dimana data-data yang dihimpun bersumber dari buku-buku literatur, baik berupa buku ilmiah, majalah, jurnal ilmiah, dan makalah-makalah hasil seminar yang relevan (maupun yang tidak relevan-sebagai perbandingan)    dengan tema pokok penelitian mahasiswa. Sumber yang akan dikutip sedapat mungkin mengacu kepada sumber primer, misalnya; mengutip sebuah hadis atau penafsiran terhadap sebuah ayat hendaknya dikutip dari sumber asli, bukan dari terjemahan.&lt;br /&gt;Adapun bagian krusial yang harus dimiliki oleh penelitian kepustakaan ini  adalah adanya pendirian penulis/pendapat penulis, karena mengingat penelitian kepustakaan merupakan penelitian konseptual yang nota bene adalah hasil pemikiran penulis (mahasiswa) mengenai topik yang dibahas, yang dikembangkan dari analisis terhadap permasalahan-permasalahan yang sama dan telah dipublikasikan sebelumnya.&lt;br /&gt;Jadi, penelitian kepustakaan bukanlah sekedar kumpulan cuplikan-cuplikan dari sejumlah artikel, buku ilmiah, apalagi  pemindahan tulisan dari sejumlah sumber, tapi penelitian kepustakaan adalah  hasil analitis dan pemikiran kritis penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Penelitian Lapangan (Field Research) &lt;br /&gt;Penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dimana data-data utama yang dihimpun bersumber dari lapangan, adapun buku literatur digunakan dalam penelitian ini sebagai landasan teori;  baik berupa buku ilmiah, majalah, jurnal ilmiah, maupun makalah-makalah hasil seminar yang relevan (maupun yang tidak relevan-sebagai perbandingan)    dengan tema pokok penelitian mahasiswa.   &lt;br /&gt; Adapun bagian krusial yang harus dimiliki pada jenis penelitian lapangan ini  adalah adanya objek penelitian yang jelas. karena mengingat penelitian jenis ini memiliki populasi dan atau responden, maka perlu ditegaskan ciri-ciri dan batasan  populasi serta proses samplingnya. Selain itu perlu pula ditegaskan judul-judul buku utama dan dokumen-dokumen yang menjadi sumber data. Pada penggunaan teknik pengumpulan data (berupa angket, observasi, interviu), maka perlu menjelaskan alasan penggunaan teknik-teknik tersebutserta proses yang ditempuh, dan data yang dicari.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN III&lt;br /&gt;PERSIAPAN MENULIS KARYA ILMIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyusun sebuah karya tulis ilmiah baik berupa skripsi untuk program Strata 1 (S1) , tesis untuk Program Strata 2 (S2), disertasi untuk Program strata 3 (S3) atau doktoral, jurnal, artikel dan makalah maupun karya penelitian lainnya, maka di butuhkan beberapa persiapan penulisan sebelum melakukan langkah-langkah pembuatan karya ilmiah. Persiapan-persiapan tersebut antara lain : penentuan pokok masalah, penyusunan kerangka, pembuatan gambaran isi dan pengumpulan bahan-bahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penentuan Pokok Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok masalah yang akan dikaji dan dibahas dalam sekripsi, tesis dan disertasi harus berhubungan dengan disiplin ilmu yang akan dikembangkan sebagai profesi mahasiswa yang bersangkutan. Pokok masalah ini bisa berupa hal-hal yang berhubungan dengan bidang studi yang merupakan mata kuliah komponen Program studi, jurusan di tingkatan STAIN maupun fakultas di IAIN. Khusus dalam Tesis dan disertasi, pokok masalah yang akan dibahas harus berkaitan dengan bidang ilmu yang dikaji. Pokok masalah tersebut harus terkandung secara implisit di dalam judul tesis dan disertasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyusunan Kerangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok masalah yang sudah dipilih untuk di bahas dalam skripsi, tesis atau disertasi harus dirinci menjadi bagian-bagian yang saling berkaitan. Bagian-bagian itu dapat dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan spesifik. Seperti bagian-bagaian yang lebih besar, bagaian-bagian yang lebih kecil pun harus saling berakaitan.&lt;br /&gt;Judul dalam masing-masing bab hendaknya langsung ke arah materi yang akan di bahas, bukan pokok bab yang bersangkutan seperti : landasan teori, hasil penelitian, analisis dan sebagainya. Pokok-pokok masalah yang sudah dirinci ini dinamakan kerangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Contoh kerangka   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBINAAN KELUARGA SEJAHTERA &lt;br /&gt;DALAM PRESPEKTIF ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;I. Latar Belakang&lt;br /&gt;II. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;III. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;IV. Definisi Operasional&lt;br /&gt;V. Alasan Pemilihan Judul&lt;br /&gt;VI. Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;VII. Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;VIII. Telaah Pustaka dan Kerangka Teori&lt;br /&gt;IX. Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II ISLAM DAN PEMBENTUKAN KELUARGA&lt;br /&gt;A. Pengertian, sumber dan pokok-pok Ajaran Islam tentang keluarga&lt;br /&gt;B. Sistem Perkawinan menurut Ajaran Islam&lt;br /&gt;C. Hubungan antara Keluarga dan Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III UNSUR-UNSUR KESEJAHTERAAN DALAM SISTEM PERKAWINAN ISLAM&lt;br /&gt;A. Persiapan menuju Perkawinan&lt;br /&gt;B. Dalam Rumah Tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV ISLAM DAN PEMBINAAN KELUARGA SEJAHTERA&lt;br /&gt;A. Pengertian dan Kriteria Keluarga Sejahtera dalam Islam&lt;br /&gt;B. Langkah-langkah menuju Keluarga Sejahtera&lt;br /&gt;C. Keluarga dalam Islam adalah Keluarga Sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  V PENUTUP&lt;br /&gt; A. Kesimpulan&lt;br /&gt; B.  Saran dan Rekomendasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada saran hendaknya disatukan dengan kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pembuatan Gambar Isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan gambaran isi adalah pokok-pokok yang dianggap penting yang akan dibahas dalan sekripsi, tesis, disertasi dan lain  sebagainya. Meskipun, uraian terinci sekripsi, tesis dan disertasi belum tersusun, gambran isi sudah ada dalam pikiran penulis. Dengan demikian, hendaknya penulis telah mempunyai pokok – pokok isi karya tulis serta merupakan pokok-pokok terpenting dalam karya ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pengumpulan Bahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum skripsi, tesis dan disertasi ditulis, bahan-bahannya harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu, sesuai dengan penelitian yang akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penelitian Kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jenis penelitiannya kepustakaan, maka bahan-bahan yang perlu dipersiapkan dalam penelitian diantaranya dokumen-dokumen, buku-buku sumber, majalah, surat kabar. Sumber-sumber itu harus relevan dengan pokok masalah yang dibahas. Sumber yang akan digunakan adalah (untuk skripsi sedapat mungkin) sumber primer, misalnyadalam mengutip hadis, sumber yang digunakan adalah kitab hadis riwayat yang bersangkutan, bukan dari riwayat atau kitab lain.&lt;br /&gt;Jumlah buku yang dijadikan sumber penulisan itu paling sedikit 15 judul untuk penulisan skripsi, 25 judul untuk tesis, dan 40 judul untuk desertasi.&lt;br /&gt;Buku-buku yang dijadikan sumber tersebut ditulis dalam daftar pustaka yang disususn secara alfabetis berdasarkan nama pengarangnya.&lt;br /&gt;Ada kemungkinan daftar pustaka yang dibuat sebelum menulis skripsi, tesis, atau desertasi berbeda dengan daftar yang tercantum dalam skripsi, tesis, atau desertasi yang sudah selesai ditulis. Perbedaan yang semacam itu memang dibenarkan, karena memang ada mahasiswa yang bersangkutan menemukan sumber yang lebih relevan, atau menyadari sumber sebelumnya itu dipandang tidak relevan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penelitian Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa yang menggunakan penelitian lapangan bagi penulisan skripsi, tesis, atau desertasinya obyek penelitiannya harus sudah ditentukan sebelumnya.&lt;br /&gt;Dalam hal ini mahasiswa yang bersangkutan harus mempertimbangkan relevansi antara teknik pengumpulan data yang digunakan, instrumen yang dipakai, sumber data tempat informasi diperoleh, sifat dat yang dicari dan tujuan yang ingin dicapai. Di samping itu, mahasiswa yang bersangkutan harus pula menjelaskan kerangka teoriyang akan digunakan dan paradigma-paradigmanya.&lt;br /&gt;Dalam uraian-uraian (bab-bab) selanjutnya dalam buku pedoman ini, untuk skripsi, tesis dan desertasi dipergunakan kata “karya tulis”, sedaqng dalam judul bab,  sub-sub bab tetap ditulis perkataan skripsi, tesis dan desertasi   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN  IV&lt;br /&gt;SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Maksud Sistematika Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi, dan makalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sistematika penulisan karya tulis disini adalah cara menempatkan tulisan yang berisi unsur-unsur  topik dan urutan-urutannya  sehingga merupakan kesatuan karangan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Urutan Isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan isi sebuah karya tulis yang lengkap adalah sebagai berikut  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Bagian Awal, terdiri dari  :&lt;br /&gt;a. Halaman Sampul&lt;br /&gt;b. Halaman Judul&lt;br /&gt;c. Halaman Persetujuan Pembimbing&lt;br /&gt;d. Halaman Pengesahan&lt;br /&gt;e. Halaman Persembahan&lt;br /&gt;f. Motto&lt;br /&gt;g. Abstrak&lt;br /&gt;h. Kata Pengantar&lt;br /&gt;i. Daftar isi&lt;br /&gt;j. Daftar Tabel&lt;br /&gt;k. Daftar ilustrasi/gambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Bagian Tengah, terdiri dari  :&lt;br /&gt;a. Pendahuluan&lt;br /&gt;b. Uraian masalah yang dibagi menjadi bab-bab&lt;br /&gt;c. Kesumpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Bagian Akhir, terdiri dari  :&lt;br /&gt;a. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;b. Daftar Riwayat Hidup&lt;br /&gt;c. Lampiran dan lain-lain yang perlu seprti apendiks dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Cara Penyajian&lt;br /&gt;1. Bagian Awal&lt;br /&gt;a) Halaman Sampul dan Halaman Judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampul memuat judul karya tulis, maksud penelitian, lambang STAIN, nama dan nomor indul mahasiswa (NIM), nama jurusan atau fakultas dan program studi, nama STAIN dan tahun penyelesaian, warna sampul skripsi mahasiswa STAIN Samarinda adalah  adalah hijau untuk jurusan Tarbiyah, Hitam untuk Jurusan Syari’ah dan merah untuk jurusan Dakwah. Sedang untuk tesis berwarna merah muda (pink) dan disertasi berwarna Biru.&lt;br /&gt;Adapun Format halaman judul sama dengan halaman sampul. Halaman judul ini diketik pada kertas kuarto yang berwarna putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Halaman persetujuan Pembimbing/Promotor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman persetujuan merupakan bukti persetujuan oleh pembimbing dan asisten pembimbing yang dibuktikan dangan tanda tangan.  Halaman persetujuan memuat judul Karya ilmiah, nama penyusun, nomor induk mahasiswa (NIM,) maksud persetujuan, nama pembimbing I dan  pembimbing II dan tanggal persetujuan (Hijrah/Masehi).&lt;br /&gt;Halaman ini ditandatangani oleh pembimbing I dan Pembimbing II setelah karya tulis siap dikoreksi, disetujui dan siap diujikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Halaman Pengesahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman pengesahan merupakan  pengesahan administratif dan akademik oleh tim penguji dan ketua STAIN. Unsur yang dimuat adalah judul skripsi, nama, NIM, maksud Pengesahan, waktu pelaksaan ujian, nama susunan tim penguji (Ketua tim, penguji utama, penguji I, Penguji II dan sekertaris) dan diketahui oleh ketua STAIN Samarinda.&lt;br /&gt;Halaman Pengesahan ditandatangani oleh panitia ujian setelah karya tulis diperbaiki sesuai dengan petunjuk dan saran penguji dan anggota ujian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Halaman Persembahan  (Jika ada)&lt;br /&gt;Halaman ini diperuntukan kepada mahasiswa atau penulis karya ilmiah  untuk mengekspresikan  persembahan karya ilmiah yang telah dibuat kepada orang-orang terdekat, terhormat, dan orang yang tekah berperan atas selesainya karya ilmiah tersebut terlebih untuk anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Abstrak&lt;br /&gt;Abstrak merupakan ringkasan atau inti dari karya ilmiah yang dibuat penulis. Abstrak juga dapat disebut sebagai miniatur dari hasil penelitian yang telah disusun dalam bentuk skripsi. Sebagai miniatur dari skripsi abstrak memuat nama penyusun, judul skripsi, tujuan penelitian, metodologi penelitian dan hasil penelitian serta kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Motto&lt;br /&gt;Halaman ini diperuntukan kepada mahasiswa untuk menulis ekspresi dari semboyan hidup penulis. Motto dapat berupa  Firman Allah SWT, Hadits, Diktum-diktum ulama, syair-syair islami dan kata-kata hikmah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Kata Pengantar&lt;br /&gt;Halaman pengantar berisi Tahmid kepada Allah swt dan Sholawat kepada nabi Muhammad Rosullah saw. Serta para sahabat setelah itu, dilanjutkan dengan tujuan penyusunan dan ucapan terima kasih kepada semua fihak yang memiliki peran dalam penyusunan karya ilmiah, ungkapan terima kasih diutarakan secara wajar, tidak berlebihan, tidak terlalu merendahkan diri dan tidak perlu ada ucapan permintaan maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam karya tulis yang bersangkutan, karena karya tulis yang ada merupakan karangan ilmiah yang bersifat objektif. Ucapan terima kasih disampaikan kepada   antara lain  :&lt;br /&gt;1. Ketua/Rektor Perguruan Tinggi&lt;br /&gt;2. Dekan/ Ketua Jurusan yang bersangkutan&lt;br /&gt;3. Pembimbing atau promotor&lt;br /&gt;4. Lembaga atau instansi tertentu tempat penulis mengadakan penelitian atau memperoleh informasi&lt;br /&gt;5. pimpinan perpustakaan tertentu yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi pustaka&lt;br /&gt;6. dosen-dosen dan lainnya yang telah memberikan tuntunan dan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Daftar Isi&lt;br /&gt;Out line atau daftar isi memuat secara rinci seluruh isi pokok-pokok karya ilmiah. Daftar Isi ini disususn secara spesifik tentang seluruh isi karya ilmiah dengan menunjukkan nomor isi yang bersangkutan dan  nomor halaman tiap item yang bersangkutan. Cara-cara penulisannya adalah sebagai berikut  :&lt;br /&gt;1. Bagian awal karya tulis ilmiah ditulis tanpa menggunakan nomor, dihubungkan dengan titik-tik hingga sambung dengan nomor halaman masing-masing isi. Nomor halaman bagian awal ini ditulis dengan angka romawi kecil.&lt;br /&gt;2. Karya tulis dengan berbahasa latin, kata ‘BAB’ atau ‘CHAPTER’ ditepi sebelah kiri, kemudian diikuti nomor bab dan judul bab. Selanjutkan dibawah judul bab dicamtumkan nomor dan judul-judul dari bagian bab. Untuk nomor halaman dicantumkan disebelah kanan yang dihubungkan dengan titik-titik dengan bagian yang diberi nomor.&lt;br /&gt;3. Karya tulis yang menggunakan bahasa Arab, kata ‘              ‘ dicantumkan ditengah-tengah diikuti dengan ‘         ‘, ‘              ‘, ‘            ‘, dan seterusnya. Judul bab ditulis dibawahnya. Selanjutnya bagian-bagian dari bab dicantumkan ditepi sebelah kanan beserta nomor-nomor bagian dengan sistem penomoran yang menggunakan huruf arab. Nomor Halamnan dicantumkan disebelah kiri dengan dihubungkan dengan titik-titik dengan bagian yang diberi nomor halaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i) daftar tabel&lt;br /&gt;Jika dalam karya ilmiah memuat lebih dari lima buah tabel, maka maka perlu dibuatkan daftar tabel tersendiri beserta nomor tabel dan nomor halaman. Daftar tabel ini juga dimasukkan dalam daftar isi.&lt;br /&gt;Kata ‘Daftar Tabel’ dicamtumkan di tengah-tengah halaman. Selanjutnya, judul-judul tabel dicantumkan secara berrutan dengan diberi nomor dengan diikuti nomor halaman yang memuatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j) Daftar  Ilustrasi/Gambar&lt;br /&gt;Jika dalam suatu karya ilmiah terdapat lebih dari lima gambar/ilustrasi seperti diagram, grafik, dan sebagainya, maka diperlukan daftar ilustrasi/gambar tersendiri. Cara penyusunannya seperti pada daftar tabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagian Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pendahuluan&lt;br /&gt;Isi Pendahuluan merupakan penjelasan-penjelasan yang erat sekali hubungannya dengan masalah yang dibahas dalam bab-bab. Penjelasan-penjelasan ini dapat dirinci sebagai berikut  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. alasan pemilihan problematika (pokok masalah). Alasan itu harus meyakinkan sehingga pokok masalah dapat dibahas lebih mendalam dalam sebuah karya ilmiah.&lt;br /&gt;2. perumusan masalah itu disertai latar belakangnya yang sesuai&lt;br /&gt;3. prosedur pemecahan masalah dijelaskan dengan menyebutkan metode-metode yang dipakai dan tata kerja yang akan ditempuh penulis. Lebih jelas langkah ini dibahas dalam sub bab, metodologi penelitian.&lt;br /&gt;4. sumber-sumber yang ada relevansinya dan dapat dipertanggungjawabkan untuk memecahkan masalah tersebut.&lt;br /&gt;5. Rangkuman karya tulis yang disusun secara singkat yang padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Bab.-Bab. Penguraian&lt;br /&gt;Uraian karya tulis itu harus memuat tafsiran-tafsiran, analisis terhadap data yang berhasil dikumpulkan dan sebagainya yang merupakan jawaban terinci atas persoalan yang berhubungan dengan pokok-pokok pembahasan penulis secara proporsional.&lt;br /&gt;Uraian tentang hal yang bersifat teoritis yang data-datanya diperoleh dari hasil penelitian kepustakaan ditempatkan pada permulaan penguraian masalah. Data-data serta analisisnya yang diperoleh melalui penelitian dibicarakan setelah itu. Dan yang terakhir adalah kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Kesimpulan&lt;br /&gt;Kesimpulan ditarik dari pembuktian atau dari uraian yang ditulis terdahulu dan bertalian erat dengan pokok masalah, dengan demikian tidak dapat dibenarkan apabila sesuatu yang dibahas dalam bab-bab penguraian diambil  dari kesimpulan.&lt;br /&gt;Kesimpulan bukanlah ikhtisar dari apa yang ditulis terdahulu. Ikhtisar dapat dilakukan, akan tetapi dengan tujuan untuk mencapai hubungan antara sekelompok data dan pokok masalah agar sampai kepada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Bab ini juga dapat memuat uraian yang menunjukkan proses pemikiran untuk sampai pada kesimpulan itu. Data atau informasi baru tidak dapat dimasukkan dalam bab kesimpulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagian Akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Semua sumber kepustakaan, baik berupa ensiklopedi, buku-buku, majalah atau surat kabar perlu disusun dalam daftar khusus yang diletakkan pada akhir karya ilmiah. Apabila di antara sumber-sumber kepustakaan itu ada yang bertulisan selain huruf latin, ditulis dengan transliterasinya. Untuk karya tulis berbahasa arab, daftar pustaka yang berhuruf selain Arab, ditulis dengan huruf latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Lampiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Isi lampiran&lt;br /&gt;Isi lampiran adalah hal-hal yang merupakan kelengkapan pembahasan, akan tetapi tidak mempunyai kaitan yang terlalu langsung dengan masalah yang dibahas, misalnya angket, tanda bukti penelitian, hasil wawancara, tabel-tabel perhitungan dan lain-lain.&lt;br /&gt;2.  Urutan Lampiran&lt;br /&gt;Urutan lampiran harus disusun sesuai dengan urutan antara masalah-masalah yang dibahas dalam tubuh karya tulis. Lampiran yang berhubungan dengan uraian masalah pada bab I lebih didahulukan daripada lampiran yang  yang berhubungan dengan Bab II, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN   V&lt;br /&gt;TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dimaksudkan memberi pedoman dalam rangka menjaga konsistensi bentuk dan tulisan yang berlaku di STAIN Samarinda. Sehingga, aturan ini lebih bersifat teknik-lokalitas sesuai dengan aturan yang berlaku di institusi yang bersangkutan.  teknik Penulisan ini terkait aturan beberapa hal antara lain : Penggunaan bahasa, Bentuk tulisan judul, jenis dan ukuran kertas, jumlah halaman, sistem kutipan, penomoran, transliterasi, catatan kaki, daftar pustaka, dan beberapa aturan teknik pengetikan terkait beberapa hal diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penggunaan Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bahasa yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah adalah bahasa Indonesia, inggris dan Arab. Penggunaan bahasa-bahasa tersebut haruslah baik dan benar sesuai kaidah bahasa yang baku. Yakni, dalam membahasakan isi sebuah karya tulis ilmiah harus disajikan dalam bahasa secara formal dan tepat, tidak berbeliti-belit dan langsung ke persoalan (to the point). untuk itu diperlukan bahasa yang lugas dan menggunakan ejaan yang benar. Tanda seperti koma, titik koma, titik, tanda seru dan sebagainya digunakan sebagaimana mestinya menurut ejaan bahasa yang sempurna. Adapaun tanda-tanda lain yang digunakan oleh penulis haruslah diberi keterangan maksud dan artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Bentuk Tulisan Judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Judul Karya Tulis dan Judul Bab.&lt;br /&gt; Judul karya tulis dan judul bab ditulis dengan huruf kapital semua tanpa titik dan tanpa garis bawah. Judul di tulis ditengah-tengah halaman bagian atas karya tulis dengan sistem tebal (Bold). Judul yang panjang disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Judul Sub-sub dan bagian-bagiannya&lt;br /&gt;Judul sub-bab dan bagian-bagiannya yang lebih kecil lagi ditulis dengan dengan kapitalisasi, Artinya, setiap huruf awal kata, kecuali partikel, seperti: ke, dalam, dari dan sebagainya, ditulis dengan huruf kapital. Pada karya tulis yang menggunakan bahasa Arab sebagai ganti kapitalisasi, dipakai garis bawah, yaitu untuk judul sub bab dan sub-sub bab saja. Dan bagian yang lebih kecil tidak diberi garis bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Jenis dan Ukuran Kertas&lt;br /&gt;  Kertas yang digunakan dalam penulisan karya tulis Ilmiah baik skripsi, tesis, disertasi, makalah, artikel jurnal dan bentuk karya lainnya di STAIN samarinda menggunakan kertas jenis HVS 80 miligram. Adapun kertas tersebut berukuran kuarto atau A4 210x297mm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Jumlah Halaman&lt;br /&gt; Jumlah halaman  Karya ilmiah tidak ada batasan tertentu. Namun, untuk konsistensi dan menjaga kualitas sebuah karya tulis ilmiah, skripsi misalnya, sekurang-kurangnya harus 50  (lima puluh) halaman bagi karya berbahasa Indonesia dan  40 halaman bagi karya  yang berbahasa asing ( Inggris dan Arab ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kutipan&lt;br /&gt;  Dalam penulisan karya ilmiah, secara garis besar terdapat 2 bentuk kutipan, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kutipan langsung&lt;br /&gt;Kutipan langsung adalah isi sebuah karya tulis ilmiah sebagai hasil pengutipan dari referensi asli dan langsung. Kutipan ini bentuknya sama dengan bentuk asli sebuah teks yang dikutip dalam hal susunan kata dan tanda bacanya. Kutipan  langsung sendiri ada beberapa bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)  Prosa&lt;br /&gt;Kutipan dalam bentuk prosa yang panjangnya tidak lebih dari lima baris dimasukkan sebagai bagian teks karya tulis dan dituliskan diantara tanda petik rangkap. Bila macam tulisan teks (Latin dengan Arab atau sebaliknya), maka dipisahkan dari teks dan diketik sedemikian rupa sehingga tidak melanggar norma penulisan ilmiah dan estetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Puisi&lt;br /&gt;  Kutipan yang berbentuk puisi yang terdiri dari satu baris dimaksukkan sebagai bagian dari teks karya tulis dan dituliskan diantara tanda petik rangkap. Adapun Puisi yang terdiri dari dua baris atau lebih dipisahkan penulisannya dari karya tulis, tanpa tanda petik rangkap sebelum dan sesudahnya. Termasuk dalam puisi ini adalah syair (    شعر) dalam bahasa arab dan juga kata-kata mutiara atau   حكم . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;Yang bertuliskan huruf latin   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku bicara pada-Mu, Tuhan&lt;br /&gt;Bukan mau mengadukan dera dan derita&lt;br /&gt;Tak kuharapkan kau berdiri di depan&lt;br /&gt;Ke dahiku mengulaskan tangan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bertuliskan Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Ayat Al Qur’an dan al Hadist&lt;br /&gt;Kutipan yang berasal dari beberapa ayat al Qur’an dan Hadist dituliskan dengan huruf Arab, sebagaimana aslinya. Caranya sama dengan yang disebutkan dalam prosa diatas. Bedanya, ayat-ayat al Qur’an yang dikutip perlu disebutkan  nama, nomor Surat dan nomor ayat yang dikutip pada akhir kutipan dengan bingkai tanda kurung biasa. Sedangkan kutipan yang berasal dari hadist harus dilengkapi dengan sanad dan rawinya dengan bingkai tanda kurung biasa pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh   :&lt;br /&gt;a. yang berasal dari ayat-ayat al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....... Diantara ciri-ciri orang yang taqwa itu ialah sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah dalam al Qur’an  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. contoh yang berasal dari Hadist&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;........ Zikrullah atau mengingat Allah SWT adalah cara yang efisien dalam mendekatkan diri kepadaNya, sebagaimana diterangkan dalam sabda Rasulullah  SAW  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Anotasi&lt;br /&gt;Bentuk kutipan langsung lain adalah anotasi. Anotasi adalah keterangan pendek yang dapat lebih memperjelas suatu pernyataan dalam karya tulis ilmiah. Kutipan ini dapat disisipkan sesudah kata-kata ungkapan kalimat yang diberi keterangan itu, dituliskan diantara tanda kurung besar jika kurang dari satu baris. Apabila anotasi itu sampai mencapai satu baris atau lebih, maka dituliskan sebagai catatan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Abu Ja’far  al Mansur (Khalifah kedua dari daulah Abbasiyah) memerintahkan Anas bin Malik untuk mengumpulkan semua Hadist yang ia ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Kalimat Elips&lt;br /&gt;Kalimat elips juga merupakan bentuk kutipan langsung yang sering ditemui dalam sebuah karya tulis ilmiah. Kalimat elips merupakan  kalimat yang bagian tertentunya  ada yang dibuang. Kutipan yang berbentuk kalimat elips dimasukkan dalam bagian teks  kecuali dituliskan diantara tanda petik rangkap dibatasi dengan tiga buah titik sebelum atau sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kalimat Elips yang Dibuang Bagian Akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalimat Elips yang dibuang bagian akhirnya, maka pengutipannya dengan cara kalimat yang dikutip dimasukkan ke dalam teks hingga bagian akhir yang ingin dikutip dengan ditambahkan tiga titik dibelakangnya, diantara bagian yang dikutip diapit dua tanda petik rangkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contoh :&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal-hal yang memperkuat pendidikan akhlak itu,  Prof. Dr. Ahmad berpendapat diantaranya bahwa, “yang lebih penting memberi dorongan kepada pendidikan akhlak ialah supaya orang mewajibkan dirinya melakukan perbutan yang baik.....”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;    Kalimat Elips yang dibuang bagian Awalnya&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kalimat Elips yang dibuang awalnya, tata cara pengutipannya sama dengan kalimat elips yang dibuang akhirnya. Bedanya, dibagian awalnya terlebih dahulu ditambah tiga titik dengan diapit tanda petik rangkap. Sebagai contoh adalah sebagai berikut  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat macam-macam hadist para ulama musthalah telah membaginya menjadi berpuluh-puluh macam. Sekalipun begitu “... semuanya berpokok pangkal pada pokok yang ketiga, yaitu sahih, hasan dan daif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Kalimat Elips yang dibuang Bagian Awal dan Akhirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para malaikat itu “... selalu taat menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Kalimat Elips yang dibuang Bagian Tengahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“malaikat ... selalu taat menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Interpolasi&lt;br /&gt;Karena kutipan langsung harus diambil tepat sama dengan aslinya, apabila terdapat kesalahan dalam sumber kutipan dapat dilakukan koreksi dengan menulis (sic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2.  Kutipan tak langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kutipan tidak langsung disini adalah kutipan yang hanya mengambil isinya saja, seperti saduran, ringkasan dan parafrase. Kutipan isi atau parafrase yaitu kutipan yang hanya mengambil isi atau maksud dari kalimat-kalimat yang ditulis dalam buku sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Teknik Pengetikan&lt;br /&gt;a. Karya tulis diketik berspasi dua. Margin (jalur pinggir kertas) selebar 4 cm pada tepi kiri bagi karya yang menggunakan bahasa latin dan kanan bagi yang berbahasa Arab,  3 cm untuk lajur sebelah kanan bagi karya berbahasa latin dan lajur sebelah kiri bagi karya berbahasa Arab,  4 cm untuk tepi sebelah atas dan 3 cm untuk lajur bawah. Semuanya lajur  tersebut haruslah dikosongkan.&lt;br /&gt;b. Setiap lembar kertas harus diketik pada satu halaman saja&lt;br /&gt;c. Pengetikan menggunakan komputer dengan bentuk font Times New Roman 12, Book Antiqua 12. Sedangkan bagi karya berbahasa arab menggunkan font Arabic Tradisional 14.&lt;br /&gt;d. Pada alinea baru, ketikan baru dimulai setelah tujuh indentasi (ketukan) dari garis margin.&lt;br /&gt;e. Antara teks dan catatan kaki ada batas berupa garis sepanjang empat belas ketukan tik dimulai dari garis margin kiri bagi karya yang tulis yang berhuruf latin dan dari margin kanan bagi karya tulis yang berhuruf Arab.&lt;br /&gt;f. Nomor catatan kaki diketik setelah tujuh ketukan tik dari garis margin, sama dengan awal alinea baru jaraknya. Nomor ini diangkat sedikit ke atas garis biasa dan tidak diberi titik. Baris pertama dari catatan kaki diketik sesudah nomor tersebut tetapi pada baris biasa, sedangkan baris kedua dan seterusnya dimulai dari garis margin dan diketik berspasi satu bagi yang bertulisan latin dan satu setengah bagi yang bertulisan Arab.&lt;br /&gt;g. Bila dalam satu halaman terdapat lebih dari satu catatan kaki, maka jarak antara catatan kaki satu dengan catatan kaki yang lain adalah dua spasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Abdurrahman Wahid, ‘Pesantren Sebagai Sub Kultur”, dalam M. Dawam Raharjo (editor), Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1995,  Halaman 39-60.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1982, Halaman 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Suatu catatan kaki tidak boleh dilanjutkan ke halaman berikutnya.&lt;br /&gt;i. Catatan kaki harus diketik pada halaman yang sama dengan teks yang diberi catatan kaki itu.&lt;br /&gt;j. Catatan kaki pada halaman teks yang tidak penuh tetap diketik pada bagian bawah halaman itu.&lt;br /&gt;k. Judul buku dan nama sumber lainnya, singkatan seperti ibid, op.cit, loc.cit dalam catatan kaki diketik miring. Demikian juga kata-kata asing yang masih mengikuti ejaan aslinya.&lt;br /&gt;l. Dalam memotong kata pada akhir baris harus dihindari pemotongan suku kata yang terdiri dari satu huruf, seperti : memula-i, apabila dan sebagainya. Suatu bilangan bernama tidak boleh dipotong, seperti : Rp. 5000, pukul 12. 00 WITA dan sebagainya. Bila nama itu di tulis setelah nama bilangan dan bukan singkatan, pemisahan boleh dilakukan, seperti : 10 kilometer, 15 rupiah dan sebagainya.&lt;br /&gt;Demikian juga inisial nama orang tidak boleh dipisahkan dari nama keseluruhan, seperti : H.A. Agus Salim, R.A. kartini dan sebagainya.&lt;br /&gt;m. Dalam tulisan Arab tidak dibenarkan adanya pemenggalan kata, termasuk kata ganti yang berhubungan dengan kata yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sistem penomoran&lt;br /&gt;a. Halaman-halaman dari bagian awal, nomor halamannya berupa angka romawi kecil, seperti: i,ii,iii, dan seterusnya. Dimulai dari halaman pengantar dan diletakkan ditengah bagian bawah halaman bagi yang bertulisan latin. Pada karya tulis yang bertulisan Arab, angka romawi kecil diganti dengan abjad Arab, seperti :       ,       ,       ,         ,         ,         dan sebagainya.&lt;br /&gt;b. Bagian teks, dari bagian penmdahuluan dan seterusnya, nomor halamannya berupa angka : 1, 2, 3 dan seterusnya bagi yang bertulisan latin dan angka Arab bagi yang bertulisan Arab. Nomor tersebut ditulis pada sudut kanan bawah untuk tiap halaman pertama dari masing-masing bab bagi yang bertulisan latin dan sudut kiri bawah bagi yang bertulisan Arab. Nomor 2 dan seterusnya ditulis disudut kanan atas bagi yang bertulisan latin dan kiri atas bagi yang bertulisan arab.  &lt;br /&gt;c. Bab di beri nomor dengan angka romawi besar seperti : BAB I, BAB II, BAB III dan seterusnya diletakkan ditengah atas judul bab bagi yang bertulisan latin. Sedangkan bagi yang beretulisan arab, bab itu ditulis penuh dengan huruf arab seperti  :                           dan seterusnya.&lt;br /&gt;d. Untuk penomoran digunakan sistem kombinasi antara angka romawi, angka arab, dan huruf latin. Bagi karya yang menggunakan huruf latin, maka urutan penomorannya itu ialah : angka romawi besar untuk nomor bab, dan huruf kapital, untuk sub-sub bab menggynakan angka secara bergantian.&lt;br /&gt;e. Judul bab ditulis ditengah, baris pertama, kedua dan selanjutnya diketik ke margin pertama lagi. Judul sub-sub dimulai pada margin pertama dan judul sub-sub bab ditulis pada margin keempat,  seperti contoh di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;ISLAM DAN PEMBENTUKAN KELUARGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian, Sumber, dan Pokok-pokok Ajaran Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengertian dan Sumber Ajaran Islam&lt;br /&gt;a. al Qur’an&lt;br /&gt;1)  As Sunnahf&lt;br /&gt;a) .....................&lt;br /&gt;(1) ......................&lt;br /&gt;(a) .....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pokok-pokok Ajaran Islam&lt;br /&gt;1. Pengertian Iman&lt;br /&gt;a. ......................&lt;br /&gt;1) .................&lt;br /&gt;a) ................&lt;br /&gt;2. Pengertian Islam&lt;br /&gt;a. ......................&lt;br /&gt;1) .................&lt;br /&gt;a) ................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengertian Ihsan&lt;br /&gt;a. ......................&lt;br /&gt;1) .................&lt;br /&gt;a) ................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Karya tulis yang menggunakan bahasa Arab, maka urutan penomorannya itu ialah  : untuk bab dipakai bilangan tingkat (bahasa arab) yang ditulis dengan huruf. Untuk sub-sub dipakai abjad arab, suntuk sub sub bab dipakai angka arab dan seterusnya. Juga, judul-judul sub-sub, sub-sub bab diberi garis bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA DUA HALAMAN ARAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Nomor kutipan atau catatan kaki pada masing-masing bab ditulis berturut-turut sampai akhir bab dan dimulai dengan nomor satu.&lt;br /&gt;g. Nomor tabel atau ilustrasi ditulis dengan angka. Pada daftar  tabel atau ilustrasi nomor disusun secara berurutan kebawah (lihat lampiran)&lt;br /&gt;h. Bilangan-bilangan dalam  teks yang terdiri dari 1 atau 2 kata ditulis penuh dengan huruf. Bilangan yang lebih dengan dua angka ditulis dengan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Persen, tanggal, nomor rumah, nomor telpon, jumlah uang, pecahan desimal dan disertai dengan singkatan selalu ditulis dengan angka, seperti: 5 %, 7 April, Jalan Angrek nomor 7, telepon 741925, Rp.8,00, 0,04, 8m, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kalimat tidak boleh dimulai dengan angka. Untuk menghindari itu susunan kalimat harus diubah. Kalau terpaksa kalimat itu tidak dapat diubah susunannya, maka angka itu ditulis penuh dengan huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nama Pengarang dalam Daftar Pustaka&lt;br /&gt;a. Daftar pustaka atau bibliografi disusun mulai nama             pengarang dan diurutkan mengikuti huruf abjad. Dengan nama pengarang juga dimaksud nama badan, lembga, panitia, dan sebagainya, yang menyusun karanagn itu. Kalau nama pengarang itu tidak ada, yang diambil adalah kata pertama dalam judul itu.&lt;br /&gt;b. Kalau ada dua karangan atau lebih berasal dari seorang  pengarang, nama pengarang cukup dicantumkan satu kali, lainnya cukup dignti dengan garis sebanyak tujuh indentasi (ketuk) dari garis margin.&lt;br /&gt;c. Bentuk keteranag dalam daftar pustaka hampir sama dengan catatan kaki.&lt;br /&gt;d. Nama pengarang diketik mulai dari margin kiri bagi yang bertulis Latin dan margin kakan bagi yang bertulis dengan huruf Arab,  baris kedua dan seterusnya diketik setelah empat pukulan tik dari garis margin dengan spasi satu&lt;br /&gt;e. Gelar kebangsawaanan dan Akademik dicantuimkan dan diletakkan di bagian nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;               Prof.Dr.Andi Hakim Nasution&lt;br /&gt;Menjadi :&lt;br /&gt; Nasution,   Andi Hakim, Prof.Dr.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Nama buku menggunakan kapitalisasi, dengan urutan selanjutnya sama dengan catatan kaki tetapi tidak menggunakan tanda kurung.&lt;br /&gt;f    Ada dua sumber pustaka jaraknya dua spasi.&lt;br /&gt;g   Daftar pistaka tidak menggunakan nomor urut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Transliterasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Yang dimaksud dengan transliterasi disini ialah trasliterasi dari tulisan huruf Arab ke tulisan Latin. Petunjuk ini diperlukan terutama bagi mereka yang dalam teks karya tulisnya ingi menggunakan beberapa istilah Arab yang belum dianggap sebagai kata bahadsa Indonesia, atau masih terbatas penggunaannya. Istilah dimaksud seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ingin menyebutkan nama lembaga yang menggunakan huruf Arab,  seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau nama orang tau judul buku yang aslinya ditulis dengan tulisan Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Mengenai trasliterasi ini digunakan sebagai pedoman keputusan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kutipan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa prinsip mendasar yang perlu dicermati terkait dengan kutipan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut  :&lt;br /&gt;a. Kutipan yang panjangnya kurang tiga baris dimasukkan ke dalam teks dan diberi tanda petik rangkap pada awal dan akhir kutipan.&lt;br /&gt;b. Kutipan yang panjangnya enam baris atau lebih diketik berspasi satu bagi karya tulis yang ditulis dengan huruf latin dan berspasi satu setengah bagai karya tulis yang dengan huruf Arab, dengan mengosongkan empat pukulan tik dari garis margin sebelah kiri bagi karya tulis berhuruf latin dan margin sebelah kanan bagi karya tulis berhuruf Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;Yang bertuliskan latin  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini didukung Zamakhsyari Dhofier dalam makalah ‘Kultur Pesantren dalam Perspektif Masyarakat Modern‘ yang disampaikan dalam pertemuan cendekiawan muslim di Jakarta pada 26–28 Desember 1984 sebagai berikut :&lt;br /&gt;…Kaum intelektual muslim di kota-kota selama ini tenggelam dalam alam pikiran bahwa pondok-pondok pesantren sulit untuk di ajak berdialog dan sulit di ajak maju. Kita selama ini hanya bisa mengkritik bahwa pondok pesantren bersifat tradisional, kolot dan resistant terhadap perubahan. Gerakan-gerakan yang dimunculkan kalangan pesantren baik tahun 1926, tahun 1953 maupun yang terjadi saat ini di Situbondo (tahun 1984) seringkali dianggap sebagai suatu penarikan diri atau selalu bersikap political apathy &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berbahasa Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika dalam kutipan terdapat alinea baru, maka alinea baru itu tetap dimulai setelah tujuh indentasi (ketukan) tik dari garis margin. Apabila perlu menyisipkan sesuatu dalam kutipan, maka dipergunakan tanda kurung besar [ ...... ] . tanda kurung ini biasanya tidak terdapat pada mesin tik dan oleh karena itu haruslah ditulis dengan pena yang bertinta hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kalau dalam kutipan terdapat tanda petik rangkap, maka tanda petik itu harus diubah menjadi tanda petik tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Disertasi Abdurrahman Mas’ud, The Pesantren Architects and Their Sosio Relegious Teaching , UCLA, AS, 1997, halaman 32 disebutkan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Traditional” is not necessarily intellectually conservative, as has been proven by the steadfast tradition of the islamic quest, namely the santri thirst for knowledge. The function of Islamic teaching at the hands of the ‘ulama’ shows that the intellectual dynamism in the community remained in essence, uninterrupted, throughout the centuries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan menjadi  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Disertasi Abdurrahman Mas’ud, The Pesantren Architects and Their Sosio Relegious Teaching , UCLA, AS, 1997, halaman 32 disebutkan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Traditional’ is not necessarily intellectually conservative, as has been proven by the steadfast tradition of the islamic quest, namely the santri thirst for knowledge. The function of Islamic teaching at the hands of the ‘ulama’ shows that the intellectual dynamism in the community remained in essence, uninterrupted, throughout the centuries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kata-kata yang tidak bergaris dalam sumber aslinya tetapi oleh pengutip diberi garis bawah, maka perlu ditambahkan catatan “diberi garis bawah” dalam kurung besar sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Kutipan Asli:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pada tahun 2005,  penduduk Kota Samarinda berjumlah 1,2 juta jiwa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Kutipan itu menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pada tahun 2005,  penduduk Kota Samarinda berjumlah 1,2 juta jiwa” (diberi garis bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tiap kutipan diberi nomor pada akhir kutipan. Nomor itu diangkat sedikirt diatas baris biasa (lihat kutipan-kutipan pada contoh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan catatan kaki disini adalah catatan pada bagian bawah teks yang menyatakan sumber suatu kutipan, pendapat atau keterangan penyusun mengenai sesuatu hal yang diuraikan dalam teks. Cara penulisan catatan kaki yang berasal dari berbagai sumber pada dasarnya sama, yaitu secara berurutan : nama pengarang, koma, judul buku, koma, kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit, kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, jilid dan nomor halaman.&lt;br /&gt; Nama buku diketik miring (italic) atau huruf tebal (bold). Halaman disingkat dengan hal., bagi yang bertulisan latin dan  dengan          ص  bagi yang bertulisan Arab ( singkatan dari  صفحة  )&lt;br /&gt; Nama pengarang ditulis sesuai dengan yang tercantum dalam buku karangannya. Pangkat dan gelar tidak perlu dicantumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun begitu, ada sedikit perbedaan mengingat sumber-sumber yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contohnya  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jurji Zaydan, Tarikh al Tamaddun al Islami, (Kairo: Dar ul Hilal, 1968), vol. I, hal.. 36-37.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Jalaludin Rahmat, Islam Alternatif: Ceramah-Ceramah di Kampus, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 65.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pengarang terdiri dari dua orang, maka harus dicantumkan keduanya.&lt;br /&gt; E.L Thorndike and Clarence L. Barnhart, Advanceu Junior Dictionary, (NewYork : Doubleday and Company, Inc., 1965), Hal.  257.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pengarang suatu buku lebih dari dua orang, hanya disebutkan nama pengarangnya yang pertama dan setelah tanda koma dituliskan et.al (dengan ketikan miring). Singkatn itu merupakan kepanjangan dari et alii (berarti : dengan orang lain), dan untuk kata-kata yang  berbahasa Arab digunakan istilah  ن و واخر&lt;br /&gt; J.S. Colemen, et.al., E.L Thorndike and Clarence L. Barnhart, Advanceu Junior Dictionary, (NewYork : Doubleday and Company, Inc., 1965), Hal.  257.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dua sumber atau lebih pengarangnya sama, jika ingin menyebutkan lagi sumber yang terdahulu harus dicantumkan nama pengarang dan diikuti dengan nama buku yang dimaksud. Disini digunakan istilah op.cit, (dalam bahasa arab    المرجع السابع ) atau loc. Cit  ( dalam bahasa arab  نفس المكان ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Noeng Muhadjir, (Yogyakarta:  Rake Sarasin, 2000) , Edisi IV, ,Hal. 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2Anton Bekker dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta:  Kanisius, 1990), Hal. 61.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif,  Op. Cit., Hal. 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Raja Grafindo Persada, 1996, Hal. 134.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5Anton Bekker dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Loc. Cit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam tulisan Arab sebagai berikut  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatan op.cit dan loc. Cit atau نفس المكان ., seperti diatas jika pada halaman yang sama, apabila buku itu berjilid dan yang digunakan lebih dari satu jilid, maka bila ingin lagi menyebut sumber yang terdahulu harus dicantumkan nama pengarang dan nomor jilidnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan karangan yang dirangkum oleh editor, jika didalamnya tercatat penulisnya, maka yang dicantumkan dalam catatan kaki adalah nama penulis, judul tulisan dengan tanda petik tunggal, koma, dalam, nama editor, dalam kurung ed., nama buku, koma dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Mahfudz Junaidi, “Konsep Tujuan Pendidikan Dalam Prespektif Al-Our’an”, dalam Isma’il SM, et.al. (editor), Paradigma Pendidikan Islam, (Jogjakarta, Kerjasama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo - Pustaka Pelajar, 2001), Hal. 196-197.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nama penulis tidak tercantum, maka hanya disebutkan nama editornya ditambah dalam kurung ed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Alfian (ed.), Segi-segi Sosial Masyarakat Aceh, (Jakarta, LP3ES, 1977), Hal. 129.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dalam sumber yang dikutip tidak tercantum nama pengarangnya, yang dianggap dan dicantumkan sebagai pengarang adalah badan, lembaga, perkumpulan dan sebagainya yang menerbitkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pemerintah Daerah Samarinda, Badan Amil Zakat, Infaq dan Sadaqah (Bazis), Pokok-pokok Pendayagunaan Zakat Fitrah Produktif, (Samarinda, 2001), Hal. 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kutipan ayat atau ayat-ayat Al Qur’an tidak diperlukan catatan kaki karena nama dan nomor surah serta nomor ayat telah dituliskan pada akhir ayat yang dikutip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari Terjemahan al Qur’an atau tafsir, Hadist atau Terjemahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Catatan kaki untuk hal-hal ini sama dengan sumber yang berasal dari buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. dari Majalah&lt;br /&gt;                Majalah yang bertulis Latin maupun Arab pada prinsifnya sama dengan kutipan yang berasal dari buku. Bedanya, kalau dari majalah, nama judul artikel dituliskan diantara tanda petik rangkap dan nama majalah diberi garis bawah, diikuti volume, koma, nomor, kurung buka, bulan, koma, tahun, kurung tutup, koma, dan nomor halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  Richard Thomas,  “Menguak Abad Baru Hijrah di Eropa”, Panji Masyarakat, XII, 314 (Pebruari, 1981), Hal. 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dari Surat Kabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Hanya menuliskan judul tulisan atau rublik, surat kabar (diberi garis bawah), tempat terbit dalam kurung, tanggal, dalam tahun terbit, dan diakhiri dengan nomor halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Rencana Undang-undang Pendidikan Nasional, Kompas, (Jakarta), 5 September 1988, Hal. 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Kalau kutipan diambil dari artikel dengan nama yang jelas pada suatu surat kabar, catatn kaki dimulai nama pengarang dan judul artikel diapit tanda petik rangkap.&lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;     Contoh :&lt;br /&gt;                        Ridwan Malik,”Pembiayaan Kesehatan di Indonesia”, Kompas (Jakarta), 6 September 1988, Hal. 4 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dari karangan yang Tidak diterbitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Karangan yang tidak diterbitkan dapat berupa skripsi, tesis, atau desertasi. Cara mengutipnya adalah disebutkan nama pengarangnya, judul karangan yang ditulis diantara tanda petik rangkap, disebut skripsi, tesis atau desertasi, kurung buka, nama tempat penyimpanan, kurung tutup, dan halaman tidak diterbitkan yang disingkat dengan t.d. (              )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. dari Wawancara&lt;br /&gt;                Disebutkan secara berurutab wawancara dengan siapa, identitasnya, tempat, bentuk wawancara,dan tanggal wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Rahmad Hidayat, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Samarinda, Wawancara Pribadi,  Samarinda, 4 Desember 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. dari Ensiklopedi&lt;br /&gt;                Disebutkan nama editornya yang disingkat dengan ed. (diberi garis bawah), nama entrinya ditulis diantara tanda petik rangkap, nama ensiklopedi dan garis bawah, nama tempat dan tahun penerbitan, serta nomor halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   H.A.R.Gibb dan J.H. Kramers, (ed), “Khamr”, Shorter Enciclopedia of Islam, (Leyden : Brill, 1987), Jilid 3, Hal. .234&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Singkatan-Singkatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Singkatan-singkatan yang dimaksud diatas ada dua macam, yaitu ada yang biasa digunakan dalam teks dan ada yang khusus digunakan dalam menuliskan catatan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Singkatan yang lazim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam teks digunakan singkatan-singkatan yang lazim, baik yang bertuliskan latin maupun arab. Pada umumnya, dalam tulisan arab singkatan-singkatan jarang dijumpai, tetapi terkadang kita menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh   :&lt;br /&gt;Dalam teks bertuliskan latin, kita biasa menemukan singkatan lazim seperti di bawah ini  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatan Kepanjangan dari  :&lt;br /&gt;SWT        &lt;br /&gt;SAW &lt;br /&gt;As &lt;br /&gt;H &lt;br /&gt;M &lt;br /&gt;S.M.&lt;br /&gt;W &lt;br /&gt;Q.S&lt;br /&gt;m &lt;br /&gt;km &lt;br /&gt;gr &lt;br /&gt;kg &lt;br /&gt;Rp.    Subhanahu wata’ aala&lt;br /&gt;Shollallahu a’laihi Wa Sallam&lt;br /&gt;‘Alaihi Wa Sallam&lt;br /&gt;Hijriyah&lt;br /&gt;Masehi&lt;br /&gt;Sebelum Masehi&lt;br /&gt;Wafat&lt;br /&gt;Quran Surah&lt;br /&gt;meter&lt;br /&gt;Kilometer&lt;br /&gt;gram&lt;br /&gt;Kilagram&lt;br /&gt;Rupiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Singkatan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan singkatan khusus adalah singkatan yang laz imnya dipakai dalam menuliskan catatan-catatan kaki, karena catatan kaki tidak selalu dituliskan lengkap seperti dalam contoh-contoh di atas, kecuali untuk yang pertama kalinya. Singkatan dimaksud misalnya : ibid, dari ibidum, loc.cit. dari loco citato, op.cit. dari opere citato, et.al dari et alii, ed. Dari editor.&lt;br /&gt;Ada singkatan lain yang dapat digunakan seperti np. dari no place                 (           ), tanpa tempat (tt), nd. Dari no date,              (          ) , tanpa tahun (tth.), n.pb. dari no publisher,                  (     ), tanpa penerbit (tpn), j. Dari jilid, vpl. Dari volume,       dari .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN  VI&lt;br /&gt;SYARAT, STATUS, WEWENANG DAN KEWAJIBAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyusunan skripsi, masiswa dibimbing seorang Pembimbing dan Asisten Pembimbing yang memiliki keahlian dan kosentrasi yang sesuai dengan judul penelitian bimbingannya serta mempunyai kopetensi metodologi dan kemampuan subtantif dengan masalah penelitian yang diangkat. Pembimbing dan asisten pembimbing tersebut, di SK kan oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda.&lt;br /&gt;Yang berhak diangkat Pembimbing dan Asisten Pembimbing adalah dosen tetap maupun dosen luar biasa yang memenuhi persyaratan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Syarat – syarat  Pembimbung &lt;br /&gt;1. Pembimbing Skripsi&lt;br /&gt;Pembimbingan skripsi mahasiswa STAIN Samarinda dilakukan oleh seorang pembimbing dan Asisten Pembimbing. Adapun syarat-syarat seorang pembimbing dan asisten pembimbing  adalah sebagai berikut  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Pembimbing I :&lt;br /&gt;a.  Memiliki SK yang di terbitkan oileh Ketua Dekolah Tinggi  Agama Islam   Negeri Smarinda sebagai Pembimbing&lt;br /&gt;b.  Memiliki Jabatan Akademik serendah-rendahnya Lektor bagi yang berpendidikan Sarjana (S1)&lt;br /&gt;c. Memiliki Jabatan Akademik Asisten Ahli bagi yang  berpendidikan Pasca Sarjana (S2/S3)&lt;br /&gt;d.   Memiliki pengalaman menyusun dan membimbing skripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Pembimbing II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memiliki SK yang diterbitkan oleh Ketua Sekolah Tinggi AgamaIslam Negeri (STAIN) Samarinda sebagai asisten Pembimbing&lt;br /&gt;b. Memiliki jabatan akademik Asisten Ahli bagi yang berpendidikan        Sarjana (S1)&lt;br /&gt;c.   Memiliki kemampuan metodologi dan Teknik penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pembimbing  Tesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pembimbing tesis adalah dosen yang memenuhi syarat sebagai dosen yang berpangkat profesor, dosen berpangkat serendah-rendahnya lektor madya tetapi berijazah magister atau doktor dengan pangkat serendah-rendahnya asisten ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembimbing Disertasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pembimbing Disertasi adalah minimal doktor berpangkat lektor ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jumlah Pembimbing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pembimbing skripsi, tesis dan disertasi masing-masing dua orang. Mereka adalah pembimbing dan Asisten pembimbing Pembimbing membimbing materi dan Asisten pembimbing membimbing teknik penulisan dan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Status Pembimbing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembimbing karya tulis mempunyai status sebagai berikut   :&lt;br /&gt;1. sebagai pemegang otoritas tertinggi untuk menyatakan sahnya karya tulis.&lt;br /&gt;2. Tanda tangan pembimbing merupakan bukti bahwa penyusunan karya tulis sudah mendapatkan bimbingan sesuai prosedur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Wewenang Pembimbing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembimbing karya tulis mempunyai wewenang sebagai berikut  :&lt;br /&gt;1. Ikut serta mempertimbangkan topik yang diusulkan penulis karya tulis&lt;br /&gt;2. mengembalikan tugas bimbingan ke jurusan atau fakultas jika terjadi hal-hal yang menyebabkan tidak dapat terlaksananya bimbingan.&lt;br /&gt;3. Dapat mengusulkan tambahan pembimbing jika masalah yang dibahas dalam karya tulis menyangkut juga bidang diluar keahliannya (kecuali tesis dan disertasi).&lt;br /&gt;4. menjadi anggota panitia sidang ujian karya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kewajiban Pembimbing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembimbing karya tulis berkewajiban  :&lt;br /&gt;1. memberikan bimbingan kepada mahasiswa penulis karya tulis sesuai dengan ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;2. mencatat tanggal dan bentuk konsultasi bimbingan dalam formulir yang disediakan setiap kali melakukan bimbingan, minimal 10 kali bimbingan.&lt;br /&gt;3. memberikan nilai terhadap karya  tulis yang telah dibimbingnya.&lt;br /&gt;4. bertindak sebagai penguji dalam sidang munaqasah/ promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Tugas Pembimbing I dan dan  Pembimbing II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari perbedaan persepsi pembimbing dan Asisten Pembimbing dalam melaksanakan tugasnya, maka Pembimbing dan Assisten Pembimbing memiliki tugas yang berbeda.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;     Tugas Pembimbing I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menyerahkan mahasiswas bimbingannya dalam seminar proposal&lt;br /&gt;b. Berhak menyatakan lulus atau tidak lulus dalam seminar proposal bagi mahasiswa yang tidak layak lulus&lt;br /&gt;c.  Memberikan bimbingan maksimal 5 (lima) kali untuk satu orang mahasiswa&lt;br /&gt;d. Mengarahkan Mengoreksi dan membimbing skripsi mahasiswa minimal meliputi isi, tiori dan substansi penelitian.&lt;br /&gt;e. Memberikan penilaian kepada mahasiswa bimbingannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Pembimbing II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengarahkan mahasiswa bimbingannya dalam seminar proposal&lt;br /&gt;b. Memberikan bimbingan minimal 10 (sepuluh) kali untuk satu orang mahasiswa, dibuktikan dengan kartu konsultasi kecuali bagi mahasiswa yang dianggap mampu menurut pembimbing dan Asisten pembimbing.&lt;br /&gt;c. Mengarahkan, mengoreksi dan membimbing skripsi mahasiswa minimal meliputi metodologi penelitian, bahasa, tata letak dan sebagaimana yang berkaitan dengan sistem dan teknis penulisan karya ilmaiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Contoh halaman sampul dan halaman judul (dengan huruf Latin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PESANTREN&lt;br /&gt;(Studi di Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin Kabupaten Dunia Akherat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA : ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;NIM  : 00.0111.0001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JURUSAN TARBIYAH&lt;br /&gt;PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM&lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SAMARINDA&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Contoh halaman sampul dan halaman judul (dengan huruf Arab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Contoh halaman persetujuan pembimbing (dengan huruf Latin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN PERSETUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PESANTREN&lt;br /&gt;(Studi di Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin Kabupaten Dunia Akherat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA : ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;NIM  : 00.0111.0001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dibimbing dan disetujui untuk dimunaqasahkan di Depan Penguji Jurusan Tarbiyah Sekaloh Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samarinda, 10 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembimbing I   Pembimbing II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. H. Likulli Zaman, MA            Drs. Muhammad Abduh, M.Ag.           NIP. 150. 111. 105  NIP. 150 112. 104&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui,&lt;br /&gt;Ketua Jurusan Tarbiyah&lt;br /&gt;STAIN Samarinda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dra. Hj. Noor Thaibah, M.Ag.&lt;br /&gt;       NIP. 150 245 648&lt;br /&gt;4. Contoh halaman persetujuan pembimbing (dengan huruf Arab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Contoh halaman pengesahan (dengan huruuf Latin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN PENGESAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PESANTREN&lt;br /&gt;(Studi di Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin Kabupaten Dunia Akherat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA : ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;NIM  : 00.0111.0001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S.1) pada jurusan Tarbiyah&lt;br /&gt;Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda&lt;br /&gt;Pada Tanggal  25 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUSUNAN TIM PENGUJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs.H.M. Said Husin, MA   (ketua Tim)               ...............................&lt;br /&gt;Prof. Dr. H.A. Fahmy Arief, MA  (Penguji Utama)    ...............................&lt;br /&gt;Zurqoni, M.Ag    (Penguji I)                   ...............................&lt;br /&gt;Wahdanunnisa, M.Ag.  (Penguji II)                   ..............................&lt;br /&gt;Ahmad Muthohar, S.Pd.I (sekretaris)                   .. ............................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samarinda, 25 Agustsus 2005&lt;br /&gt;Ketua STAIN Samarinda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. H.A. Fahmy Arief, MA &lt;br /&gt;NIP. 150 198 185&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(pengesahan wajib distempel lembaga).&lt;br /&gt;6. Contoh halaman pengesahan (dengan huruf Arab)&lt;br /&gt;. Contoh daftar isi (dengan huruf Latin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL   .............................................................................    i&lt;br /&gt;HALAMAN PERSETUJUAN ...............................................................    ii&lt;br /&gt;HALAMAN PENGESAHAN ..............................................................   iii&lt;br /&gt;HALAMAN PERSEMBAHAN ...........................................................    iv&lt;br /&gt;MOTTO ...................................................................................................    v&lt;br /&gt;ABSTRAK ...............................................................................................   vi&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR ..........................................................................    vii&lt;br /&gt;DAFTAR ISI  .......................................................................................... viii&lt;br /&gt;DAFTAR TABEL ...................................................................................    ix&lt;br /&gt;DAFTAR ILUSTRASI/GAMBAR .......................................................     x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  I :     PENDAHULUAN&lt;br /&gt;B. Latar Belakang Masalah  .....................................     1&lt;br /&gt;C. Rumusan Masalah ..............................................      8&lt;br /&gt;D. Definisi Operasional ...........................................      9    &lt;br /&gt;E. Alasan Pemilihan Judul .....................................    12&lt;br /&gt;F. Tujuan Penelitian ................................................    15&lt;br /&gt;G. Kegunaan Penelitian ...........................................    16&lt;br /&gt;H. Telaah Pustaka ....................................................    17&lt;br /&gt;I. Metodologi Penelitian .......................................     23&lt;br /&gt;J. Sistematika Penulisan .........................................    28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II : PESANTREN DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULIM&lt;br /&gt;A. Pengertian Pesantren  .........................................    30&lt;br /&gt;B. Sistem Pendidikan Pesantren ............................    36&lt;br /&gt;C. Pengertian Kurikulum ......................................     58&lt;br /&gt;D. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum ..     65&lt;br /&gt;E. Gambaran Kurikulum Pondok Pesantren  .....     75&lt;br /&gt;F. Faktor-faktor Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt; Pesantren .............................................................     81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III :   GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN RABB AL ‘ALAMIN KABUPATEN DUNIA AKHERAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sejarah Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ....    83&lt;br /&gt;B. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin ...................................................    88&lt;br /&gt;C. Gambaran Kurikulum Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin ....................................................   97&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB   IV : MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PESANTREN RABB AL ‘ALAMIN KABUPATEN DUNIA AKHERAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Model Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin;&lt;br /&gt;sebuah cita-cita luhur ....................................... 101&lt;br /&gt;B. Aspek-aspek Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ................ 120&lt;br /&gt;C. Strategi Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ................ 134&lt;br /&gt;D. Faktor-Faktor Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;        Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ............... 150&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V :    PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan ........................................................ 152&lt;br /&gt;B. Saran .....................................................................154&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 156&lt;br /&gt;DAFTAR RIWAYAT HIDUP .............................................................  158&lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................  160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Contoh daftar isi (dengan huruf Arab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Contoh daftar tabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jawaban Responden tentang peran Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin dalam menentukan Kurikulum .................. 161&lt;br /&gt;2. Jawaban Responden tentang Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;di Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin .................................... 162&lt;br /&gt;3. Jawaban Responden tentang Kesesuaian materi yang&lt;br /&gt;diajarkan dengan Kurikulum Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin .......................................................................... 163&lt;br /&gt;4. Jawaban Responden tentang evaluasi pembelajaran&lt;br /&gt;di Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin .................................... 164&lt;br /&gt;5. Jawaban Responden tentang Usaha-usaha dalam&lt;br /&gt;melaksanakan Kurikulum di Pondok Pesantren&lt;br /&gt; Rabb al ‘Alamin...........................................................................166&lt;br /&gt;6. Jawaban Responden tentang Materi, metode, waktu,&lt;br /&gt;dan Kondisi yang merupakan Faktor penentu&lt;br /&gt;Keberhasilan Kurikulum Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin ...........................................................................167&lt;br /&gt;7. Jawaban Responden tentang Peran Kyai&lt;br /&gt;dalam dalam pelaksanaan Kurikulum Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin .......................................................................... 168&lt;br /&gt;8. Jawaban Responden tentang aktivitas Santri&lt;br /&gt;dan Pengaruhnya terhadap Keberhasilan Prestasi&lt;br /&gt;Belajar di Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ....................... 169&lt;br /&gt;9. Jawaban Responden tentang Ketersediaan kitab/Buku&lt;br /&gt;dan Pengaruhnya dalam menentukan Keberhasilan&lt;br /&gt;Prestasi Belajar Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin ..........................................................................170&lt;br /&gt;10.  Jawaban Responden tentang Kecenderungan Santri&lt;br /&gt;dalam memilih mata Pelajaran di Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin ...........................................................................171&lt;br /&gt;11. Jawaban Responden tentang Kecenderungan Santri&lt;br /&gt;12. dalam memilih model pembejaran formal dan non formal&lt;br /&gt;13. dalam Kurikulum Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin .........173&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Contoh daftar ilustrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Daftar Data Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ................... 174&lt;br /&gt;5. Daftar Struktur Organisasi Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin............................................................................175&lt;br /&gt;6. Daftar Komposisi Kitab Pondok Pesantren&lt;br /&gt;Rabb al ‘Alamin ...........................................................................176&lt;br /&gt;7. Program Kerja Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin ...............178&lt;br /&gt;8. Keadaan Pengasuh Pondok Pesantren Rabb al ‘Alamin .......179&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Contoh daftar pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin, Imron, Kepemipinan Kyai; Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng, Kalimah Syahadat Press Cet, Malang 1993.&lt;br /&gt;Azizy, A. Qodry, Implementasi Pendidikan Berbasis Pada Kebutuhan Masyarakat; Melongok Sistem Pesantren, Makalah (tidak diterbitkan), WRI IAIN Walisongo  tanggal 23 November 2002.&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Logos, 1999.&lt;br /&gt;Bawani, Imam, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam, Studi tentang Daya Pesantren Tradisional, Al-Ikhlas, Surabaya, 1992.  &lt;br /&gt;Bekker, Anton, Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1990.&lt;br /&gt;Bruinessen, Martin Van, Kitab Kuning: Pesantren, Tarekat dan Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1995.&lt;br /&gt;Daulay, Haidar Putra, Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah, Tiara Wacana, Yogyakarta,  2000.&lt;br /&gt;Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pendangan Kyai, LP3ES, Jakarta 1982.&lt;br /&gt;______,  Kultur Pesantren Prespektif Masyarakat Modern, Islam dalam Perkembangan Bangsa, PLPM, Jakarta, 1987. &lt;br /&gt;Freire, Paulo, Pendidikan yang Membebaskan, Melibas, Jakarta, 2000.&lt;br /&gt;Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981.&lt;br /&gt;Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1987.&lt;br /&gt;Hasan, Karnadi “Konsep Pendidikan Jawa”, dalam Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa, No 3 tahun 2000, Pusat Pengkajian Islam Strategis, IAIN Walisongo Semarang, 2000.&lt;br /&gt;Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah dan Perkembangan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995.&lt;br /&gt;Ida, Laode, ‘Pergulatan Gerakan dan Identitas NU’ dalam Jurnal Ulumul Qur’an edisi  no. 5, Vol. VI, 1996.&lt;br /&gt;Isma’il, SM, (editor), Dinamika Pesantren dan Madrasah, Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo-Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, Paramadina, Jakarta, 1997.&lt;br /&gt;Mahfud, Sahal , Pesantren Mencari Makna, Pustaka Ciganjur, Jakarta, 1999.&lt;br /&gt;Mas’ud, Abdurrahman, , The Pesantren Architects and Their Sosio Relegious Teaching , disertasi, UCLA, AS, 1997&lt;br /&gt;Mas’ud, Abdurrahman, Why  the Pesantren as Center for Islamic Studies Remains Unique and Stronger in Indonesia, makalah Seminar Internasional, Prince of Songkla University Pattani, tanggal 25-28 Juni 1998.&lt;br /&gt;Mastuhu , Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Logos, Jakarta, 1999.&lt;br /&gt;______, “Gaya dan Suksesi Kepemimpinan Pesantren”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 7 Vol II tahun 1990/1411 H, 68.&lt;br /&gt;______, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, INIS, Jakarta, 1994.&lt;br /&gt;Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi IV, Rake Sarasin, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Prasodjo, Soedjoko et.al., Profil Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1973.&lt;br /&gt;Raharjo, M. Dawam, Pergumulan Dunia Pesantren, P3M, Jakarta, 1985. &lt;br /&gt;Rasyid, Daud,  Islam dalam Berbagai Dimensi, Gema Insani Press, Jakarta, 1998&lt;br /&gt;Steenbrink, Karel A., Pesantren Madrasah dan Sekolah, Cet. II, LP3ES, Jakarta, 1994.&lt;br /&gt;Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Raja Grafindo Persada, 1996.&lt;br /&gt;Usman, Marzuki et.al, Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren, Pustaka Hidayah, Bandung, 1999.&lt;br /&gt;Wahid, Abdurrahman, Bunga Rampai Pesantren, Dharma Bhakti, Jakarta, 1399 H.&lt;br /&gt;______, “Pesantren Sebagai Sub Kultur”, dalam M. Dawam Raharjo (editor), Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1995.&lt;br /&gt;______, “Principles the Pesantren Education”, dalam Manfred Oepen and Wolfgang Karcher (eds.), The Impact of Pesantren, P3M, Jakarta, 1998.&lt;br /&gt;______, Menggerakkan Tradisi Pesantren: Esai-esai Pesantren, LKiS, Yogyakarta, 2001.&lt;br /&gt;Wahjoetmo, Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, Gema Insani Press, Jakarta, 1887.&lt;br /&gt;Ziemek, Manfred, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, P3M, Jakarta, 1986.&lt;br /&gt;Peter L. Berger, Humanisme Sosiologi, Inti Sarana Aksara, Jakarta, 1985,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Pedoman transliterasi Arab-Latin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-5110315811259814794?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/5110315811259814794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/10/draf-teknik-penulisan-karya-ilmiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/5110315811259814794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/5110315811259814794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/10/draf-teknik-penulisan-karya-ilmiah.html' title='DRAF TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH STAIN SAMARINDA'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-2847564671018003121</id><published>2010-10-21T18:14:00.001-07:00</published><updated>2010-10-21T18:15:59.585-07:00</updated><title type='text'>TPKI</title><content type='html'>PEDOMAN PENULISAN skripsi dan karya ilmiah lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Skripsi &lt;br /&gt;a. Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang ditulis dalam rangka menyelesaikan studi program Sarjana Strata 1 (S.1);&lt;br /&gt;b. Karya tulis ini merupakan pengungkapan tertulis dari hasil penelitian yang dilakukan secara sistematis dan metologis, sesuai dengan kompetensi program studi/jurusan.&lt;br /&gt;2. Proposal &lt;br /&gt;Rencana usulan penelitian yang ditulis mahasiswa dalam rangka menyelesaikan skripsi, sesuai dengan kompetensi jurusan dan program studi&lt;br /&gt;3. Ujian Komprehensif&lt;br /&gt;Ujian komprehensif diselenggarakan dengan sistem majelis setelah mahasiswa menyelesaikan semua ujian mata kuliah dan praktikum, sebagai prasyarat untuk ujian komprehensif.&lt;br /&gt;4. Munaqasah&lt;br /&gt;a. Ujian skripsi merupakan kegiatan akhir dari seluruh kegiatan akademik, sebelum mahasiswa di wisuda;&lt;br /&gt;b. Ujian skripsi dilaksanakan apabila mahasiswa telah dinyatakan lulus ujian komprehensif, dan naskah skripsinya telah siap untuk dimunaqasahkan.&lt;br /&gt;5. Sistem majlis adalah suatu sistem ujian yang menghadirkan seorang peserta ujian (komprehensif/munaqasah) untuk diuji dihadapan para penguji yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan dua penguji utama secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PROSEDUR DAN SYARAT PENGAJUAN &lt;br /&gt;USULAN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengajuan Usulan Penelitian&lt;br /&gt;1. Mahasiswa memprogram skripsi pada waktu mengajukan rencana studi;&lt;br /&gt;2. Mahasisma mengajukan Rancangan Usulan Penelitian kepada Ketua Jurusan;&lt;br /&gt;3. Rancangan Usulan Penelitian sekurang-kurangnya memuat:&lt;br /&gt;a. Rencana Judul;&lt;br /&gt;b. Latar Belakang Masalah;&lt;br /&gt;c. Rumusan Masalah;&lt;br /&gt;d. Tujuan Penelitian;&lt;br /&gt;e. Sistematika Penelitian Sementara.&lt;br /&gt;4. Rancangan Usulan Penelitian yang telah disetujui Ketua Jurusan/Program Studi, selanjutnya ditunjuk dosen pembimbing sesuai dengan kompetensi keilmuan yang dimiliki;&lt;br /&gt;5. Penunjukan dosen pembimbing dilakukan melalui surat penunjukan oleh Ketua Jurusan;&lt;br /&gt;6. Proposal penelitian dapat diseminarkan setelah mendapat persetujuan Ketua Jurusan Tarbiyah;&lt;br /&gt;7. Mengikuti seminar proposal skripsi yang sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh jurusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Syarat Pengajuan Usulan Penelitian Skripsi&lt;br /&gt;1. Pengajuan usulan penelitian skripsi dapat dimulai oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan 120 SKS dengan indeks prestasi akademik sekurang-kurangnya 2.00 dan telah lulus mata kuliah Metodologi Penelitian dengan nilai sekurang-kurangnya C;&lt;br /&gt;2. Usulan penelitian skripsi ditulis sendiri oleh mahasiswa dengan dibimbing oleh seorang dosen pembimbing (Pembimbing I). Jika dipandang perlu dapat didampingi oleh seorang dosen pembimbing lain (Pembimbing II).&lt;br /&gt;3. Usulan penelitian skripsi ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia, sedangkan untuk untuk Jurusan Tadris Bahasa Inggris ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Proposal Penelitian&lt;br /&gt;Proposal penelitian skripsi sekurang-kurangnya memuat:&lt;br /&gt;I. Judul Penelitian&lt;br /&gt;II. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;III. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;IV. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;V. Definisi Operasional&lt;br /&gt;VI. Kajian Pustaka&lt;br /&gt;VII. Hipotesis Penelitian (Penelitian Kuantitatif)&lt;br /&gt;VIII. Metode Penelitian&lt;br /&gt;A. Pendekatan Penelitian (Penelitian Kualitatif)&lt;br /&gt;B. Variabel dan Indikator Penelitian (Penelitian Kuantitatif)&lt;br /&gt;C. Teknik Pengambilan Sampel (Penelitian Kuantitatif)/sumber data&lt;br /&gt;D. Teknik Pengumpulan Data &lt;br /&gt;E. Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;IX. Sistematika Laporan Penelitian&lt;br /&gt;X. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Permohonan Ijin Penelitian&lt;br /&gt;1. Permohonan izin penelitian ini terutama bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian lapangan pada instansi, lembaga atau wilayah teritorial tertentu, sedang bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian kepustakaan (library research) tidak merupakan keharusan. &lt;br /&gt;2. Permohonan izin penelitian ini dilakukan jika objek penelitian sudah bersedia menjadi objek/tempat penelitian. &lt;br /&gt;3. Permohonan izin penelitian dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Mengajukan kepada Ketua STAI Sangatta melalui Ketua Jurusan Tarbiyah dengan menunjukkan usulan penelitian yang sudah disahkan oleh Pembimbing dan Ketua Jurusan.&lt;br /&gt;b. Mahasiswa mengisi blangko Surat Izin Penelitian yang sudah disediakan rangkap 3 (tiga). Pengisian blangko ini dilakukan sendiri oleh mahasiswa, kemudian diserahkan kembali ke Jurusan untuk ditanda tangani oleh Ketua STAI Sangatta, c.q. Pembantu Ketua I Bidang Akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;BIDANG KAJIAN SKRIPSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Ruang Lingkup dan Bentuk Kajian Skripsi&lt;br /&gt;1. Tema skripsi diangkat dari permasalahan yang relevan dengan kompetensi jurusan/program studi mahasiswa;&lt;br /&gt;2. Bentuk kajian skripsi antara lain berupa: (1) Survei; (2) Eksperimen; (3) Penelitian Teoritik/Kepustakaan; (4) Analisis Isi (Content Analysis); (5) Expost Facto; (6) Penelitian Historis; (7) Penelitian Tindakan (Action Research), dan; (8) Penelitian lainnya yang mengacu pada epistemologi keilmuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Teknik Penulisan Skripsi&lt;br /&gt;1. Penulisan skripsi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD);&lt;br /&gt;2. Penulisan skripsi jurusan/program Tadris Bahasa Inggris harus menggunakan Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;3. Informasi disajikan dengan bahasa yang lugas, sederhana , tepat, dan langsung pada persoalan yang dibicarakan;&lt;br /&gt;4. Penulisan istilah yang berasal dari bahasa asing dan daerah dengan huruf miring (italic), seperti kata fiqh al-lughah (fiqh al-lughah), dan drop out (drop out), gugur gunung (gugur gunung); &lt;br /&gt;5. Untuk menghindari subjektivitas, penulisan skripsi tidak diperbolehkan menggunakan kata ganti saya, aku, kami atau kita kecuali dalam kata pengantar.&lt;br /&gt;6. Penulisan ayat al-Qur’an dan teks al-Hadis disesuaikan dengan aslinya, memperhatikan tanda-tanda baca yang tertera, disertai syakalnya dengan menggunakan mushaf utsmani serta menyebutkan nama surat dan nomor ayat untuk teks al-Qur’an dan nama perawi untuk teks al-Hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Bentuk dan Format Penulisan Skripsi&lt;br /&gt;1. Naskah skripsi minimal 50 halaman, tidak termasuk halaman judul, pengesahan, abstrak, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar pustaka dan lampiran-lampiran pendukung skripsi;&lt;br /&gt;2. Kertas yang dipergunakan untuk penulisan skripsi adalah kerta ukuran Kuarto (A4) ukuran 21,5 x 29,7 cm dengan berat 70-80 gram;&lt;br /&gt;3. Batas marginal kiri atas 4 cm dan margin kanan bawah 3 cm;&lt;br /&gt;4. Naskah skripsi diketik dengan jenis huruf Times New Roman dengan ukuran huruf (font) 12; &lt;br /&gt;5. Tulisan Arab diketik dengan menggunakan jenis huruf (font) Traditional Arabic dengan ukuran huruf 18;&lt;br /&gt;6. Setiap satu lembar kerta kuarto hanya dipergunakan satu halaman saja (tidak bolak balik) diketik dengan jarak 1,5 spasi;&lt;br /&gt;7. Alinea baru dimulai dengan ketukan ketujuh dari margin kiri;&lt;br /&gt;8. Judul skrispi ditulis dengan huruf kapital (besar) di tengah, ukuran huruf dengan menggunakan estetika penulisan;&lt;br /&gt;9. Judul  bab ditulis dari tepai kiri, awal kata menggunakan huruf kapital, demikian juga anak sub judul atau sub anak judul disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan;&lt;br /&gt;10. Sampul skripsi menggunakan kertas bufalo atau sejenisnya dijilid tebal dan dilapisi plastik (hard cover) dengan huruf timbul warna tinta hitam;&lt;br /&gt;11. Sampul skripsi berwana coklat muda sesuai dengan warna bendera STAI Sangatta Kutai Timur Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;12. Penomoran halaman dimulai dari Bab I sampai akhir laporan skripsi menggunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) diletakkan di sebelah kanan atas, kecuali nomor halaman bab baru diletakkan di tengah bagian bawah, sub judul ditulis dari tepi kiri, awal kata menggunakan huruf kapital, kecuali kata penghubung/kata sambung, demikian juga anak sub judul atau sub anak judul disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan, sedangkan pada halaman judul sampai halaman daftar isi menggunakan huruf Romawi kecil (seperti i, ii, iii dst.) yang diletakkan di tengah bagian bawah.&lt;br /&gt;13. Penomoran tabel atau gambar diberi nomor urut dengan angka Arab (Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 dst.), dan ditulis dengan huruf tebal (bold);&lt;br /&gt;14. Nomor kutipan atau catatan kaki pada masing-masing bab ditulis berturut-berturut sampai akhir bab dan dimulai kembali dengan nomor satu pada bab berikutnya;&lt;br /&gt;15. Abstrak skripsi diketik 1 spasi maksimal 2 halaman, ditulis dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TEKNIK NOTASI ILMIAH&lt;br /&gt;1. Kutipan &lt;br /&gt;Kutipan terdiri dari dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;a. Kutipan langsung&lt;br /&gt;1) Kutipan langsung adalah kutipan yang sama dengan bentuk asli yang dikutip, baik dalam susunan kata maupun tanda bacanya. Kutipan langsung tidak dibenarkan lebih dari satu halaman. Kutipan langsung dipergunakan hanya untuk hal-hal yang penting saja, seperti definisi atau pendapat seseorang yang khas. &lt;br /&gt;2) Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris, diketik biasa dalam teks skripsi dengan diawali dan diakhiri oleh tanda petik (“) dan diberi nomor kutipan, yaitu dengan pola catatan kaki (footnote). Ini dimaksudkan jika diperlukan notasi dapat lebih leluasa dan memudahkan pembaca. Kutipan yang lebih dari empat diketik dengan masuk (menjorok) tujuh ketukan dan tidak dibubuhkan tanda petik, serta ditulis dengan jarak 1 spasi. Kutipan terjemah al-Qur’an dianggap kutipan langsung, diketik 1 spasi, meskipun kurang dari empat baris, tidak ditulis miring dan tidak menyebut kata Artinya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kutipan tidak langsung&lt;br /&gt;Kutipan tidak langsung (parafrase) adalah kutipan yang hanya mengambil isinya saja, seperti saduran, atau ringkasan. Dalam kutipan semacam ini, penulis tidak perlu memberikan tanda petik, ditulis seperti teks biasa dengan menyebut sumber pengambilannya;&lt;br /&gt;c. Sumber kutipan merujuk pada ilmuwan yang ahli dalam bidangnya;&lt;br /&gt;d. Kutipan skripsi di antaranya harus mencakup minimal tiga sumber/buku berbahasa asing (bahasa Arab dan Inggris) yang terkait dengan pokok bahasan, tidak termasuk kamus;&lt;br /&gt;e. Kutipan tafsir dan hadis harus bersumber pada kitab asli (sumber primer);&lt;br /&gt;f. Kutipan dapat bersumber dari internet atau Compax Disk (CD) dengan mencantumkan situs dan menunjukkan print outnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Catatan Kaki (Footnote)&lt;br /&gt;a. Catatan kaki merupakan catatan pada bagian kaki halaman teks yang menyatakan sumber sesuatu kutipan atau pendapat mengenai sesuatu hal yang diuraikan dalam teks; &lt;br /&gt;b. Catatan kaki dapat berfungsi sebagai tambahan yang berisi komentar atau penjelasan yang dianggap tidak dapat dimasukan di dalam teks. Catatan kaki diketik satu spasi dan dimulai langsung dari margin kiri untuk tulisan Latin dan margin kanan untuk tulisan Arab, dimulai pada ketukan kelima di bawah garis catatan kaki. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya disebabkan beberapa hal, yaitu: (1) pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan. Karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi, (2) ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal manusia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Bergson, yakni tidak mampu mengetahui hakekat hidup, (3) multikompleksnya masalah tentang manusia. Sedangkan alasan lainnya adalah bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi, sedangkan manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh kecuali sedikit (Q.S. Al Isra’ : 85 ). Lihat, M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 277-278.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai dari angka 1 (Arab) sampai habis, dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab baru;&lt;br /&gt;d. Cara penulisannya secara berurutan: nama pengarang (tanpa gelar dan tidak dibalik), koma, judul sumber/buku (judul sumber/buku ditulis dengan huruf kapital setiap awal kata dan ditulis miring, koma, jilid/jus, koma, kurung buka kemudian tempat/kota penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit kemudian kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, dan nomor halaman diakhiri dengan titik. Contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. 1, hlm. 18.&lt;br /&gt;2Portlan House, Webster Encyclopedic Unabriged Dictionary of the Engglish Language, (New York: a Divisiotion of Dilithium Press, 1989), p. 304.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Rujukan yang menggunakan terjemahan ditulis: nama pengarang, koma, buku/kitab asli dan tulis miring, koma, kata “terj.”, koma, penterjemah, koma, judul terjemahan, koma, kurung buka, koma, kota penerbit, koma, nama penerbit, kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, nomor halaman, dan diakhiri dengan titik. Contoh:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3Moh. Athiyah al-Abrasi, al-Tarbiyah al-Islamiyyah, terj. Bustami A. Ghoni dan Djohar Bahry,  Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hlm. 114.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Nama pengarang yang jumlahnya terdiri dari dua orang, maka kedua nama itu ditulis. Apabila lebih dari dua orang, hanya disebutkan nama pengarang yang pertama dan setelah tanda koma dituliskan singkatan et. al. ditulis dengan huruf miring (italic) atau dkk. Contoh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4Muslim Nurdin., et. al., Moral dan Kognisi Islam: Buku Teks Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum, (Jawa Barat: Alfabeta, 2001), Edisi Revisi, hlm. 29-31. &lt;br /&gt;g. Kumpulan karangan yang di rangkum oleh editor, yang dianggap pengarangnya atau yang dicantumkan dalam catatan kaki nama editor saja. Caranya dibelakang nama editor itu dicantumkan "ed." dengan italic (ed.). Bila editornya lebih dari satu, maka diberi tambahan "s" (eds.). Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5Ahmad Tafsir (ed.), Pendidikan Agama dalam Keluarga, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 49.&lt;br /&gt;h. Apabila dari sumber yang sama dikutip lagi pada halaman yang sama, maka cukup dengan "Ibid." (dicetak miring) tanpa menyebutkan halamannya lagi. Ibid singkatan dari lbidem yang berarti pada tempat yang sama. Sedangkan bila dari sumber yang sama dikutip lagi pada halaman yang berbeda, rnaka dalarn catatan kaki ditulis: Ibid., lalu disebutkan halamannya. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), Cet. 1, hlm. 37.&lt;br /&gt;7Ibid. (bila mengutip pada halaman yang sama).&lt;br /&gt;8Ibid., hlm. 21(bila mengutip pada halaman yang berbeda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Apabila dari sumber tersebut dikutip lagi, tetapi telah diselingi oleh kutipan dari sumber lain, maka pada catatan kaki ditulis: Nama pengarang, judul buku/sumber (jika ada lebih dari satu buku), op.cit., (italic) diikuti dengan hlm. Adapun op.cit. singkatan dari "opere citato" yang artinya dalam karangan yang telah disebut. Namun, apabila dari halaman yang sarna dikutip lagi, tetapi telah diselingi kutipan dari sumber lain, maka ditulis loc. cit, tanpa menyebutkan halaman. loc.cit. adalah singkatan dari "loco citato" yang artinya pada tempat yang telah dikutip). Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9Abudin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Grasindo, 2001), hlm. 132.&lt;br /&gt;10Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 12.&lt;br /&gt;11Abudin Nata, op. cit., hlm. 154.&lt;br /&gt;12Nana Sudjana, loc. cit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Apabila buku itu berjilid dan yang digunakan lebih dari satu jilid, maka bila ingin menyebutkan lagi sumber yang terdahulu harus dicantumkan nama pengarang dan nomor jilidnya. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1973), Cet. 3, him. 12.&lt;br /&gt;14Ibid., Jilid 2, hlm. 15.&lt;br /&gt;15Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 2, (Jakarta: UI Press, 1973), Cet. 3, him. 97.&lt;br /&gt;16Umar Tirtaraharja, Pengantar Pendidikan I, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 54.&lt;br /&gt;17Harun Nasution, loc. cit., Jilid 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Kutipan yang berasal dari buku yang berbentuk bunga rampai (antologi) atau kumpulan tulisan dari beberapa penulis, maka penulisanya adalah: nama penulis, koma, tanda petik (“), judul tulisan, dan tidak miring, tanda petik (“), koma, dalam, nama editor, koma, judul buku (italic), koma, kurang buka, tempat terbit, titik dua, nama penerbit, koma tahun terbit, kurung tutup, koma, dan halaman dan diakhiri dengan titik. Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18Imam Suprayogo, “Tradisi Ulama dalam Perguruan Tinggi”, dalam M. Anies (eds.), Religiusitas Iptek: Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), Cet. 1, hlm. 156.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Kutipan yang berasal dari majalah ditulis sebagai berikut: narna penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik ("---"), koma, nama majalah ditulis italic, koma, volume, koma, nomor edisi, koma, bulan, koma, tahun terbit, koma, nomor halaman, dan diakhiri dengan titik. Contoh:&lt;br /&gt;19Syaiful Faizin, “Kiat Memperoleh Anak Saleh dan Kompetitif”, Majalah Rindang, XXVII, No. 11, Juni, 2003, hlm. 29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. Kutipan yang berasal dari surat kabar cara penulisannya adalah: nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“---“), koma, nama surat kabar ditulis miring, koma, tempat terbit, koma, tanggal, bulan dan tahun terbit, koma, dan diakhiri dengan nomor halaman sesuai sumbernya. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20Mustatho’, “Agama dalam Konstruksi Masyarakat Perkotaan”, Gazebo, Sangatta, 4 Juli 2010, hlm. ix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n. Kutipan yang berasal dari karya ilmiah yang tidak/belum diterbitkan, cara penulisannya adalah: nama pengarang, koma, judul karangan ilmiah dengan diapit tanda petik (“---“), koma, disebutkan skripsi, tesis atau disertasi, koma, kurung buka, nama kota penyimpanan, titik dua, nama tempat penyimpanan, koma, tahun penulisan, koma, kurung tutup, koma, keterangan tidak diterbitkan yang disingkat dengan “t.d.”, koma, nomor halaman, dan diakhiri dengan titik. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21Surono, Paradigma Pengembangan Fitrah Nafsaniah Manusia: Kajian Filosofis, Edukatif dan Psikologis”, Tesis Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, (Semarang: Perpustakaan Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, 2007), hlm. 23, t.d.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o. Kutipan yang berasal makalah yang disajikan dalam seminar, penataran, atau lokakarya penulisannya adalah: nama penyusun, judul karangan ilmiah dengan diapit tanda petik (“---“), koma, tempat penyajian makalah, koma, lembaga dan tempat penyelenggara, koma, tanggal, bulan dan tahun, dan diakhiri dengan titik. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22Siti Muri’ah, “Peningkatan Peran Wanita di Era Otonomi Daerah”, Makalah Disampaikan dalam Seminar Gender dan Otoda, Setda Kaltim, Samarinda, 1-2 September 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p. Kutipan yang berasal dari buku/kitab yang asli dan terjemahnya, angka kutipan diletakkan di belakang terjemah, sedangkan kutipan yang berasal dari buku/kitab berbahasa asing tanpa terjemah, maka angka kutipan diletakkan dibelakang kutipan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara terjemahan dari penerjemah dan penulis skripsi sendiri.&lt;br /&gt;q. Surnber kutipan yang tidak ada tempat terbitnya, maka tempat terbitnya ditulis dengan singkatan “t.tp.”. Jika tidak ada penerbitnya, maka nama penerbit ditulis dengan singkatan “t.p.”, dan jika tidak ada tahun terbitnva, maka ditulis “t.t.”.&lt;br /&gt;r. Sumber kutipan yang diambil dari internet cara penulisarmya adalah: nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“---“), koma, dalam, koma, nama situs koma, nomor halaman. Contoh:&lt;br /&gt;22M. Ilyasin, “Kurikulum Berbasis Kompetensi”, dalam  http://www.stais.co.id., hlm.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Daftar Kepustakaan&lt;br /&gt;a. Daftar pustaka merupakan keterangan mengenai bahan bacaan yang dijadikan rujukan dalam proses pembuatan skripsi.&lt;br /&gt;b. Daftar pustaka ditempatkan di akhir skripsi dengan jarak satu (1) spasi dan tidak menggunakan nomor urut. Sedangkan jarak antara dua sumber pustaka satu setengah (1,5) spasi;&lt;br /&gt;c. Daftar pustaka ditulis dengan urutan: nama pengarang (nama kedua), koma, nama lengkap (tanpa gelar), koma, judul buku dicetak miring (italic), koma, jilid atau volume, koma, tempat penerbitan, titik dua, mana penerbit, koma, tahun penerbitan, koma, nomor cetakan;&lt;br /&gt;d. Penulisan nama pengarang disusun secara alfabetik dengan mendahulukan nama keluarga dan marga (kalau ada) atau mana belakang, dan diketik pada ketukan pertama. Untuk singkatan mengikuti nama terakhir. &lt;br /&gt;e. Apabila informasi tentang buku/sumber rujukan itu melebihi satu baris, maka baris kedua dan berikutnya diketik mulai ketukan kelima. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faizin, Syaiful, “Kiat Memperoleh Anak Saleh dan Kompetitif”, Majalah Rindang, XXVII, No. 11, Juni, 2003.&lt;br /&gt;Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.&lt;br /&gt;Sjamarah, Syaiful Bahri, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga: Sebuah Perspektif Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.&lt;br /&gt;Soenarjo dkk., al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra, 1989.&lt;br /&gt;f. Apabila penulis terdiri dari dua orang, maka nama kedua¬-duanya ditulis, dihubungkan dengan kata “dan”, sedangkan untuk nama penulis pertama adalah mendahulukan nama belakangnya. Contoh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris, Zahara dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan I, Jakarta: Grafindo, 1992.&lt;br /&gt;g. Apabila lebih dari dua orang, ditulis nama pertama dan diikuti kata “dkk.” (dan kawan-¬kawan). Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, Cet.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Apabila ada dua karangan atau lebih berasal dari pengarang yang sama, maka narna pengarang dicantumkan satu kali, lainnya cukup diganti dengan garis sepanjang lirna ketukan dari garis margin kiri (tulisan latin) dan margin kanan (bahasa Arab) dan diikuti oleh koma, dengan ketentuan mendahulukan sumber pustaka yang lebih dahulu tahun penerbitannya. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Bina Aksara, 1988.&lt;br /&gt;-------, Proses Bimbingan dan Penyuluhan, Jakarta: Rineka Cipta, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Apabila berupa buku terjemahan maka ditulis pengarang yang asli, koma, judul buku asli, koma, kata “terj”, koma, penerjemah, koma, judul terjemahan, koma, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit diakhiri dengan titik. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. ‘Utsman Najati, Al Qur’an wa ‘Ilmu al Nafs, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani,  Al Qur’an dan Ilmu Jiwa,, Bandung: Pustaka, 1997, hlm.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pedoman Transliterasi&lt;br /&gt;Transliterasi dimaksudkan sebagai pengalih-hurufan dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Transliterasi Arab-Latin di sini ialah penyalinan huruf-huruf Arab dengan huruf-huruf latin beserta perangkatnya. Pedoman transliterasi dalam skripsi ini meliputi :&lt;br /&gt;a. Konsonan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf Arab Nama Huruf latin&lt;br /&gt;ا Alif Tidak didefinisikan&lt;br /&gt;ب Ba b&lt;br /&gt;ت Ta t&lt;br /&gt;ث Sa s\&lt;br /&gt;ج Jim j&lt;br /&gt;ح Ha h&lt;br /&gt;خ Kha kh&lt;br /&gt;د Dal d&lt;br /&gt;ذ Zal z\&lt;br /&gt;ر Ra r&lt;br /&gt;ز Za z&lt;br /&gt;س Sin s&lt;br /&gt;ش Syin sy&lt;br /&gt;ص Sa s}&lt;br /&gt;ض Dad d}&lt;br /&gt;ط Ta t}&lt;br /&gt;ظ  z}&lt;br /&gt;ع ‘ain ‘&lt;br /&gt;غ Gain g&lt;br /&gt;ف Fa f&lt;br /&gt;ق Qaf q&lt;br /&gt;ك Kaf k&lt;br /&gt;ل Lam l&lt;br /&gt;م Mim m&lt;br /&gt;ن Nun n&lt;br /&gt;و Wau w&lt;br /&gt;ها Ha h&lt;br /&gt;ء Hamzah .’&lt;br /&gt;ي Ya Y&lt;br /&gt;ة Ah ah&lt;br /&gt;ة.. at, ah at, ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Maddah&lt;br /&gt;Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf/transliterasinya berupa huruf dan tanda, contoh:&lt;br /&gt;قَالَ   dibaca qa&gt;la&lt;br /&gt;قِيْلَ  dibaca qi&gt;la&lt;br /&gt;يَقُوْلُ  dibaca yaqu&gt;lu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ta Marbut}ah&lt;br /&gt;Translitrasinya menggunakan :&lt;br /&gt;1) Ta marbut}ah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya h.&lt;br /&gt;2) Contoh : طَلْحَة  dibaca  t}alhah&lt;br /&gt;3) Pada kata yang terakhir dengan ta marbut}ah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbut}ah itu ditransliterasikan dengan h.&lt;br /&gt;Contoh : رَوْضَةُ اْلاَطْفَالِ dibaca  raud}ah al-at}fa&gt;l&lt;br /&gt;d. Kata Sandang&lt;br /&gt;Transliterasi kata sandang dibedakan menjadi dua macam, yaitu :&lt;br /&gt;a. Kata sandang diikuti huruf syamsiah&lt;br /&gt;Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu. &lt;br /&gt;Contoh :   اَلرَّحِيْمُ dibaca  ar-Rahi&gt;mu&lt;br /&gt;b. Kata sandang diikuti huruf qamariah&lt;br /&gt;Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.&lt;br /&gt;Contoh :   اَلْمَلِكُ     dibaca al-Maliku&lt;br /&gt;e. Penulisan kata&lt;br /&gt;Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim maupun huruf, ditulis terpisah, hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazimnya dirangkaikan dengan kata lain. Karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan, maka dalam translitarasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً   dibaca Man istat}a&gt;’a ilaihi sabi&gt;la&lt;br /&gt;وَاِنَّ اللهَ لَهُوَ خَيْرٌ الرَّازِقِيْنَ dibaca Wa innalla&gt;ha lahuwa khair al-ra&gt;ziqi&gt;n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;BIMBINGAN SKRIPSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Jumlah Pembimbing&lt;br /&gt;Dalam menulis skripsi, mahasiswa dibimbing oleh dua orang dosen pembimbing, yaitu Pembimbing I dan Pembimbing II. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Syarat-syarat Pembimbing&lt;br /&gt;1. Pembimbing I dan II adalah adalah dosen tetap maupun tidak tetap &lt;br /&gt;2. Pembimbing I dan II diangka oleh Ketua atas usul Ketua Jurusan, dengan mempertimbangkan kompetensi dan keahlian yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kewajiban dan Hak Pembimbing&lt;br /&gt;1. Kewajiban dan Hak Pembimbing I&lt;br /&gt;a. Pembimbing I memberikan arahan atau bimbingan pertama skripsi;&lt;br /&gt;b. Pembimbing I berhak mengubah judul skripsi, sepanjang tidak mengubah subtansi;&lt;br /&gt;c. Bimbingan selanjutnya meliputi:&lt;br /&gt;1) Mempertimbangkan, mengoreksi dan menyetujui kerangka skripsi;&lt;br /&gt;2) Menunjukkan referensi yang menjadi sumber utama dan penunjang;&lt;br /&gt;3) Memberikan petunjuk tentang metode penelitian dan aplikasinya;&lt;br /&gt;4) Mengoreksi hasil akhir konsep skripsi;&lt;br /&gt;5) Memberikan bantuan dan arahan revisi sepanjang diperlukan&lt;br /&gt;d. Tanggung jawab akhir bimbingan berada pada tangan pembimbing;&lt;br /&gt;e. Tanggung jawab isi skripsi berada pada mahasiswa yang bersangkutan;&lt;br /&gt;2. Kewajiban dan Hak Pembimbing II&lt;br /&gt;a. Pembimbing II bersama Pembimbing I memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa setelah disetujui pembimbing I;&lt;br /&gt;b. Pembimbing II tidak berhak mengubah judul, tetapi berhak mengusulkan perubahan kepada Pembimbing I jika dipandang perlu;&lt;br /&gt;c. Dalam melaksanakan bimbingan dan arahan, Pembimbing II mengadakan hubungan dengan Pembimbing I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Waktu Bimbingan&lt;br /&gt;1. Bimbingan dapat dimulai setelah Pembimbing menerima surat penunjukan dari Jurusan melalui Ketua Jurusan;&lt;br /&gt;2. Proses bimbingan dilakukan secara teratur dalam batas waktu maksimal 1 semester (6 bulan) dengan mengingat batas studi yang bersangkutan terhitung sejak ditetapkan oleh Jurusan melalui Ketua Jurusan.&lt;br /&gt;3. Apabila dalam waktu yang telah ditetapkan, skripsi belum bisa diujikan, Pembimbing menyerahkan kembali kepada Jurusan dapat mengambil langkah:&lt;br /&gt;4. Bimbingan yang telah melampaui batas waktu sebagaimana dimaksudkan di atas, Jurusan melalui ketua Jurusan dapat memperpanjang maksimal 2 bulan, dengan mengingat batas masa studi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Penggantian Pembimbing&lt;br /&gt;1. Apabila karena suatu hal, Pembimbing I atau Pembimbing II tidak dapat menyelesaikan tugasnya, maka mereka harus menyerahkan kembali tugas tersebut disertai alasan-alasannya kepada Ketua Jurusan;&lt;br /&gt;2. Ketua Jurusan dapat menetapkan Pembimbing lain sebagai penggantinya; &lt;br /&gt;3. Penggantian pembimbing tersebut tetap mempertimbangkan kompetensi keilmuan;&lt;br /&gt;4. Pembimbing pengganti hanya meneruskan proses bimbingan yang sedang berlangsung, dan tidak mengulangi lagi proses pembimbingan dari awal;&lt;br /&gt;5. Sekiranya pembimbing pengganti masih menemukan sesuatu yang kurang, maka dia berhak melakukan koreksi seperlunya dan tidak mengubah tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Buku Konsultasi&lt;br /&gt;1. Mahasiswa yang telah ditetapkan dosen pembimbingnya, berkewajiban melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing secara teratur;&lt;br /&gt;2. Demi tertibnya administrasi bimbingan, Jurusan menyediakan buku konsultasi bimbingan skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Laporan Pembimbing&lt;br /&gt;Setelah proses bimbingan penulisan selesai, Pembimbing menyerahkan nilai bimbingan skripsi kepada Jurusan melalui Ketua Program Studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Tata Hubungan Kerja Pembimbing I dan II&lt;br /&gt;1. Hubungan antara Pembimbing I dengan Pembimbing II bersifat koordinatif;&lt;br /&gt;2. Proses pelaksanaan bimbingan diserahkan sepenuhnya atas kesepakatan dua dosen pembimbing, terutama pada saat pembahasan proposal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;UJIAN KOMPREHENSIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sistem Ujian Komprehensif&lt;br /&gt;1. Ujian komprehensif adalah sebagai prasyarat untuk ujian skripsi;&lt;br /&gt;2. Ujian komprehensif diselenggarakan dengan sistem mejelis setelah mahasiswa menyelesaikan semua ujian mata kuliah dan praktikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Persyaratan Ujian Komprehensif&lt;br /&gt;Mahasiswa telah menyelesaikan semua kewajiban perkuliahan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penyelenggaran Ujian Komprehensif&lt;br /&gt;1. Ujian komprehensif merupakan pendadaran bagi calon sarjana S.1 Jurusan Tarbiyah;&lt;br /&gt;2. Ujian komprehensif diselenggarakan oleh Jurusan atau Program Studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Struktur Penguji Komprehensif&lt;br /&gt;1. Majelis Penguji Komprehensif terdiri dan seorang ketua, seorang sekretaris, dan 2 (dua) orang anggota penguji sesuai dengan kewenangan hak menguji, disiplin ilmu, dan keahlian terhadap materi ujian komprehensip;&lt;br /&gt;2. Ketua dan Sekretans sidang masing-masing rnerangkap sebagai penguji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Syarat Penguji Komprehensif&lt;br /&gt;1. Penguji komprehensif ialah tenaga edukatif yang berpangkat Lektor (IIIc) ke atas, dan Asisten Ahli (III/b) yang berijasah Magister dan atau dosen tetap yang berijasah Doktor;&lt;br /&gt;2. Penguji komprehensif tidak sebagai pembimbing skripsi mahasiswa yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Materi dan Bahan Komprehensif&lt;br /&gt;1. Penguasaan ilmu ke-Islaman yang meliputi: kemampuan baca tulis huruf al-Qur'an, kemampuan hafalan surat-surat/ayat-ayat al-Qur'an, matan Hadits dan pengetahuan agarna Islam;&lt;br /&gt;2. Kemampuan kebahasaan, yang meliputi Bahasa Arab dan Bahasa Inggris;&lt;br /&gt;3. Penguasaan ilmu ketarbiyahan;&lt;br /&gt;4. Penguasaan keilmuan Jurusan (kompetensi Program Studi);&lt;br /&gt;5. Kemampuan berpikir interdisipliner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Waktu (Ujian Komprehensif)&lt;br /&gt;Waktu ujian komprehensif sekurang-kurangnya 30 menit dan sebanyak-banyaknya 90 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Kewajiban Mahasiswa saat Ujian Komrehensif&lt;br /&gt;1. Peserta ujian komprehensif laki-laki harus memakai pakaian yang rapi, berdasi, dan bersepatu, sedangkan untuk perempuan wajib mengenakan pakaian muslimah lengkap dengan jilbab;&lt;br /&gt;2. Peserta terlebih dahulu diminta menyampaikan abstraksi materi tanpa inembacalmembuka buku atau makalah kurang lebih 5 menit;&lt;br /&gt;3. Peserta ujian dari jurusan Pendididikan Bahasa Arab harus menggunakan Bahasa Arab;&lt;br /&gt;4. Dalam menjawah pertanyaan penguji, peserta u.jian harus menggunakan tata bahasa yang baik dan benar;&lt;br /&gt;5. Selama sidang berlangsung, peserta ujian komprehensif tidak boleh membaca buku, kecuali jika diminta oleh penguji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Komprehensip Ulang&lt;br /&gt;1. Mahasiswa yang tidak lulus dalam ujian komprehensif diberi kesempatan untuk mengulang;&lt;br /&gt;2. Ujian ulang tidak dibatasi selama masih dalam batas masa studi;&lt;br /&gt;3. Mahasiswa yang dinyatakan lulus dengan nilai cukup (C) diperbolehkan untuk mengikuti ujian ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;UJIAN MUNAQASAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penyelenggaraan Ujian Skripsi&lt;br /&gt;1. Ujian skripsi merupakan kegiatan terakhir dan seluruh kegiatan akademik;&lt;br /&gt;2. Karya ilmiah skripsi dipertahankan di depan Dewan Penguji sidang munaqasah; &lt;br /&gt;3. Penyelenggara ujian skripsi adalah Jurusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Persyaratan Munaqasah Skripsi&lt;br /&gt;1. Telah terdaftar sebagai mahasiswa semester di rnana ujian munaqasah diselenggarakan;&lt;br /&gt;2. Telah selesai dan lulus semua tugas akademik (ternasuk ko-kurikuler) dan ujian komprehensif dengan indeks prestasi kurnulatif (IPK) sekurang-kurangnya 2,0:&lt;br /&gt;3. Masih mempunyai hak untuk menyelesaikan studinya;&lt;br /&gt;4. Naskah skripsi telah mendapatkan persetujuan pembimbing disertai nota usul pembimbing dan siap untuk dimunaqasah¬kan;&lt;br /&gt;5. Telah terdattar sebagai peserta ujian munaqasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sistem Ujian Skripsi&lt;br /&gt;1. Ujian skripsi/munaqasah dilaksanakan secara terbuka; &lt;br /&gt;2. Ujian skripsi/munaqasah dilaksanakan dengan sistem majelis;&lt;br /&gt;3. Majelis Penguji Skripsi masing-masing 5 orang terdiri dari: &lt;br /&gt;a. seorang Ketua&lt;br /&gt;b. seorang Sekretaris&lt;br /&gt;c. dua orang anggota penguji &lt;br /&gt;4. Ketua Sidang adalah unsur pimpinan atau Kepala Jurusan dan atau Kepala Program Studi, sedangkan Sekretaris Sidang adalah Sekretaris Jurusan dan atau Sekretaris Program Studi atau unsur pimpinan lainnya.&lt;br /&gt;5. Ketua dan Sekretaris sidang masing-masing merangkap sebagai penguji.&lt;br /&gt;6. Anggota penguji (penguji 1 dan penguji 2) memiliki kewenangan hak menguji, disiplin ilmu, dan keahlian terhadap materi ujian skripsi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Syarat-syarat Penguji Skripsi&lt;br /&gt;1. Penguji skripsi adalah tenaga edukatif yang berpangkat Lektor Kepala (IV/a) ke atas, Asisten Ahli ((III/a) yang berijasah Doktor atau Lektor (III/c) yang berijasah Magister;&lt;br /&gt;2. Majelis Penguji Skripsi ditetapkan oleh Kepala Jurusan sesuai dengan kewenangan menguji bagi masing-masing dosen penguji;&lt;br /&gt;3. Dewan Penguji diangkat oleh Kepala Jurusan atas usul Kepala Program Studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Waktu Ujian Skripsi&lt;br /&gt;1. Waktu ujian skripsi sekurang-kurangnya 30 menit dan sebanyak-banyaknya 120 inenit; &lt;br /&gt;2. Setiap penguji disediakan waktu sekurang-kurangnya 15 menit dan sebanyak-banyaknya 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Kewajiban Mahasiswa pada Sidang Munaqasah&lt;br /&gt;1. Kewajiban mahasiswa dalam sidang komprehensip berlaku juga untuk ujian munaqasah;&lt;br /&gt;2. Peserta ujian munaqasah wajib memakai jaket almamater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Penyerahan Naskah kepada Penguji&lt;br /&gt;Naskah ujian skripsi yang telah terdaftar diserahkan kepada penguji selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan ujian munaqasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Penguji Yang Berhalangan&lt;br /&gt;Penguji yang berhalangan harus menyerahkan tugas dan naskahnya kepada Jurusan sekurang-kurangnya 4 (empat) hari sebelum pelaksanaan ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Jadwal Ujian Munaqasah&lt;br /&gt;Munaqasah dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Jurusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Wewenang Penguji&lt;br /&gt;1. Penguii pengajukan pertanyaan yang mengarah kepada pengungkapan kemampuan berpikir dan pertangungjawaban mahasiswa terhadap skripsi yang ditulisnya;&lt;br /&gt;2. Penguji dapat mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi maupun metodologinya;&lt;br /&gt;3. Penguji memberi nilai berdasarkan atas kemampuan jawaban, bobot isi, dan analisis mahasiswa dalarn skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K. Munaqasah Ulangan&lt;br /&gt;1. Mahasiswa yang dinyatakan gagal ujian munaqasah, diberitahu keberatan-keberatan terhadap skrisipnya oleh Ketua Sidang yang tembusannya disampaikan kepada pembimbing.&lt;br /&gt;2. Mahasiswa yang gagal diberi kesempatan ujian ulangan sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali;&lt;br /&gt;3. Ujian skripsi ulangan dilaksanakan setelah mahasiswa yang bersangkutan telah merevisi minimal tujuh hari setelah ujian utama;&lt;br /&gt;4. Penguji pada pelaksanaan ujian ulangan sama dengan ujian utama;&lt;br /&gt;5. Penguji tidak berhak merevisi total skripsi mahasiswa;&lt;br /&gt;6. Mahasiswa yang telah lulus ujian munaqasah dengan nilai C diberikan kesempatan untuk memperbaiki nilai dengan menempuh ujian ulang selama amsa studinya belum habis sebanyak-banyak sekali.&lt;br /&gt;L. Revisi Skripsi&lt;br /&gt;1. Mahasiswa yang dinyatakan lulus ujian munaqasah, namun diwajibkan merevisi setelah ujian (baik lulus atau gagal) harus berkonsultasi dengan penguji yang bersangkutan untuk memperbaiki skripsinya;&lt;br /&gt;2. Batas waktu maksimal melakukan revisi adalah empat (4) bulan terhitung sejak hari munaqasah;&lt;br /&gt;3. Jika sampai batas waktu maksimal ternyata tidak selesai, maka mahasiswa dianggap gagal dan mengajukan judul serta melakukan pembimbingan dan ujian lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Pengesahan Skripsi&lt;br /&gt;1. Skripsi dianggap sah sebagai syarat akhir studi pada prograrn sarjana S.1 Jurusan apabila telah disetujui oleh Dewan Penguji;&lt;br /&gt;2. Pengesahan skripsi diberikan jika mahasiswa telah melaksanakan kewajiban yang diberikan oleh Dewan Penguji, seperti perbaikan (revisi) jika ada;&lt;br /&gt;3. Pengesahan skripsi dibatalkan jika proses perbaikan melebihi batas maksimal, yaitu 4 (empat) bulan terhitung sejak hari ujian munaqasah;&lt;br /&gt;4. Skripsi yang telah disahkan didistribusikan kepada pihak yang terkait, dan ini sebagai syarat pengambilan ijasah dan transkrip nilai;&lt;br /&gt;5. Apabila mahasiswa tidak mengindahkannya, maka Jurusan tidak bisa mengeluarkan ijasah dan transkrip nilai meskipun hanya berupa photo copy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N. Penilaian Munaqasah&lt;br /&gt;1. Nilai munaqasah diambil dari Nipura (Nilai Pukul Rata-rata) penilaian masing-masing penguji;&lt;br /&gt;2. Penilaian munaqasah skripsi dilakukan oleh Dewan Penguji yang ditunjuk sesuai dengan peraturan yang bertaku;&lt;br /&gt;3. Penilaian masing-masing penguji diberikan terhadap keseluruhan komponen jawaban dan konsistensinya sejak awal hingga akhir ujian;&lt;br /&gt;4. Penilaian munaqasah meliputi komponen:&lt;br /&gt;a. Materi skripsi dengan bobot 50% terdiri dari:&lt;br /&gt;1) Konsistensi logis materi skripsi;&lt;br /&gt;2) Kadar keaslian, bobot analisis dan bahan acuan skripsi;&lt;br /&gt;3) Sistematika dan alur penulisan skiipsi&lt;br /&gt;b. Format atau tata tulis dan bahasa tulisan dengan bobot 10% &lt;br /&gt;c. Presentasi skripsi dengan bobot 40% terdiri dari:&lt;br /&gt;1) Kedalaman dan keluasan penguasaan materi;&lt;br /&gt;2) Ketepatan dan kelancaran memberikan jawaban;&lt;br /&gt;3) Sikap berpikir ilmiah.&lt;br /&gt;d. Penilaian ujian munaqasah menggunakan rumus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;NM : Nilai Munaqasah&lt;br /&gt;NP1 : Nilai Penguji 1&lt;br /&gt;NP2 : Nilai Penguji 2&lt;br /&gt;NP3 : Nilai Penguji 3&lt;br /&gt;NP4 : Nilai Penguji 4&lt;br /&gt;NB1 : Nilai Bimbingan (Pembimbing I)&lt;br /&gt;NB2 : Nilai Bimbingan (Pembimbing II)&lt;br /&gt;e. Penilaian akhir skripsi menggunakan rumus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;NAS : Nilai Akhir Skripsi&lt;br /&gt;NP  : Nilai Proposal&lt;br /&gt;NM : Nilai munaqasah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 1 SISTEMATIKA LAPORAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sistematika Laporan Penelitian&lt;br /&gt;1. Laporan penelitian kuantitatif maupun kualitatif terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian awal, bagian pokok (inti) dan bagian akhir.&lt;br /&gt;2. Bagian awal berisi: Halaman Judul, Abstrak Penelitian, Persetujuan Pembimbing, Pengesahan, Motto, Persembahan, Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, dan Daftar Lampiran.&lt;br /&gt;3. Bagian inti berisi: Pendahuluan, Landasan Teori, Kerangka Berpikir, Pengajuan Hipotesis. Metodologi, Penelitian, Hasil Penelitian dan Pembahasan, serta Kesimpulan, Saran-saran dan Penutup.&lt;br /&gt;4. Bagian akhir berisi: Daftar Pustaka, Lampiran-lampiran.&lt;br /&gt;5. Sistematika laporan penelitian kuantitatif secara garis besar meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING&lt;br /&gt;HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI&lt;br /&gt;DEKLARASI/PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI&lt;br /&gt;PERSEMBAHAN&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR &lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;PEDOMAN TRANSLITERASI&lt;br /&gt;DAFTAR SINGKATAN&lt;br /&gt;DAFTAR TABEL&lt;br /&gt;DAFTAR GAMBAR/BAGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I  : PENDAHULUAN, berisi:&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;B. Identifikasi Masalah &lt;br /&gt;C. Pembatasan Masalah &lt;br /&gt;D. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;E. Tujuan dan Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;BAB II : LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS berisi: &lt;br /&gt;A. Deskripsi Teori &lt;br /&gt;B. Kajian Penelitian Yang Relevan &lt;br /&gt;C. Pengajuan Hipotesis&lt;br /&gt;BAB III :  METODE PENELITIAN, berisi: &lt;br /&gt;A. Waktu dan Tempat Penelitian &lt;br /&gt;B. Variabel Penelitian&lt;br /&gt;C. Metode Penelitian&lt;br /&gt;D. Populasi. Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel&lt;br /&gt;E. Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;F. Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;BAB IV  :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN &lt;br /&gt;A. Deskripsi Data Hasil Penelitian &lt;br /&gt;B. Pengujian Hipotesis &lt;br /&gt;C. Pembahasan Hasil Penelitian &lt;br /&gt;D. Keterbatasan Penelitian&lt;br /&gt;BAB V :  KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;B. Saran-saran &lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN&lt;br /&gt;BIODATA PENELITI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sistematika Penelitian Kualitatif secara garis besar meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;PERSETUJUAN PEMBIMBING&lt;br /&gt;DEKLARASI&lt;br /&gt;PERSEMBAHAN&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR &lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;PEDOMAN TRANSLITERASI&lt;br /&gt;DAFTAR SINGKATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I  :  PENDAHULUAN berisi:&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;B. Penegasan Istilah&lt;br /&gt;C. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;D. Tujuan dan Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;E. Telaah Pustaka&lt;br /&gt;F. Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;1. Jenis Penelitian&lt;br /&gt;2. Pendekatan Penelitian&lt;br /&gt;3. Metode Pengumpulan Data&lt;br /&gt;4. Metode Analisis Data&lt;br /&gt;BAB II : LANDASAN TEORI berisi:&lt;br /&gt;Landasan teori sangat berkaitan dengan tema penelitian, dan sifanya hanya untuk mendukung analisis.&lt;br /&gt;BAB III : KAJIAN OBJEK PENELITIAN, berisi:&lt;br /&gt;Pemaparan Data Penelitian&lt;br /&gt;BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN&lt;br /&gt;BAB V : KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;B. Saran-saran&lt;br /&gt;C. Penutup &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN&lt;br /&gt;BIODATA PENULIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penjelasan Bagian-Bagian Skripsi &lt;br /&gt;Guna menghindarkan bias dan salah paham sehubungan dengan sistematika dan subtansi laporan penelitian atau skripsi, maka kerangka dan sistematika penelitian model penelitian kuantitatif dan kualitatif tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Halaman Judul&lt;br /&gt;Halaman judul sama dengan halaman cover. Halaman sampul berisi: judul penelitian skripsi, judul skripsi secara lengkap, nama dan nomor induk mahasiswa (NIM), lambang STAI Sangatta diikuti dengan nama lengkap jurusan, program studi dan tahun pembuata/disahkan. Semua tulisan pada halaman ini dicetak dengan huruf besar (kapital). Komposisi huruf dan tata letak masing¬-masing bagian diatur secara sistematis, rapi dan serasi. (Contoh Terlampir)&lt;br /&gt;2. Abstrak&lt;br /&gt;Kata abstrak ditulis di tengah halaman dengan huruf besar, simetris di batas atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. Nama penulis diketik dengan jarak 2 spasi dari kata abstrak, di tepi kiri dengan urutan: nama akhir diikuti koma, nama awal, nama tengah (jika ada) diakhiri titik. Judul digarisbawahi atau dicetak miring dan diketik dengan huruf kecil (kecuali huruf-huruf pertama dari setiap kata bukan kata depan) dan diakhiri dengan titik. Kata skripsi, ditulis setelah judul dan diakhiri dengan koma, diikuti dengan nama jurusan (tidak boleh disingkat), nama fakultas dan uni¬versitas dan diakhiri dengan titik. Kemudian dicantumkan nama dosen pembimbing. Abstrak skripsi memuat bagian isi skripsi secara singkat. Banyaknya kata dalam abstrak antara 600-1000 kata. Isi abstrak meliputi:&lt;br /&gt;a. Alinea pertama berisi judul penelitian dan jenis penelitian. &lt;br /&gt;b. Alinea kedua berisi tujuan penelitian&lt;br /&gt;c. Alinea ketiga berisi hipotesis (kalau ada) &lt;br /&gt;d. Alinea keempat berisi alat analisis &lt;br /&gt;e. Alinea kelima berisi hasil penelitian Alinea keenam berisi kesimpulan &lt;br /&gt;f. Alinea ketujuh berisi implikasi (Contoh Terlampir)&lt;br /&gt;3. Persetujuan Pembimbing&lt;br /&gt;Persetujuan Pembimbing berisi uraian tentang pernyataan Pembimbing I, bahwa naskah sudah sempurna diperiksa dan diusulkan kepada Ketua Jurusan untuk dapat diujikan. (Contoh Terlampir)&lt;br /&gt;4. Deklarasi&lt;br /&gt;Halaman deklarasi adalah halaman yang berisi pernyataan dari penulis skripsi, bahwa skripsi dimaksud adalah murni hasil dari pemikiran dan tulisan sendiri (bukan jiplakan). (Contoh Terlampir)&lt;br /&gt;5. Persembahan&lt;br /&gt;Berisi uraian kalimat untuk siapa skripsi didedikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kata Pengantar&lt;br /&gt;Penulisan kata pengantar, bukan merupakan tulisan ilmiah. Jadi penulis bebas menentukan bagaimana cara menulisnya. Secara umum, kata pengatar meliputi: &lt;br /&gt;a. Alinea pertama berisi pernyataan syukur penulis kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;b. Alinea kedua berisi maksud dan tujuan penulisan skripsi.&lt;br /&gt;c. Alinea ketiga berisi tentang ucapan terima kasih penulis kepada pihak lain yang membantu.&lt;br /&gt;d. Alinea keempat berisi permohonan kritik, saran dan harapan penulis kepada pembaca. Pada bagian akhir teks (di pojok kanan bawah) dicantumkan kata Penulis tanpa menyebut nama terang.&lt;br /&gt;7. Daftar Isi&lt;br /&gt;Di dalam halaman daftar isi memuat judul bab, judul subbab, dan judul anak subbab yang disertai dengan nomor halaman tempat pemuatannya di dalam teks. Semua judul bab diketik dengan huruf kapital (besar), sedangkan judul subbab dan anak subbab hanya harus awalnya saja yang diketik dengan huruf besar. Daftar isi hendaknya menggambarkan garis besar organisasi keseluruhan isi Skripsi.&lt;br /&gt;8. Daftar Tabel&lt;br /&gt;Halaman daftar tabel memuat: nomor tabel, judul tabel, serta nomor halaman untuk setiap tabel. Judul tabel harus sama dengan judul tabel yang terdapat di dalam teks. Judul tabel yang memerlukan lebih dari satu baris diketik dengan spasi tunggal antara judul tabel yang satu dengan yang lainnya diberi jarak satu setengah spasi.&lt;br /&gt;9. Daftar Gambar/Bagan&lt;br /&gt;Pada halaman daftar gambar dicantumkan nomor gambar, judul gambar, dan nomor halaman tempat pemuatan dalam teks. Judul gambar yang memerlukan lebih dari satu baris diketik dengan spasi tunggal. Antara judul gambar yang satu dengan yang lainnya diberi jarak setengah spasi.&lt;br /&gt;10. Pedoman Transliterasi&lt;br /&gt;Transliterasi yang digunakan adalah pengalih-hurufan dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Transliterasi Arab-Latin di sini ialah penyalinan huruf-huruf Arab dengan huruf-huruf latin beserta perangkatnya. &lt;br /&gt;11. Daftar Singkatan&lt;br /&gt;Singkatan mungkin dapat dimengerti oleh kalangan tertentu, terutama mereka yang memiliki disiplin keilmuan tertentu. Namun, karena skripsi yang disusun oleh seseorang juga dibaca oleh kalangan luas, maka seluruh singkatan (kalau ada) harus diterangkan. &lt;br /&gt;12. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Di dalam bagian ini dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoritik ataupun kesenjangan praktis yang melatar belakangi masalah yang diteliti. Di dalam latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas tentang teori, hasil-hasil penelitian terdahulu, kesimpulan seminar dan diskusi ilmiah maupun pengalaman atau pengamatan pribadi yang terkait erat dengan pokok masalah yang diteliti. Dengan demikian, masalah yang dipilih untuk diteliti mendapat landasan berpijak yang kokoh.&lt;br /&gt;13. Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;Dalam identifikasi masalah dikemukakan masalah-masalah yang memiliki keterkaitan dengan grand masalah, kemudian dibatasi bila tidak semua masalah ingin/dapat diteliti. &lt;br /&gt;14. Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;Pembatasan masalah merupakan upaya untuk menetapkan batas-batas Permasalahan dengan jelas, yang memungkinkan peneliti dapat mengidentifikasi factor mana saja yang termasuk dan faktor mana yang tidak termasuk ke dalam ruang lingkup pernasalahan penelitian. &lt;br /&gt;15. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang ingin dicarikan jawabannya. Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah.&lt;br /&gt;Rumusan masalah hendaknya disusun secara singkat, padat, jelas dan dituangkan dalam bentuk kalimat tanya. Rumusan masalah yang baik akan menampakkan variabel-variabel yang diteliti, jenis atau sifat hubungan antara variabel-variabel tersebut, dan subjek penelitian. Selain itu rumusan masalah hendaknya dapat diuji secara empiris, dalam arti memungkinkan dikumpulkannya data untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.&lt;br /&gt;16. Tujuan dan Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam supe. Rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Masalah penelitian dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya, sedang rumusan tujuan penelitian dituangkan dalam kalimat pernyataan.&lt;br /&gt;Kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. dari uraian dalam bagian IN diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.&lt;br /&gt;17. Landasan Teori &lt;br /&gt;Dalam kegiatan ilmiah, dugaan atau jawaban sementara suatu masalah haruslah menggunakan pengetahuan ilmiah (ilmu) sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh jawaban yang rasional dan dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Sebelum mengajukan hipotesis peneliti wajib mengkaji teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang diteliti yang dipaparkan dalam Bab II.&lt;br /&gt;Landasan teori memuat dua hal pokok, yaitu deskripsi teoritis tentang objek (variabel) yang diteliti dan kesimpulan tentang kajian yang antara lain berupa argumentasi atas hipotesis yang diajukan dalam bab yang mendahuluinya. Untuk dapat memberikan deskripsi teoritis terhadap variabel yang diteliti, maka diperlukan adanya kajian teori yang mendalam. Selanjutnya, argumentasi atas hipotesis yang diajukan menuntut peneliti untuk mengintegrasikan teori yang dipilih sebagai landasan penelitian dengan hasil kajian temuan penelitian yang relevan.&lt;br /&gt;Landasan teori dapat menggunakan berbagai sumber seperti jurnal penelitian, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar dan diskusi ilmiah, terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Akan lebih baik jika kajian teoritis adalah telaah terhadap temuan-temuan penelitian didasarkan pada sumber kepustakaan primer, yaitu bahan pustaka yang isinya bersumber pada temuan penelitian. Sumber kepustakaan sekunder dapat dipergunakan sebagai penunjang. Pemilihan bahan pustaka yang akan diuji didasarkan pada dua prinsip, yaitu: (1) prinsip kemutakhiran dan (2) prinsip relevansi.&lt;br /&gt;18. Kajian Penelitian yang Relevan/Telaah Pustaka&lt;br /&gt;Kajian Penelitian yang relevan/telaah pustaka merupakan deskripsi hubungan antara masalah yang diteliti dengan kerangka/landasan teoritik yang dipakai serta hubungannya dengan penelitian yang terdahulu yang relevan. &lt;br /&gt;Kajian penelitian yang relevan/telaah pustaka memuat uraian sistematis tentang penelitian sejenis yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dan yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Dalam telaah pustaka ini harus secara jelas dinyatakan bahwa permasalahan yang akan diteliti belum terjawab atau belum terpecahkan oleh peneliti-peneliti sebelumnya.&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan penelitian/penulisan skripsi, mahasiswa harus mencari tulisan-tulisan yang sudah ada, baik dalam bentuk buku/kitab, skripsi maupun hasil penelitian lainnya yang membahas masalah yang serupa. Setelah itu, secara jujur, ia menjelaskan apa saja yang telah dikemukakan dalam tulisan-tulisan yang sudah ada, lalu ia ungkapkan apa yang akan dikaji atau teliti dalam. Peneliti atau penulis skripsi boleh saja membuat judul skripsi yang mirip bahkan sama dengan judul skripsi yang sudah ada sepanjang pembahasannya menggunakan pendekatan yang berbeda, sehingga tidak terkesan terjadi duplikasi dalam penelitian. &lt;br /&gt;19. Hipotesis Penelitian&lt;br /&gt;Secara prosedural hipotesis penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritis yang diperoleh dari kajian pustaka. Hipotesis merupakan jawaban sementara dari masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Secara teknis, hipotesis penelitian dicantumkan dalam Bab I (Bab Pendahuluan) agar hubungan antara masalah yang diteliti dan kemungkinan jawabannya menjadi lebih jelas. Atas dasar inilah, di dalam latar belakang masalah harus ada paparan tentang kajian pustaka yang relevan dalam bentuknya yang ringkas.&lt;br /&gt;Rumusan hipotesis hendaknya bersifat definitif atau dileksional. Artinya, dalam rumusan hipotesis tidak hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antar variabel, melainkan telah ditunjukkan sifat hubungan atau keadaan perbedaan itu. Rumusan hipotesis yang baik hendaknya: (a) menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih, (b) dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan, (c) dirumuskan secara singkat, padat, dan jelas, serta (d) dapat diuji secara empiris.&lt;br /&gt;20. Waktu dan Tempat Penelitian&lt;br /&gt;Kapan dan dimana penelitian itu dilakukan.&lt;br /&gt;21. Variabel Penelitian&lt;br /&gt;Mendeskripsikan variabel dan indikator vanabel penelitian dengan mengacu landasan teori tentang variabel sebagimana dijelaskan dalam Bab II.&lt;br /&gt;22. Metode Penelitian&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalarn penelitian, misalnya metode survai dengan teknik analisis korelasional atau menggunakan metode penelitian yang lain sesuai dengan topik kajian penelitian.&lt;br /&gt;23. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel &lt;br /&gt;Mendeskripsikan populasi dan sampel penelitian, serta bagaimana cara pegambilan sampel berdasarkan acuan teori yang dipakai.&lt;br /&gt;24. Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Dalam bagian ini dikemukakan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data fidelitas dan struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana penyajian bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan memiliki fidelitas rendah). Sedangkan dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data dan prosedur perekaman diuraikan daripada bagian ini. Selain itu kemukakan pula waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.&lt;br /&gt;25. Teknik Analisis Data &lt;br /&gt;Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain peneliti dan penyaji dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis kawasan, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametric, logika, etika atau estetika.&lt;br /&gt;26. Deskripsi Data Hasil Penelitian&lt;br /&gt;Dalam deskripsi data untuk masing-masing variabel dilaporkan hasil penelitian yang telah diolah dengan teknik statistik deskriptif, seperti distribusi frekuensi yang disertai dengan grafik yang berupa histogram, nilai rerata, simpangan baku atau yang lain. Setiap variabel dilaporkan dalam subbab tersendiri dengan merujuk pada rumusan masalah atau tujuan penelitian.&lt;br /&gt;Temuan penelitian yang sudah disajikan dalam bentuk angka-angka statistik, 'label maupun grafik tidak dengan sendirinya bersifat komunikatif. Penjelasan terhadap hal tersebut masih diperlukan. Namun, bahasan pada tahun ini perlu dibatasi pada hal¬-hal yang bersifat faktual, tidak mencakup pendapat pribadi (interpretasi) peneliti.&lt;br /&gt;27. Pengujian Hipotesis&lt;br /&gt;Pemaparan tentang hasil pengujian hipotesis pada dasarnya tidak berbeda dengan penyajian temuan penelitian untuk masing-masing variabel. Hipotesis penelitian dapat dikemukakan sekali lagi dalam bab ini, termasuk hipotesis nolnya, dan masing-masing diikuti dengan hasil pengujiannya serta penjelasan atas hasil pengujian itu secara ringkas dan padat. Penjelasan terhadap hasil pengujian hipotesis ini terbatas pada interpretasi atas angka statistik yang diperoleh dari perhitungan statistik.&lt;br /&gt;28. Hasil Penelitian dan Pembahasan&lt;br /&gt;Bab IV memuat uraian tentang data dan temuan yang diperoleh dengan menggunakan metode dan prosedur yang diuraikan dalam Bab III. Uraian ini terdiri atas deskripsi data yang disajikan dengan topik sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan hasil analisis data. Deskripsi data tersebut diperoleh dari pengamatan (apa yang terjadi) dan/ atau hasil wawancara (apa yang dikatakan) serta deskripsi informasi lainnya (misalnya yang berasal dari dokumen, total, rekaman video, dan hasil pengukuran). Hasil analisis data yang merupakan temuan penelitian disajikan dalam bentuk pola, tema, kecenderungan, dan motif yang muncul dari data. Di samping itu, temuan dapat berupa penyajian kategori, sistem klasifikasi dan tipologi.&lt;br /&gt;Dalam penelitian yang menguji hipotesis, laporan mengenai hasil-hasil yang diperoleh sebaiknya dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama berisi uraian tentang karakteristik masing-masing variabel. Bagian kedua memuat uraian tentang hasil pengujian hipotesis.&lt;br /&gt;29. Keterbatasan Penelitian&lt;br /&gt;Hasil penelitian apapun yang telah dilakukan secara optimal oleh peneliti, disadari atau tidak tentu memiliki beberapa keterbatasan. Walaupun demikian hasil penelitian yang diperoleh tersebut tetap dapat dijadikan acuan awal bag] penelitian selanjutnya. Dalain hal in] peneliti perlu menjelaskan beberapa keterbatasan¬keterbatasan penelitian yang dimaksud.&lt;br /&gt;30. Kesimpulan&lt;br /&gt;Isi kesimpulan penelitian harus terkait langsung dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dengan kata lain, kesimpulan penelitian terikat secara substantif terhadap temuan-temuan penelitian yang mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kesimpulan juga dapat ditarik dari hasil pembahasan, namun yang benar-benar relevan dan mampu memperkaya temuan penelitian yang diperoleh. Kesimpulan penelitian merangkum semua hasil penelitian yang telah diuraikan secara lengkap dalam Bab IV. Tata urutannya pun hendaknya sama dengan yang ada di dalam Bab IV. Dengan demikian, konsistensi isi dan tata urutan rumusan masalah, tujuan penelitian, hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian tetap terpelihara. &lt;br /&gt;31. Saran-saran&lt;br /&gt;Saran yang diajukan hendaknya selalu bersumber pada temuan penelitian, pembahasan, dan kesimpulan hasil penelitian. Saran hendaknya tidak keluar dari batas-batas lingkup dan implikasi penelitian.&lt;br /&gt;Saran yang baik dapat dilihat dari rumusannya yang bersifat rinci dan operasional. Artinya, jika orang lain hendak melaksanakan saran itu, ia tidak mengalami kesulitan dalam menafsirkan atau melaksanakannya. Di samping itu, saran yang diajukan hendaknya telah spesifik. Saran dapat ditujukan kepada perguruan tinggi, lembaga pemerintah maupun swasta, atau pihak lain yang dianggap layak.&lt;br /&gt;32. Kata Penutup&lt;br /&gt;Berisi kata akhir yang menyangkut ucapan terima kasih terhadap semua yang telah berpartisipasi, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi.&lt;br /&gt;33. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya dipakai sebagai bahan bacaan tetap tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, harus dicantumkan dalam daftar rujukan.&lt;br /&gt;Istilah daftar pustaka digunakan untuk menyebut daftar yang berisi bahan-bahan pustaka yang dipakai oleh penulis, baik yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dalam teks. Untuk skripsi, artikel, daftar bahan pustaka yang ditulis hanya yang dirujuk dalam teks, sehingga istilah yang dipakai adalah daftar rujukan, bukan daftar pustaka. &lt;br /&gt;34. Lampiran-Lampiran&lt;br /&gt;Lampiran-lampiran hendaknya berisi keterangan-keterangan yang dipandang penting untuk skripsi, misalnya instrumen penelitian, data mentah hasil penelitian, rumus-rumus statistik yang digunakan (bila perlu), hasil perhitungan statistik, surat izin dan tanda bukti telah melaksanakan pengumpulan dan penelitian, dan lampiran lain yang dianggap perlu. Untuk mempermudah pemanfaatannya, setiap lampiran harus diberi nomor urut lampiran dengan menggunakan angka Arab (satu, dua, tiga, dst).&lt;br /&gt;35. Biodata Peneliti&lt;br /&gt;Biodata penelitian mendeskripsikan riwayat hidup peneliti, tampat, tanggal lahir dan pendidikan yang telah ditempuh.&lt;br /&gt; (By Zamrony)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-2847564671018003121?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/2847564671018003121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/10/tpki.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2847564671018003121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2847564671018003121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/10/tpki.html' title='TPKI'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-2887054088903646375</id><published>2010-09-27T20:24:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T20:46:32.490-07:00</updated><title type='text'>silabus dasar-dasar kependidikan</title><content type='html'>SILABI MATAKULIAH&lt;br /&gt;DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN &lt;br /&gt;Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda&lt;br /&gt;Tahun Akademik 2009/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Kuliah : Dasar-Dasar Pendidikan (DDP)&lt;br /&gt;Komponen : MKK&lt;br /&gt;Jurusan         : Tarbiyah&lt;br /&gt;Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)&lt;br /&gt;Program         : Sarjana (S1)&lt;br /&gt;Dosen Pengasuh : M.Zamrony, M.Pd&lt;br /&gt;Bobot         : 2 SKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Tujuan&lt;br /&gt;Mahasiswa dapat memahami dan memperoleh wawasan pendidikan yang komprehensif dan fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wawasan pendidikan yang komprehensif dan fungsional, mahasiswa dapat memperoleh bekal untuk lebih mempermudah dalam mempelajari konsep-konsep pendidikan spesialisasi keguruan atau non-keguruan yang lebih teknis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membangun sikap kritis dan konstruktif dalam menanggapi teori-teori, konsep-konsep, masalah-masalah dan praktek-praktek pendidikan yang berkembang dalam masyarakat, serta berguna dalam melaksanakan tugas profesionalnya dalam dunia pendidikan kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Materi&lt;br /&gt;1. Pengertian dan hakikat pendidikan&lt;br /&gt;        Definisi pendidikan secara luas&lt;br /&gt;        Definisi pendidikan secara sempit&lt;br /&gt;        Definisi alternatif atau luas terbatas&lt;br /&gt;2.   Batasan dan Unsur-unsur Pendidikan&lt;br /&gt;        Batasan Pendidikan Berdasarkan Fungsinya &lt;br /&gt;        Unsur-unsur Pendidikan&lt;br /&gt;        Pendidikan Sebagai Sebuah Sistem&lt;br /&gt;3.   Pandangan Pendidikan Tentang Manusia sebagai Animal Educandum&lt;br /&gt;        Mengapa manusia harus didik/mendidik?&lt;br /&gt;        Mengapa manusia dapat didik/mendidik?&lt;br /&gt;        Batas-batas kemungkinan pendidikan&lt;br /&gt;        Kekeliruan-kekeliruan pendidikan&lt;br /&gt;4. Landasan dan Asas-asas Pendidikan&lt;br /&gt;        Landasan Pendidikan Pendidikan&lt;br /&gt;        Asas-asas Pokok Pendidikan&lt;br /&gt;5. Aliran-aliran Pendidikan: Gerakan Pembaharuan Pendidikan Developmentalisme&lt;br /&gt;        Pestalozzi dan Pestalozzianisme&lt;br /&gt;        Herbart dan Herbartianisme&lt;br /&gt;        Froebel dan Froebelianisme&lt;br /&gt;6. Aliran-aliran Pendidikan: Gerakan Pembaharuan Pendidikan Progresivisme dan  Rekonstruksionalisme&lt;br /&gt;        Progresivisme&lt;br /&gt;        Rekonstruksionalisme Sosial&lt;br /&gt;7. Aliran-aliran Pendidikan: Gerakan Pembaharuan Pendidikan Essensialisme dan Perenialismes&lt;br /&gt;        Essensialisme&lt;br /&gt;        Perenialisme&lt;br /&gt;8. Pendidikan Seumur Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Karakteristik dan Faktor-faktor yang mendorong Perlunya Pendidikan Seumur Hidup&lt;br /&gt;       Kerangka Kerja Teoritis Pendidikan Seumur Hidup&lt;br /&gt;       Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup bagi Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Karakteristik Sistem Pendidikan Nasional Indonesia: Nasionalisme Sebagai Landasan Pendidikan&lt;br /&gt;        Nasionalisme dan Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;        Karakteristik Sistem Pendidikan Nasional Indonesia&lt;br /&gt;        Karakteristik Pendidikan &lt;br /&gt;10. Landasan Historis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia: Pendidikan Tradisional&lt;br /&gt;        Pendidikan Tradisional Hindu-Budha&lt;br /&gt;        Pendidikan Islam Tradisional&lt;br /&gt;        Pendidikan Katolik dan Protestan&lt;br /&gt;11. Landasan Historis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia: Pendidikan Kolonial Belanda dan Jepang&lt;br /&gt;        Pendidikan Kolonial Belanda Abad 19 dan 20&lt;br /&gt;        Pendidikan Kolonial Jepang&lt;br /&gt;12. Perintis-Perintis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia: Ki Hajara Dewantara dan Muhammad Syafe’i&lt;br /&gt;        Perguruan Nasional Taman Siswa&lt;br /&gt;        Pendidikan INS Kayutanam&lt;br /&gt;13. Problematika Pendidikan di Indonesia dan Pemecahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Referensi&lt;br /&gt;1. Mudyahardjo, Redja, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002).&lt;br /&gt;2. Pidarta, Made, Prof., Dr., Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, (Jakarta, PT Rineka Cipta:…)&lt;br /&gt;3. Ahmadi, Abu., Drs., Pendidikan Dari Masa Ke Masa,(Bandung, Armico: 1987)&lt;br /&gt;4. Tirtarahardja, Umar &amp; S.L. La Sulo, Pengantar Pendidikan, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2001)&lt;br /&gt;5. Ihsan, Fuad., Drs. H. Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2005)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-2887054088903646375?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/2887054088903646375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/09/silabus-dasar-dasar-kependidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2887054088903646375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/2887054088903646375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/09/silabus-dasar-dasar-kependidikan.html' title='silabus dasar-dasar kependidikan'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-7450489296561516607</id><published>2010-09-15T19:21:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T19:23:27.506-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN ISLAM  BERORIENTASI MASA DEPAN (Konsep Pendidikan Ulul Albab Imam Suprayogo)</title><content type='html'>PENDIDIKAN ISLAM &lt;br /&gt;BERORIENTASI MASA DEPAN&lt;br /&gt;(Konsep Pendidikan Ulul Albab Imam Suprayogo)&lt;br /&gt;By Zamrony&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Pendidikan adalah sebuah keniscayaan yang harus dienyam oleh segenap umat manusia yang hidup di alam ini sejak lahir hingga liang lahat. Pendidikan dengan segala problematikanya selalu berubah seiring perubahan zaman dan tantangan hidup yang dihadapi umat manusia. Maka sebuah kewajaran jika pendidikan akan selalu berubah dan berkembang dari masa ke masa.&lt;br /&gt;Tidak ketinggalan pula pendidikan di Indonesia yang hadir beserta problematika dan tantangannya telah melahirkan berbagai konsep pendidikan yang berbeda antara satu tempat dengan dengan tempat yang lain, antara satu generasi dengan generasi berikutnya. Maka sebuah kemustahilan jika sebuah konsep pendidikan akan berhasil secara maksimal jika diterapkan untuk seluruh daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;Begitu juga konsep tentang pendidikan Islam akan selalu berkembang seiring perjalanan waktu dan berkembangnya kebutuhan umat. Maka sebuah lembaga pendidikan Islam akan dapat diterima dan berkembang dengan baik serta mampu memberikan andil dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara jika lembaga tersebut mampu menyediakan kebutuhan umat dan menghadirkan sebuah masa depan pendidikan Islam yang menjanjikan.&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhan umat akan pendidikan Islam maka perlu ada dinamisasi dan reorientasi lembaga pendidikan Islam secara terus menerus. Begitu pula yang harus dilakukan oleh civitas akademika dan seluruh pihak yang terkait dengan pendidikan Islam jika menginginkan peran lembaga pendidikan Islam yang lebih besar dalam merubah peradaban umat. Serta pendidikan berfungsi sebagai barometer kemajuan sebuah bangsa, termasuk di dalamnya pendidikan Islam.&lt;br /&gt;B. Pendidikan Islam di UIN&lt;br /&gt;Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai lembaga pendidikan Islam hingga saat ini juga terus mengalami perubahan dan perkembangan seiring tuntutan zaman. Jika pada awal berdiri keberadaan UIN (red. IAIN/STAIN) hanya sebagai sarana pemerintah dalam merespon aspirasi masyarakat akan keberadaan lembaga pendidikan Islam di bawah naungan pemerintah, dan lulusannya hanya memiliki ruang gerak yang sangat terbatas dan domestik. Maka sekarang image tersebut mulai berubah dan UIN mulai berbenah untuk memainkan peran yang lebih besar di negeri ini dalam semua lini. &lt;br /&gt;Seperti halnya Universitas Islam Negeri Jakarta di bawah kepemimpinan Azyumardi Azra merupakan lembaga pendidikan tinggi pertama yang mengembangkan kursus pelatihan pengajar dan buku teks pendidikan kewarganegaraan berbasis demokrasi. Dalam mengembangkan pendidikan Islam ke depan di UIN Jakarta ia mempunyai gagasan untuk menghapus dikotomi pendidikan yang ada dilingkungannya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan berupaya untuk mengintegrasikannya.  Sehingga ke depan lembaga yang dikomandaninya dapat menjadi lembaga transformasi ilmu dan teknologi dan mampu menjadi motor pembaharu pemikiran Islam di masa yang akan datang. Berbagai langkah dan gagasan dimunculkan untuk menyatukan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam pandangannya banyak sekali orang-orang yang memiliki potensi akademik tetapi tidak mendapat pengakuan dan kesempatan untuk belajar di tingkat perguruan tinggi karena tidak memiliki ijazah negeri padahal mereka memiliki potensi untuk menjadi seorang intelektual muslim di masanya. Sehingga pada tahun 1998 UIN Jakarta menerima lulusan pesantren meski mereka hanya memiliki ijazah lokal.&lt;br /&gt;Perbedaan kondisi geografis ternyata juga turut andil dalam perubahan dan pengembangan lembaga pendidikan. Dengan tuntutan yang berbeda dimasing-masing wilayah dari waktu ke waktu menjadikan model dan konsep pendidikan Islam yang diterapkan juga berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Begitu juga dengan keberadaan UIN Malang dibawah kepemimpinan Imam Suprayugo yang berusaha meretas jalan emas dalam dunia pendidikan melalui elaborasi antara ilmu agama dan ilmu umum serta eksistensi UIN Malang sebagai sebuah perguruan tinggi Islam yang dituntut untuk mampu menjawab problematika umat mempunyai konsep pendidikan yang dikenal dengan Tarbiyah Ulu al-Albab : Dzikir, Fikir dan Amal Shaleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Biografi Imam Suprayugo dan Pemikiran Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Imam Suprayugo adalah salah seorang praktisi pendidikan Islam yang cukup dikenal dalam kancah pendidikan Indonesia terlebih lagi dengan keberadaannya sekarang sebagai Rektor UIN Malang. Pria kelahiran Gemaharjo Watulimo Trenggalek ini telah memulai perjalanan pendidikannya sejak dari tanah kelahirannya. Dengan segala keterbatasan ekonomi orang tua Imam Suprayogo bercita-cita agar anaknya menjadi pemimpin yang baik untuk sebuah masjid atau madrasah. Dan hal tersebut sudah dibuktikan dengan permulaan karir pendidikan dengan menjadi kepala Madrasah Ibtidaiyah NU di Trenggalek.&lt;br /&gt;Namun kemampuan mengatur sebuah lembaga pendidikan mulai disorot dan diakui oleh masyarakat dan menghantarkannya menduduki jabatan sebagai Pembantu Rektor I Universitas Muhamadiyah Malang selama 13 tahun sejak tahun 1983. Lulusan IAIN Malang Fakultas Tarbiyah ini mulai mempunyai pengalaman yang untuk berkunjung ke berbagai perguruan tinggi di berbagai daerah di dalam negeri dan luar negeri sejak tahun 1990. Dari perjalanan itulah beliau mendapatkan pelajaran yang berharga sekaligus inspirasi untuk melahirkan sebuah kerangka pengembangan universitas Islam di masa mendatang. &lt;br /&gt;Karir pendidikan di UIN Malang dijalani sejak Imam Suprayugo sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN Malang menggantikan H. Tadjab. Dan diamanahi memimpin untuk menjadi Ketua STAIN Malang pada tahun 1997. Pria yang menyelesaikan Program Doktoral di UNAIR Surabaya dengan disertasinya yang berjudul Kyai dan Politik, memang dikenal ahli dalam bidang sosiologi. Maka tidak mengherankan dengan segala pengetahuannya ia berusaha memoles STAIN Malang menjadi sebuah perguruan tinggi Islam yang disegani karena kedalaman spiritual para alumninya dengan keunggulan keilmuan yang dimiliki. Oleh sebab itu ada sebuah jargon yang selalu didengungkan yaitu “ulama yang intelek dan intelektual yang ulama“.&lt;br /&gt;Sebuah konsep pendidikan berparadigma Al-Qur’an coba ditawarkan oleh Imam Suprayugo dalam memimpin sebuah lembaga pendidikan Islam. Konsep ini memiliki empat hal pokok sebagai unsur dari sebuah pendidikan yang Islami. Pembahasan dalam konsep tersebut ialah (1) membacakan ayat-ayat Allah, maksudnya bahawa anak didik dan pendidik harus mampu untuk membaca ayat-ayat Allah yang terdapat pada al-Qur’an (qauliyah) serta juga mampu membaca ayat-ayat Allah yang terhampar di alam semesta (kauniyah) karena dari observasi itulah akan muncul ilmu pengetahuan, (2) mensucikan (tazkiyah), dalam mendidik guru dan tenaga pengajar tidak hanya melakukan tranformasi ilmu pengetahuan saja tetapi juga harus mengisi hati atau bathin dari anak didik dengan cara memperdalam spiritualitas melalui dzikir, sholat, puasa dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, (3) mengajarkan Kitab (al-Qur’an) dan (4) mengajarkan hikmah.  Pada dasarnya konsep tentang pendidikan Islam menurut Imam Suprayugo mempunyai tujuan yaitu menjadikan anak didik mengetahui siapa penciptanya&lt;br /&gt;Dengan demikian diharapkan sebuah lembaga pendidikan Islam akan mampu mencetak ulama-ulama yang mempunyai keluasan ilmu pengetahuan dan para ilmuwan muslim yang memiliki kedalaman spiritual. Dan langkah yang harus diambil untuk mewujudkan itu semua adalah memperkuat pondasi lembaga pendidikan Islam yang meliputi penguasaan bahasa asing, pendanaan yang kuat, kompetensi tenaga pengajar yang mumpuni, sarana dan prasarana yang memadai dan lingkungan yang kondusif untuk dunia akademik.&lt;br /&gt;D. Konsep Tarbiyah Ulu al-Albab&lt;br /&gt;Tarbiyah Ulu al-Albab sekarang ini menjadi konsep pendidikan Islam yang diterapkan di UIN Malang dan dalam pengembangan kampus di masa yang akan datang. Tinjauan filosofis Tarbiyah Ulu al-Albab melihat bahwa manusia yang disebut ulu al-albab adalah sosok manusia yang mengedepankan dzikir, fakir dan amal sholeh. Ia memiliki ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, hati yang lembut dan semangat jiwa pejuang (jihad di jalan Allah). Manusia ulu al-albab adalah manusia yang bertauhid dan karenanya ia berkeyakinan bahwa semua makhluk adalah sama dan tiada yang yang lebih tinggi kecuali ia memiliki kemuliaan yang disebabkan ia memiliki ilmu, iman dan amal sholeh (taqwa). &lt;br /&gt;Komunitas yang berjiwa dan berwatak ulu al-albab adalah komunitas yang berorientasi hanya mencari ridlo Allah semata. Segala kegiatan mendidik, belajar dan bekerja adalah sarana mencapai tujuan yaitu ridho Allah SWT, bukan karena jabatan, rizki dan kedudukan di mata manusia yang bersifat meteri.&lt;br /&gt;Tarbiyah ulu al-albab bentuk riilnya adalah penggabungan antara pesantren dan perguruan tinggi. Sebab telah kita ketahui bagaimana keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan agama Islam yang telah lama berdiri melahirkan manusia yang mengedepankan dzikir. Begitu juga dengan perguruan tinggi yang menghasilkan manusia yang mengedepankan fikir, dan atas keduanya akan melahirkan amal shaleh.&lt;br /&gt;Keberhasilan hidup bagi penyandang ulu al-albab adalah keselamatan di dunia dan akhirat. Ulu al-albab meyakini kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi haris memperoleh perhatian yang seimbang. Melalui dzikir, fakir dan amal shaleh pendidikan ulu al-albab mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik sehat jasmani dan ruhani. Dan tarbiyah ulul albab dikatakan berhasil jika mampu mengantar seseorang memiliki identitas sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. berilmu pengetahuan luas&lt;br /&gt;2. penglihatan yang tajam&lt;br /&gt;3. bercorak cerdas&lt;br /&gt;4. berhati lembut&lt;br /&gt;5. bersemangat juang tinggi karena Allah SWT.&lt;br /&gt;Orientasi Tarbiyah Ulu al-Albab dirumuskan dalam sebuah kalimat perintah : Kunu uli ilmu, kunu uli nuha, kunu uli albab, wa jahidu fi allah haqqa jihadih.  Ulu al-albab berpandangan bahwa jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahuan, cerdas, berpandangan luas dan piranti yang lembut serta mau berjuang di jalan Allah, insya Allah akan mampu melakukan amal shaleh. Konsep amal shaleh diartikan sebagai bekerja secara lurus, tepat, benar atau professional.&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaanya Tarbiyah Ulu al-Albab memiliki berbagai pendekatan sesuai dengan rumusan yang dimiliki yaitu dzikr, fikr dan amal shaleh. Dzikr dilakukan dalam bentuk sholat jama’ah, khotmul al-qur’an, puasa sunah dan memperbayak membaca dzikr (kalimah thayyibah).&lt;br /&gt;Pendekatan fikr dilakukan melalui pendekatan riset terbimbing. Artinya mahasiswa diberi tanggung jawab untuk mengembangkan keilmuan yang dimiliki dengan melakukan riset. Sehingga pendidikan ulu al-albab lebih merupakan kegiatan riset terbimbing oleh dosen. Sebagai ciri khas dari perguruan tinggi adalah melakukan riset dan menemukan sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;Sedangkan amal shaleh haruslah merangkum tiga dimensi yaitu Profesional, transenden atau pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan bagi kehidupan pada umumnya. Dalam melakukan amal shaleh terdapat dua pendekatan, pertama pendekatan keteladanan dengan cara ibda’ bi nafsika; mulai dari diri sendiri. Dan kedua berkenaan dengan pengembangan pemikiran melalui pendekatan kebebasan, keterbukaan dan bertanggung jawab. Sehingga penerapan dan pengembangan keilmuan dapat dilakukan oleh siapa saja, dan seluruh hasil pemikiran dihargai. Dan prinsip terbuka menjadikan manusia ulu al-albab menjadikannya memiliki daya nalar dan kriti.&lt;br /&gt;E. Relevansi Konsep Pendidikan Imam Suprayugo (Tarbiyah  Ulu al-Albab) dengan dunia pendidikan di Indonesia&lt;br /&gt;Konsep pendidikan Ulu al-Albab (Imam Suprayugo) dalam upaya pengembangan pendidikan Islam di Indonesia mendatang pada dasarnya menginginkan dekonstruksi atas dikotomi keilmuan yang ada di lembaga pendidikan Islam. Karena tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan ilmu umum, justru keduanya harus diintegrasikan dalam sebuah proses pendidikan sehingga akan menghasilkan alumni yang tidak saja pandai tetapi juga alim dalam bidang agama. Oleh sebab itu patut kita perhatikan pendapat dari Albert Enstein yang menyatakan bahwa agama tanpa bantuan ilmu pengetahuan akan lumpuh dan gagal mencapai tujuannya yang mulia, dan sebaliknya ilmu pengetahuan tanpa bantuan agama akan buta dan gagal pula melihat tujuannya yang sejati. &lt;br /&gt;Oleh sebab itu Imam Suprayugo dengan kemampuan analisis sosiologinya melakukan langkah awal untuk mencapai tujuan pendidikan ulu al-albab dengan menyiapkan pondasi melalui pembelajaran bahasa Arab di tahun pertama bagi seluruh mahasiswa baru sejak tahun 1997, dan membangun ma’had ’aly untuk mahasiswa baru selama satu tahun sejak tahun 1999. dengan sebuah harapan para mahasiswa tidak hanya kuliah tetapi juga sebagai santri yang akan mengkaji ilmu-ilmu agama di ma’had ’aly. Sehingga para alumni benar-benar menjadi intelektual yang memiliki kedalaman spiritual.&lt;br /&gt;F. Penutup&lt;br /&gt;Sebagai akhir dari ulasan ini penulis melihat bahwa sebuah lembaga pendidikan Islam yang memiliki visi ke depan dengan dukungan sistem pengajaran dan sarana prasarana fisik maupun non-fisik yang memadai sangat dibutuhkan sebagai sebuah pertanggung jawaban kepada umat. Dan konsep pengembangan pendidikan Islam di UIN Malang dengan tarbiyah ulu al-albab patut kiranya menjadi sebuah alternatif pengembangan lembaga pendidikan Islam dalam menjawab tantangan globalisasi dan keterpurukan pendidikan nasional saat ini dan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi.(ed). 2000. Islam Substantif : Agar Umat Tidak Jadi Buih. Bandung. Mizan.&lt;br /&gt;M. Zainudin dan Muhammad In’am Esha (ed), 2004, Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global), Malang, UIN Press.&lt;br /&gt;Suprayugo, Imam.(eds). 2004. Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an. Malang. UIN Malang Press.&lt;br /&gt;............, 1999. Reformulasi Visi Pendidikan Islam. Malang. STAIN Press.&lt;br /&gt;………, 2004. Memelihara Sangkar Ilmu (Refleksi Pemikiran dan Pengembangan UIN Malang). Malang. UIN Press.&lt;br /&gt;UIN Malang. 2004. Tarbiyah Uli al-Albab : Dzikr, Fikr dan Amal Shaleh. Konsep Pendidikan UIN Malang, Malang.&lt;br /&gt;www.TokohIndonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-7450489296561516607?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/7450489296561516607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/09/pendidikan-islam-berorientasi-masa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/7450489296561516607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/7450489296561516607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/09/pendidikan-islam-berorientasi-masa.html' title='PENDIDIKAN ISLAM  BERORIENTASI MASA DEPAN (Konsep Pendidikan Ulul Albab Imam Suprayogo)'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-4792189299200120294</id><published>2010-08-22T08:12:00.000-07:00</published><updated>2010-08-22T08:16:37.083-07:00</updated><title type='text'>MAKNA PUASA DAN ESSENSI PUASA</title><content type='html'>Makna PUASA&lt;br /&gt;Oleh Prof. DR. M. Quraish Shihab, MA&lt;br /&gt;Di Pengajian Bulanan&lt;br /&gt;PSQ (Pusat Studi Al-Quran)&lt;br /&gt;Ciputat – Tangerang&lt;br /&gt;Puasa merupakan salah satu rukun Islam. Di dalam Al-Quran ada 2 kata, yaitu SHIYAM dan SHAUM. Kedua-duanya berasal dari kata yang sama, yang artinya menahan. Orang yang menahan diri disebut Shaim.&lt;br /&gt;SHAUM di dalam Al-Quran berarti menahan diri untuk tidak bicara, sedangkan&lt;br /&gt;SHIYAM di dalam Al-Quran berarti menahan diri dari hal-hal yang buruk menurut Allah&lt;br /&gt;Seringkali kata dalam Al-Quran tapi pemaknaannya dipersempit oleh hokum (fiqh). Seperti shalat, sebenarnya bermakna doa. Tapi dalam hukum (fiqh) itu adalah gerakan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut fiqh, walaupun tidak khusyu tapi kalau sudah melakukan gerakan2 tertentu yg diawali takbir dan diakhiri salam, maka sudah bisa dikatakan itu shalat. Namun sebetulnya menurut Al-Quran, dia belum shalat yang sesungguhnya. Hukum hanya mengatur yang nampak saja, tapi tidak mengatur yang esensi.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan makna SHIYAM. Shiyam menurut hukum adalah tidak makan, minum dan seks sejak terbit matahari sampai terbenam matahari. Tapi sebenarnya makna dalam Al-Quran adalah bukan hanya sampai di situ, tapi juga menahan diri dari segala yang buruk.&lt;br /&gt;Untuk apa SHIYAM ? Kata Allah dalam Al-Quran, adalah agar kita menjadi “Tattaqun”.Surat Al-Baqarah ayat 183. Apa arti Tattaqun ? Tattaqun adalah “kamu menjadi orang-orang yang terhindar dari segala bencana, musibah baik di dunia maupun di akhirat kelak”.&lt;br /&gt;Manusia dalam hidupnya selalu menginginkan kesempurnaan. Orang yang kayapun ingin lebih kaya lagi. Orang menginginkan dirinya dan orang lain menjadi orang-orang yang terbaik dan lebih sempurna dari waktu ke waktu. Bahkan lingkungan tempat tinggalnya pun ingin lebih sempurna dan sempurna lagi. Karya-karya-nya pun disempurnakan terus menerus. Sesuatu dinilai sempurna jika memenuhi tiga hal, yaitu indah, baik dan benar.&lt;br /&gt;Untuk kesempurnaan ini, manusia menemukan bahwa Allah itulah yang Maha Sempurna, karena itu manusia ingin meneladaniNya. (Mempunyai sifat yang Maha Sempurna, karya-karya Allah sangat sempurna dan penuh ketelitian. Allah itu Maha Baik, Maha Indah dan juga Dialah Kebenaran itu sendiri (Al-Haq). PerbuatanNya tidak ada kesalahan atau error disana sini, walaupun jutaan bahkan triliyunan karyaNya. Tidak ada kita mendengar God Error, tapi manusia selalu melakukan Human Error. Manusia ingin memperkecil kesalahan yang diperbuatnya, mengecilkan nilai Human Error. Berapa banyak musibah yang diakibatkan oleh Human Error. Manusia ingin sempurna seperti sempurnaNya sang Maha Sempurna. Manusia ingin meneladaniNya. –RED).&lt;br /&gt;Puasa adalah upaya untuk meneladaniNya. Itulah yang dimaksud “Puasa untukKu, dan Akulah yang akan membalas-Nya” dalam sebuah hadits. Shalat, Zakat, Haji juga untuk Allah, namun semuanya bukan untuk meneladani Allah. Sedangkan Puasa adalah untuk meneladani Allah, agar menjadi sempurna.&lt;br /&gt;Dalam menuju kesempurnaan lingkungan, metode menghilangkan kotoran adalah yang lebih diutamakan daripada menghiasinya. Begitu juga dengan sifat yang buruk dan dari hal-hal yang buruk itu lebih diutamakan untuk dibersihkan. Mana yang lebih dulu : menahan marah atau membaca Quran di bulan Ramadhan ? Jawabannya adalah menahan marah. Apa gunanya parfum jika belum mandi ? Dan umumnya masyarakat melakukan mandi dan pakai parfum namun masih main kotor pula. Ini adalah bahasa kiasan.&lt;br /&gt;Apa hal yang buruk dalam diri manusia ? Yang tidak baik dari diri manusia adalah nafsu ammarah kepada keburukan. Puasa adalah untuk mengatur nafsu sehingga tidak selalu menjadi ammarah kepada keburukan, tapi menjadi nafsu yang muthmainnah dan nafsu yang selalu menyuruh kepada kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi PUASA&lt;br /&gt;Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihah, M.A. &lt;br /&gt;Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.&lt;br /&gt;Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.&lt;br /&gt;Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.&lt;br /&gt;Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.&lt;br /&gt;Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:&lt;br /&gt;“Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.”&lt;br /&gt;Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.&lt;br /&gt;Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu dengan kata “shaum”.&lt;br /&gt;Yang diwajibkan kepada kita bukanlah “shaum”, melainkan “shiyam”. “Shiyam” adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.&lt;br /&gt;Jadi, “shaum” adalah menahan diri, sedangkan “shiyam” adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.&lt;br /&gt;Persamaan “shaum” dan “shiyam”, bahwa kedua-duanya adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak “shaum” dan tidak melakukan “shiyam”.&lt;br /&gt;Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal seperti ini yang akan kita capai.&lt;br /&gt;Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.&lt;br /&gt;Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.&lt;br /&gt;Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks “shiyam”, ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan tersebut.&lt;br /&gt;Esensi shiyam&lt;br /&gt;Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: “la allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.&lt;br /&gt;Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah pakaian takwa tersebut kita kenakan. “Wa libasut taqwa zalika khair”.&lt;br /&gt;Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam “takwa”. Jadi, kalau kita mengatakan “takwa”, maka segala macam kebaikan ada di dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan “dima ul khair” (himpunan dari segala macam kebaikan).&lt;br /&gt;Jika Alquran mengatakan, bahwa ”diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertakwa,” maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.&lt;br /&gt;Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya. Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Ash-shaumuli wa ana azzibi.”&lt;br /&gt;Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.&lt;br /&gt;Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10 pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita mengerti artinya, maka 70 pahalanya.&lt;br /&gt;Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca 30 juz tetapi tidak mengerti artinya.&lt;br /&gt;Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.&lt;br /&gt;Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri, tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta tidak dengki.&lt;br /&gt;Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa lantas digeneralisir. “Akulah yang akan memberi pahalanya,” kata Allah.&lt;br /&gt;Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini dengan mengatakan: “Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.”&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.&lt;br /&gt;Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.&lt;br /&gt;Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?&lt;br /&gt;Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.&lt;br /&gt;Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara. Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah, teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.&lt;br /&gt;Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini. Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah normal&lt;br /&gt;Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:&lt;br /&gt;(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]&lt;br /&gt;Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar “fidyah” saja.&lt;br /&gt;Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.&lt;br /&gt;Ternyata bukan hanya ini.&lt;br /&gt;Allah “ar-rahman”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahman” kepada orang lain? Allah “ar-rahim”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahim” kepada orang lain?&lt;br /&gt;“Rahman” adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan, termasuk juga merahmati orang-orang kafir.&lt;br /&gt;“Rahim”, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;“Malik”, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.&lt;br /&gt;Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.&lt;br /&gt;“Quddus” artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal: benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.&lt;br /&gt;Allah itu “quddus”, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.&lt;br /&gt;Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni. Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.&lt;br /&gt;“‘Alim”, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).&lt;br /&gt;Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang acaranya baik-baik.&lt;br /&gt;“Ghaniy”, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.&lt;br /&gt;“Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf. ”&lt;br /&gt;Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh. Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi, sehingga dia tidak mau meminta-minta.&lt;br /&gt;Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu untuk meminta.&lt;br /&gt;Selain “ghaniy”, ada juga “mughniy”. “Mughniy” artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi kekayaan.&lt;br /&gt;Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.&lt;br /&gt;Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya. Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.&lt;br /&gt;Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah tersebut.&lt;br /&gt;Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“, yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya pun baik dan benar.&lt;br /&gt;Di sini, yang jadi “karim” itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu “karim”. Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?&lt;br /&gt;Allah “karim”, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna, itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa sampai kepada takwa.&lt;br /&gt;Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.&lt;br /&gt;“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu, yaitu: pertama, syahadat “laa ilaa ha illallah”. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”&lt;br /&gt;Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:&lt;br /&gt;“Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.”&lt;br /&gt;Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.&lt;br /&gt;Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.&lt;br /&gt;Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu, kecuali Dia (Allah).&lt;br /&gt;Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;“Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.”&lt;br /&gt;Perbaharui imanmu dari saat ke saat.&lt;br /&gt;“Wa kaifa nujaddid?”&lt;br /&gt;Bagaimana kami memperbaharui iman kami?&lt;br /&gt;“Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.”&lt;br /&gt;Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.&lt;br /&gt;Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan “laa ilaa ha illallah. ” Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.&lt;br /&gt;Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:&lt;br /&gt;“Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.”&lt;br /&gt;Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.&lt;br /&gt;Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat “laa ilaa ha illallah”. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.&lt;br /&gt;Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada kita.&lt;br /&gt;Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?&lt;br /&gt;“Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.”&lt;br /&gt;Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.&lt;br /&gt;Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita ambil yang mudah saja.&lt;br /&gt;Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka, supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?&lt;br /&gt;Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:&lt;br /&gt;{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.&lt;br /&gt;{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.&lt;br /&gt;{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.&lt;br /&gt;{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.&lt;br /&gt;Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?&lt;br /&gt;Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka. Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.&lt;br /&gt;Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.&lt;br /&gt;Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.&lt;br /&gt;Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.&lt;br /&gt;“Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.”&lt;br /&gt;Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah. Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah. Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.&lt;br /&gt;Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini, permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga, jauhkanlah aku dari neraka.”&lt;br /&gt;Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?&lt;br /&gt;Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”&lt;br /&gt;Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga. Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut. Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada kita.&lt;br /&gt;Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya. Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;“Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.”&lt;br /&gt;Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.&lt;br /&gt;Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi diri. Itulah esensi dari puasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-4792189299200120294?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/4792189299200120294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/08/makna-puasa-dan-essensi-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/4792189299200120294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/4792189299200120294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/08/makna-puasa-dan-essensi-puasa.html' title='MAKNA PUASA DAN ESSENSI PUASA'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-4130570476857062424</id><published>2010-06-04T20:52:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T20:55:41.580-07:00</updated><title type='text'>ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN FENOMENANYA</title><content type='html'>ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN FENOMENANYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Topik islamisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam Islam sudah diperdebatkan sejak Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah pada 1977. Tetapi sayangnya tidak ada usaha serius untuk melacak sejarah gagasan dan mengkaji atau mengevaluasi sejumlah persoalan pokok yang berkenalan dengan topik ini pada tingkat praktis.1&lt;br /&gt;Gagasan islamisasi sebenarnya berangkat dari asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai atau netral. Betapapun diakui pentingnya transfer ilmu Barat ke Dunia Islam, ilmu itu secara tak terelakkan sesungguhnya mengandung nilai-nilai dan merefelksikan pandangan dunia masyarakat yang menghasilkannya, dalam hal ini masyarakat Barat. Sebelum diajarkan lewat pendidikan, ilmu tersebut harus ditapis terlebih dahulu agar nilai-nilai yang bertentangan secara diametral dengan pandangan-dunia Islam bisa disingkirkan. Gagasan islamisasi, dengan demikian, merupakan upaya dekonstruksi terhadap ilmu pengetahuan Barat untuk kemudian direkonstruksi ke dalam sistem pengetahuan Islam.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tokoh Islamisasi&lt;br /&gt;Bagi masyarakat awam di Indonesia, nama Syed Muhammad Naquib Al-Attas mungkin terasa asing.  Tetapi bagi kalangan akademinisi yang pernah membaca karya-karyanya dalam edisi bahasa Indonesia seperti Islam dan Sekulerisme (Pustaka, Bandung) yang pernah populer pada dekade 80-an; Islam dan Filsafat Sains atau Konsep Pendidikan Islam (Mizan, Bandung) hampir pasti mengenalnya. Al-Attas, pria asli kelahiran Bogor Jawa Barat, 5 September 1931 namun besar di Malaysia tersebut, sangat memahami secara akurat akar kebudayaan dan pandangan hidup Islam dan Barat. Dari itu pula, ia mampu mengidentifikasi penyebab kemunduran umat Islam kemudian memberi solusi konseptual secara tepat.  Menurutnya, kemunduran umat Islam itu disebabkan oleh lemah dan rusaknya ilmu pengetahuan (corruption knowledge), sehingga tidak mampu lagi membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.  Karena itu ia menawarkan solusi sentralnya, yakni pembenahan ilmi pengetahuan umat Islam secara fundamental yang lebih populer dengan 'Islamisasi Ilmu Pengetahuan', suatu istilah yang hingga kini acap disalahpahami dan menjadi sebuah kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  Sejarah Ide Islamisasi &lt;br /&gt;Sesungguhnya usaha pengislaman ilmu ini telah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW dan para sahabat pada saat turunnya al-Quran dalam bahasa Arab. Al-Quran telah membawa bahasa Arab ke arah penggunaan yang lebih menenangkan dan damai sehingga merubah watak, perangai dan tingkah laku orang Arab ketika itu. Al-Quran juga merubah pandangan hidup mereka tentang alam semesta dan kehidupan dunia. Pengislaman ilmu ini diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama sehingga umat Islam mencapai kegemilangan dalam ilmu. Oleh itu, islamisasi dalam arti kata yang sebenarnya bukanlah perkara baru. Cuma dalam konteks “kerangka operasional” pengislaman ilmu-ilmu masa sekarang dicetuskan semula oleh tokoh-tokoh ilmuwan Islam seperti Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Al-Faruqi, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr dan lain-lain.3&lt;br /&gt;  Sejarah serta persoalan islamisasi ilmu sekarang ini, dan pemikiran intelektual Muslim tentang ilmu, pendidikan, dan problem ilsmisasi, seperti dirumuskan oleh Muhammad 'Abduh,Iqbal, Al-Faruqi, Fazlur Rahman, dan Seyyed HosseinNasr. &lt;br /&gt;Pengislaman Ilmu atau Islamisasi ilmu adalah wacana yang tak kunjung selesai diperdebatkan oleh sebagian pemikir Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;  Dalam bahasa Arab Islamisasi ilmu disebut sebagai “Islamiyyat al-Ma’rifat” dan dalam bahasa Inggris disebut sebagai “Islamization of Knowledge”. Dalam Islam, ilmu merupakan perkara yang amat penting malahan menuntut ilmu diwajibkan semenjak lahir hingga ke liang lahad. Ayat al-Quran yang pertama yang diturunkan berkaitan dengan ilmu yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5. Menurut ajaran Islam, ilmu tidak bebas nilai--sebagaimana yang dikembangkan ilmuan Barat--akan tetapi sarat nilai, dalam Islam ilmu dipandang universal dan tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu dalam Islam.&lt;br /&gt;Pengertian islamisasi menurut para ahli:&lt;br /&gt;a. Al Faruqi: adalah menuangkan kembali pengetahuan sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam, yaitu dengan memberikan definisi baru, mengatur data, mengefaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan dan memproyeksikan kembali tujuan-tujuannya.3&lt;br /&gt;b. Al Attas:sebagai proses pembebasan ataupemerdekaan. Sebab ia melibatkan pembebasan roh manusia yang mempunyai pengaruh atas jasmaninya dan proses ini menimbulkan keharmonisan dan kedamaian dalam dirinya, sebagai fitranya.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Islamisasi Sebagai Fenomena&lt;br /&gt;Islamisasi ilmu ini menjadi perdebatan utama di kalangan para intelektual Islam semenjak tahun 1970 an. Walaupun ada sarjana muslim membicarakannya tetapi tidak secara teperinci dan mendalam mengenai konsep dan kerangka pengislaman ilmu. Umpamanya seperti, Syed Hussein Nasr, Fazlur Rahman, Jaafar Syeikh Idris.&lt;br /&gt;Maka dapat dikatakan bahwa gagasan islamisasi ilmu pengetahuan sebagai fenomena modernitas, menarik untuk dicermati.  Pada era dimana peradaban modern-sekuler mencengkeram negeri-negeri Muslim dengan kukuhnya, pemunculan wacana Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dibaca sebagai sebuah “kontra-hegemoni” ataupun “diskursus perlawanan”.  Ia hadir untuk menunjukkan identitas sebuah peradaban yang sekian lama diabaikan.  Tapi, sebuah “kontra-hegemoni” ataupun “diskursus perlawanan”,  adakalanya memunculkan problema dan kontradiksinya sendiri.  Itulah yang ingin coba ditelusuri dalam tulisan ini.5&lt;br /&gt;Betapapun diakui pentingnya transfer ilmu Barat ke dunia Islam, ilmu secara tak terelakkan susungguhnya mengandung nilai-nilai yang merefleksikan pandangan dunia masyarakat yang menghasilkannya, dalam hal ini masyarakat Barat.  Bagi Al-Attas, sebelum diajarkan lewat pendidikan, ilmu harus ditapis terlebih dulu agar nilai-nilai yang bertentangan secara diametral dengan pandangan dunia Islam dapat diminimalisasi. Secara ringkas, gagasan islamisasi merupakan upaya dekonstruksi terhadap ilmu pengetahuan Barat untuk kemudian direkonstruksi ke dalam sistem pengetahuan Islam.6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Perlunya Islamisasi Sains: Tinjauan Filsafat Sains&lt;br /&gt;Sejak beberapa dekade yang lalu hingga kini muncul berbagai kritik terhadap Sains Modern. Bukan saja ilmuwan Muslim, tapi banyak ilmuwan Barat sendiri mulai kritis dan mengevaluasi sains yang ada. Mereka umumnya mempertanyakan keabsahan paradigma Sains Modern bahkan cenderung skeptis tentang masa depan Sains Modern. Mereka coba menganalisa dan mencari paradigma sains alternatif. Bagi ilmuwan Muslim, tentu paradigma yang didasarkan pada nilai-nilai Islamlah yang menjadi tumpuan alternatif. Upaya-upaya inilah yang sering disebut Islamisasi sains. Selain percaya pada kesempurnaan nilai-nilai normatif Islam, para ilmuwan Muslim juga percaya pada kesanggupan Islam terjun di wilayah praxis sains, seperti dibuktikan pada masa keemasan Islam.7&lt;br /&gt;D. Tiga  Kategori Pendekatan Sains Islam:&lt;br /&gt;a. I’jazul Qur’an.&lt;br /&gt;Pendekatannya adalah mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Qur’an. Hal ini kemudian banyak dikritik, lantaran penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Menganggap Qur’an sesuai dengan sesuatu yang masih bisa berubah berarti menganggap Qur’an juga bisa berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Islamization Disciplines.&lt;br /&gt;Yakni membandingkan sains modern dan khazanah Islam, untuk kemudian melahirkan text-book orisinil dari ilmuwan muslim. Penggagas utamanya Ismail Raji al-Faruqi, dalam bukunya yang terkenal, Islamization Of Knoledge, 1982.&lt;br /&gt;Ide Al-Faruqi ini mendapat dukungan yang besar sekali dan dialah yang mendorong pendirian International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington (1981), yang merupakan lembaga yang aktif menggulirkan program seputar Islamisasi pengetahuan.&lt;br /&gt;Rencana Islamisasi pengetahuan al-Faruqi bertujuan:&lt;br /&gt;Penguasaan disiplin ilmu modern.&lt;br /&gt;Penguaasaan warisan Islam.&lt;br /&gt;Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern.&lt;br /&gt;Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya). Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah.&lt;br /&gt;Realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.&lt;br /&gt;Ide ini terutama pada proses pemanfaatan sains. “Dalam lingkungan Islam pastilah sains tunduk pada tujuan mulia.” Ilmuwan Pakistan, Z.A. Hasymi, memasukkan Abdus Salam dan Habibie pada kelompok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menggali Epistimologi Sains Islam (Murni).&lt;br /&gt;Epistimologi sains Islam murni digali dari pandangan dunia dunia Islam, dan dari sinilah dibangun teknologi dan peradaban Islam. Dipelopori oleh Ziauddin Sardar8&lt;br /&gt;Sardar mengkritik ide Al-Faruqi dengan pemikiran:&lt;br /&gt;a. Karena sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia.&lt;br /&gt;b. Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik.&lt;br /&gt;c. Menerima bagian-bagian disipliner pengetahuan yang dilahirkan dari  epistimologi Barat berarti menganggap pandangan dunia Islam lebih rendah dari pada peradaban Barat.&lt;br /&gt;E. Sepuluh Konsep&lt;br /&gt;Penemuan kembali sifat dan gaya sains Islam di zaman sekarang merupakan salah satu tantangan paling menarik dan penting, karena kemunculan peradaban muslim yang mandiri di masa akan datang tergantung pada cara masyarakat muslim masa kini menangani hal ini. &lt;br /&gt;Dalam seminar tentang “Pengetahuan dan Nilai-Nilai” di Stocholm, 1981, dengan bantuan International Federation of Institutes of Advance Study (IFIAS), dikemukakan 10 konsep Islam yang diharapkan dapat dipakai dalam meneliti sains modern dalam rangka membentuk cita-cita Muslim. Kesepuluh konsep ini adalah:&lt;br /&gt;(1) Tauhid yakni meyakini hanya ada 1 Tuhan, dan kebenaran itu dari-Nya.&lt;br /&gt;(2) Khilafah kami berada di bumi sebagai wakil Allah, segalanya sesuai keinginan-Nya.&lt;br /&gt;(3)`Ibadah (pemujaan), keseluruhan hidup manusia harus selaras dengan ridha Allah, tidak serupa kaum Syu’aib yang memelopori akar sekularisme: “Apa hubungan sholat dan berat timbangan (dalam dagang)”.&lt;br /&gt;(4) `ilm yang tidak menghentikan pencarian ilmu untuk hal-hal yang bersifat material, tapi juga metafisme, semisal diuraikan Yusuf Qardhawi dalam “Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”.&lt;br /&gt;(5) halal (diizinkan)menurut aturan Islam&lt;br /&gt;(6)`adl (keadilan), semua sains bisa berpijak pada nilai ini: janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat-mu berlaku tidak adil.. Keadilan yang menebarkan rahmatan lil alamin, termasuk kepada hewan, misalnya: menajamkan pisau sembelihan.&lt;br /&gt;(7) istishlah (kepentingan umum).&lt;br /&gt;(8) haram (dilarang).&lt;br /&gt;(9) zhulm (melampaui batas).&lt;br /&gt;(10) dziya’ (pemborosan), “Janganlah boros, meskipun berwudhu dengan air laut”.&lt;br /&gt;Dalam membangun dan mengejar perbaikan iptek dunia Islam, Sardar mengajukan dua pemikiran dasar:&lt;br /&gt;Menganalisa kebutuhan sosial masyarakat muslim sendiri, dan dari sinilah dirancang teknologi yang sesuai. Teknologi ini dikembangkan dalam kerangka pandangan-dunia muslim.&lt;br /&gt;Kenyataannya, sangat tidak mudah bekerja di luar paradigma yang dominan, lantaran kita masih terikat dan terdikte dengan disiplin-disiplin ilmu yang dicetuskan dari, oleh dan untuk Barat.Namun paling tidak ada dua agenda praktis yang dapat dijadikan landasan: jangka pendek: membekali ilmuwan Islam dengan syakhshiyah. Islamiyah, dan jangka panjang: perumusan kurikulum pendidikan Islam yang holistik.9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Mengapa Harus Ada Islamisasi Sains?&lt;br /&gt;Ketika semangat Islamisasi ilmu pengetahuan muncul di Pakistan pada masa Presiden Zia ul Haq pada awal 1980-an, Bashiruddin Mahmood, Direktur Direktorat Energi Nuklir Pakistan bersama teman-temannya segera menyambutnya dengan dengan mendirikan "Holy Quran Research Foundation". Salah satu hasil kajiannya berupa buku "Mechanics of the Doomsday and Life after Death: The Ultimate Fate of the Universe as Seen Through the Holy Quran" (1987).&lt;br /&gt;Sayang, obsesinya untuk mengislamisasi sains tampaknya tidak mempunyai pijakan. Fenomena penciptaan dan kehancuran alam semesta yang katanya ditinjaunya dari Alquran dianalisisnya tanpa menggunakan sains secara utuh. Hasilnya, banyak kejanggalan dari segi saintifiknya. Di Indonesia, publikasi serupa itu ada juga, misalkan oleh Nazwar Syamsu dan Fahmi Basya.&lt;br /&gt;Semangat Islamisasi sains di Pakistan yang dirasakan telah salah arah, menimbulkan kritik tajam dari Dr. Pervez Hoodbhoy, pakar fisika partikel dan nuklir dari Quaid-e-Azam University, Islamabad. Atas saran Prof. Abdus Salam (Penerima hadiah Nobel Fisika 1979), Hoodbhoy memaparkan kritik-kritiknya atas upaya Islamisasi sains di Pakistan dalam bukunya "Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality" (1992). Baik Hoodbhoy maupun Salam sepakat bahwa upaya Islamisasi Sains yang dimotori Presiden Zia ul Haq telah salah langkah dan memalukan.&lt;br /&gt;Secara spesifik, Hoodbhoy mengkritik beberapa kajian yang oleh para pemaparnya -- di beberapa konferensi tentang Alquran dan sains -- dianggap sebagai sains Islam. Kajian-kajian yang dikritik tajam itu antara lain tentang formulasi matematis tingkat kemunafikan, analisis isra' mi'raj dengan teori relativitas, jin yang terbuat dari api sebagai energi alternatif, dan formula kuantitatif pahala salat berjamaah sebagai fungsi dari jumlah jamaah.&lt;br /&gt;Sebenarnya, adakah sains Islam? Dan perlukah Islamisasi sains? Untuk menjawabnya, kita kembali mengkaji lebih dalam lima ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah s. a. w. dan kita fahami prinsip dasar sains.&lt;br /&gt;Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya (Q. S. Al-Alaq:1-5).&lt;br /&gt;Dalam makna yang umum, lima ayat yang turun pertama kali ini tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s. a. w. untuk membaca ayat-ayat qur'aniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membaca ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk itu.&lt;br /&gt;Manusia yang diciptakan dari substansi serupa gumpalan darah telah dianugerahi Allah dengan kemampuan analisis untuk mengurai rahasia-rahasia di balik semua fenomena alami. Kompilasi pengetahuan manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini melahirkan sains dalam upaya menafsirkannya. Ada astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dari segi esensinya, semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum-hukum alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan adalah bencana.&lt;br /&gt;Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?&lt;br /&gt;Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains, juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin terwujud.&lt;br /&gt;Jadi, Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan, yang sering dianggap salah satu bentuk Islamisasi sains, juga bukan pada tempatnya. Dalam sains, rujukan yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem nilai yang dianutnya. Tegasnya, tidak ada sains Islam dan sains non-Islam.&lt;br /&gt;Hal yang pasti ada hanyalah saintis Islam dan saintis non-Islam. Dalam hal ini sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau semi-ilmiah.&lt;br /&gt;"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan "Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia" (Q. S. 3:191), bukan ungkapan bangga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Analisa&lt;br /&gt;  Sebagaimana diungkapkan dalam pembuka tulisan ini, posisi gerakan islamisasi ilmu pengetahuan sebagai sebuah “kontra-hegemoni” sekaligus “ideologi perlawanan” terhadap upaya dominasi peradaban Barat yang mencengkeram baik lewat kolonialisme, neo-kolonialisme maupun “invasi pemikiran”, jelas sangat penting.  Lebih tegas adalah sesuatu yang sah secara intelektual maupun politis.  Bahkan merupakan hak dunia Islam, yang sayangnya, memang sebagian besar berada di dunia ketiga–sebagaimana bagi entitas kebudayaan dan peradaban lainnya untuk mempertahankan identitas maupun jatidiri kebudayaan dan peradabannya dengan merujuk pada akar tradisinya sendiri.&lt;br /&gt;Satu hal yang kiranya perlu tetap disadari, bahwa setiap hasil pemikiran manusia, selalu bersifat historis: terikat dengan ruang dan waktu yang melingkungi sang pemikir.  Gagasan islamisasi ilmu pengetahuan, tentulah memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan waktunya. Itu merupakan sebuah upaya solusi terhadap berbagai problema umat yang memang nyata keberadaannya.&lt;br /&gt;Menjadi penting bagi kita, pada satu sisi, mengapresiasi dan membuka ruang dialog bagi gagasan islamisasi ilmu pengetahuan, sebagai suatu sumbangan sekelompok sarjana Muslim terhadap peradaban umat manusia.  Dan pada sisi lain, menjaga agar gerakan tersebut berada pada bingkai kerja ilmiah, yang ukuran kebenarannya adalah sejauh mana ia bisa konsisten terhadap premis-premis  dasar yang dibangunnya.  Juga sejauh mana ia bisa mengatasi ujian dan verifikasi ilmiah dari para pengkritiknya.  Dan tentu saja, seberapa jauh ia bisa memberi maslahat bagi umat manusia; setidaknya memecahkan persoalan-persoalan yang dijadikan isu utama.  Sangat naif, jika kemudian terjadi penggeseran orientasi gerakan ini, dari yang sifatnya ilmiah menjadi politis dan ideologis.  Sehingga gagasan tersebut menjadi gagasan yang tertutup karena dianggap sudah final kebenarannya atau bahkan diyakini tidak bisa salah karena “berasal dari Tuhan Yang Maha Benar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Kesimpulan&lt;br /&gt;Gerakan islamisasi ilmu atau sains perlu diimplementasikan oleh para cendikia muslim sendiri yang memiliki keluasan ilmu dan keahlian yang mantap terhadap ilmu  -ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan yang non agama.&lt;br /&gt; Alasan orientasi islamisasi pada subyek cendikia yang memiliki kemantapan pada dua dimensi keilmuan, diantaranya perlunya kajian kajian tentang ilmu pengetahuan umum yang telah diakui keberadaannya menjadikan pengkaji terhadap ilmu tersebut medekat dengan agama Islam. Hal ini amat penting untuk disertakan, pengertian agama akan hadir dalam setiap ilmu apapun jenis dan macamnya sebuah keilmuan. Dengan menambahkan nilai-nilai agama dalam setiap ilmu akan menginspirasi terhadap pengkajinya untuk selalu beribadah dalam penyelidikan, penelitian, pembahasan dan pengembangan ilmu. Akhirnya manfaat ilmu pengetahuan dapat mendekatkan manusia pada manfaat yang multi dimensional yakni pada manusia, pada alam semesta dan yang lebih dari itu semua pada cendikia itu sendiri di hadapan Allah.&lt;br /&gt; Fungsi dan hakekat ilmu akan dapat diketahui oleh manusia yang mendalami sebuah ilmu yang telah dipadukan dengan ilmu agama yang cukup. Suatu ilmu akan terkesan lebih sempurna dan menarik dalam berbagai kondisi, situasi dan tak terikat oleh ruang dan waktu bahkan golongan ilmuan akan lebih dekat dengan tokoh-tokoh agama.&lt;br /&gt; Bukan hanya ditinjau dari sisi manfaatnya saja, tetapi islamisasi ilmu dapat mempererat kesatua ilmu-ilmu Allah yang tunggal yakni ilmu yang diciptakan oleh-Nya untuk modal manusia menginvestasikan dirinya demi kebahagiaan manusia yang sempurna yaitu dunia dan akhirat.&lt;br /&gt; Sehingga permasalahan dikotomi ilmu atau membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum akan terkikis sedikit-demi sedikit, sebab selama ini kemunduran ilmu pengetahuan umum diduni masih didominasi oleh para ilmua non muslim. Ada indikasi yang kuat di masyarakat mayoritas muslim enggan untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut dengan alasan yang tidak rasional dan bahkan hanya percaya pada asumsi-asumsi yang tidak benar. Asumsi itu mengatakan bahwa mempelajari ilmu agama akan banyak manfaatnya dibandingkan mempelajari ilmu yang bukan agama. Dampak dari asumsi atau keyakinan yang tidak rasional ini melemahkan motivasi memopelajari ilmu umum tidak dengan kesungguhan.&lt;br /&gt; Kondisi yang dibangun dari asumsi sesat ini akan diarahkan pada tempat yang layak dengan memasukkan ide, nilai, dan paradigma agama Islam dalam kajian ilmu umum agar hal ini menjadikan generasi yang belum terkena virus asumsi di atas memahami bahwa segala ilmu yang dipelajarinya bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Generasi muda akan lebih berarti bagi kemajuan Islam dengan mempu bersaing dalam dunia global yang menjadikan manusia terjauhkan dengan agamanya. Maka dengan islamisasi ilmu pengetahuan akan memperbaiki citra umat islam dalam kompetisi keilmuan dunia dan umat Islam akan mampu berdialog dengan kehidupan yang nyata serta ke4hidupan spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quran Terjemah Departemen Agama R.I&lt;br /&gt;Wan Daud, Wan Mohd Nor, 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas ,Bandung: Mizan.&lt;br /&gt;Ilyas, Mukhlisuddin. 2005. Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Online),  "Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm" diiakses 25 Januari2006). &lt;br /&gt; S.M. Naqoib, al Attas. 1991. The Consept OF Education In Islam., Kualalumpur, ISTAC&lt;br /&gt;Iman, M. Sohibul. 2004. Perlunya Islamisasi Sains: Tinjauan Filsafat Sains. Jakarta:  ISTECS Press.&lt;br /&gt;Said, Bustaomi M. 1995. Gerakan Pembaharuan Agama: Antara Moderenisme dan Tajdiduddin.Bekasi: Wacanalazuardi Amanah.&lt;br /&gt;Ismail, M. 2002. Bunga Rampai Pemikiran Islam. Jakarta: Gema Insani Press.&lt;br /&gt;Saifuddin A.M. 1987. Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-4130570476857062424?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/4130570476857062424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/06/islamisasi-ilmu-pengetahuan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/4130570476857062424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/4130570476857062424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/06/islamisasi-ilmu-pengetahuan-dan.html' title='ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN FENOMENANYA'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-1077934357830529865</id><published>2010-06-04T20:43:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T20:52:00.763-07:00</updated><title type='text'>I’JAZ ALQUR’AN</title><content type='html'>I’JAZ ALQUR’AN&lt;br /&gt;M.Zamrony&lt;br /&gt;A. Pengertian &lt;br /&gt;Kata mu;jizat berasal dari bahasa arab (A’jaza) yg berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (mu’jiz) di tambah ta’ marbutoh superlatif (mubalaghoh).&lt;br /&gt;Mu’jizat adalah suatu hal atau peristiwa luar biasa yg terjadi melalui seorang nabi, sbg bukti kenabiannya, yg ditantangkan kpd yang ragu utk mendatangkan hal serupa, namun mereka tdk mampu melakukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Dari Pengertian di atas mu’jizat itu mengandung:&lt;br /&gt;1. Hal atau peristiwa luar biasa&lt;br /&gt;2. Terjadi pd diri seorang nabi&lt;br /&gt;3. Berupa tantangan kepada orang yang ragu&lt;br /&gt;4. Tidak mungkin dilakukan oleh orang yang ditantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Mu’jizat terbagi menjadi dua;&lt;br /&gt;1. Kauniyah/Hissi/indrawi, yg dpt di jangkau oleh salah satu indra manusia. Mu’jizat ini tdk ada jalan bagi akal utk menentangnya, semua nabi sebelum nabi Muhammad SAW diberikan mu’jizat ini&lt;br /&gt;2. Aqliyah, rasional, yg berdialog dg akal manusia, dan betapapun majunya akal manusia, tdk ada satupun yang mampu melakukan/menandinginya. Al-Qur’an yg diturunkan kpd nabi Muhammad SAW mengandung kedua mu’jizat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Aspek-aspek kemu’jizatan al-Qur’an&lt;br /&gt;1.  Kebahasaan&lt;br /&gt;@ gaya bahasa&lt;br /&gt;@ susunan kata dan kalimat&lt;br /&gt;@ keseimbangan redaksi&lt;br /&gt; Kata basmalah terdiri atas 19 huruh.    &lt;br /&gt; Jumlah bilangan kata dalam basmalah habis terbagi dg angka 19.&lt;br /&gt;o ism sebanyak 19 kali&lt;br /&gt;o Allah sebanyak 2698 kali atau 142x19&lt;br /&gt;o Al-Rahman sebanyak 57 kali atau 3x19&lt;br /&gt;o Al-Rahim sebanyak 114 kali atau 6x19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jumlah kata dg kata yang menunjukkan kpd akibat:&lt;br /&gt;• Al-Infaq- al-Ridha masing-masing 73 kali&lt;br /&gt;• Al-Bukhl- al-Hasrah masing-masing 12 kali&lt;br /&gt;• Al-Kafirun- al-Naar masing-masing 154 kali&lt;br /&gt;• Al-Zakah- al-Barokah masing-masing 32 kali&lt;br /&gt;• Dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jumlah kata dengan kata penyebabnya:&lt;br /&gt;• Al-Asraa- al-Harb masing-masing 6 kali&lt;br /&gt;• Al-Salam- al-Thayyibat masing-masing 60 kali&lt;br /&gt;• Dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keseimbangan khusus&lt;br /&gt;Yaum dalam bentuk tunggal sebanyak 365 kali, dalam bentuk jamak ayyaam sebanyak 30 kali. Kata Syahr dan Asyhur sebanyak 12 kali. Dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Isyarar-isyarat Ilmiah antara lain:&lt;br /&gt;Isyarat-isyarat Ilmiah Al-Qur’an&lt;br /&gt;1. Tentang pohon hijau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Ayat dalam al-Qur’an yang artinya: “yaitu Tuhan yg mnjadikan untukmu api dari kayu yang hijau. Maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” (QS,Yaasin;80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam plasma sel tumbuh2han ada zat chromatophone (pembawa zat warna) yaitu merah, kuning, jingga, dan hijau. Dan yg terpenting adalah hijau yg disebut dg chlorophyl “hijau daun” yang mengandung zat karbon, hidrogen, nitrogen, dan magnesium. Dengan bantuan sinar matahari trjadilah proses photosyntesis yaitu merubah tenaga radiasi matahari mjd tenaga kimiawi yang dalam al-Quran surat Yaasin ayat 80 di sebutkan: faidza antum tuuqiduun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Syamsiyah dan Qomariyahseperti disebutkan dlm al-Kahfi ayat 25:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalender syamsiyah/miladiyah berselisih dg kalender Qomariyah/Hijriyah antar 11 dan 12 hari setiap tahunnya. Jadi pemuda al-Kahfi tinggal selama 300 thn M di gua, maka 300x11=3.300 hari atau sekitar 9 tahun. Berarti untuk tahun Qomariyah mereka tinggal di gua selam 309 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berita tentang hal-hal ghaib&lt;br /&gt;Perang antara romawi dan persia “alif laam mim. Telah bangsa romawi, yg ter ekat dan mereka sesudah di kalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi, bagi Alloh lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang), dan (dihari kemenangan bangsa romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Alloh, Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah maha perkasa mahaa lagi penyayang”.&lt;br /&gt;Antara tiga sampai sembilan tahun, waktu antara kekalahan bangsa rumawi (th 614-615) dg kemenangannya (tahun 622 M). Bangsa rumawi adalah kira-kira tujuh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berita tentang hal-hal ghaib&lt;br /&gt;a. Gua ashabul kahfi&lt;br /&gt;Banyak cara dilakukan oleh orang yang meragukan akan  kerasulan Muhammad SAW dan kebenaran al-Qur’an, diantaranya ialah dg mengajukan beberapa pertanyaan yang diharapkan dari jawaban nabi itu tersingkap kebohongannya. Salah satu pertanyaan yang mereka ajukan ialah ttg sekelompok pemuda yg berlindung didalam gua dari kejaran penguasa kafir, yaitu berapa jumlah mereka, siapa nama-nama mereka, berapa lama mereka bersembunyi/tertidur dsb. Semua itu terjawab seperti yang diisyaratkan dalam surah al-Kahfi ayat 9-26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bukti historis kegagalan menandingi al-Quran&lt;br /&gt;Banyak fakta sejarah yg menunjukkan kegagalan manusia  dalam usahanya menandingi al-Qur’an, salah satunya adalah Abdullah Ibnu Muqaffa’ seorang sastrawan besar dan penulis terkenal yg berjanji kpd kaum zindik dan atheis utk membuatkan karangan atau syair-syair yg dpt melebihi a-Qur’an dlm jangka waktu satu tahun. Setelah berlangsung setengah tahun, dia gagal melaksanakan tugasnya dan menyerah utk tdk melanjutkan lg tugasnya itu.&lt;br /&gt;Alloh sudah mengatakan bahwa manusia itu, jangankan sendirian , berkelompokpun, bahkan bergabung dengan bangsa jin sekalipun, tdk akan mampu menandingi al-Quran. Seperti yang disebutkan antara lain dalam surah al-Isra ayat 88. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tuduhan sekitar Kemu’jizatan al-Qur’an&lt;br /&gt;Menurut sebagian kaum Syi’ah dan Mu’tazilah yaitu mereka yg disebut ahlus Sharfah bahwa ketidak mampuan manusia menandingi al-Qur’an itu bukan karena tidak ada kemampuan mereka, tetapi karena sharfah, yaitu kemampuannya dicabut oleh Alloh sehingga tdk ada satupun yg mampu membuat sesuatu yang sanggup menandingi al-Quran.&lt;br /&gt;Kalau tuduhan mereka itu dibenarkan berarti Alloh itu mempermainkan hambanya, dimana disuruh berbuat sesuatu (menandingi al-Quran), namun kemampuan utk berbuat tdk diberikan. Maka mustahil bagi Alloh yang Maha Mulia dan Suci, berbuat yang demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bukti Ilmiah Arkeologis Mendukung Narasi Riwayat Dalam Al-Quran&lt;br /&gt;a. Tempat Bahtera Nabi Nuh Mendarat&amp;Eksistensi Bangsa ‘Ad, Tsamud Dan Kota Iram &lt;br /&gt;Dimana Bahtera Nabi Nuh as Berlabuh?&lt;br /&gt;Surya Kusuma (1997), menulis laporan tentang temuan arkeologik tempat pendaratan bahtera Nabi Nuh, yang masih di perdebatkan.&lt;br /&gt;Yg menarik dlm laporan tsb adalah bahwa temuan arkeologis dari ekspedisi pimpinan Dr.David Fasold dan Prof. Dr. Salih Bayraktutan bahwa di gunung Judi-lah bahtera nabi Nuh itu mendarat, jadi sesuai dg risalah di dalam al-Quran, Surah 11, ayat 44. &lt;br /&gt;Dalam KitabPerjanjian Lama (Bibel) dikisahkan bahwa bahtera Nabi Nuh mendarat di pegunungan Ararat, sbgmn dpt dibaca; ‘Dalam bulan yg ke 7, pd hari yg ke 17 bulan itu, terkandaslah bahtera itu pd pegunungan Ararat’. (Kejadian, 8:4). &lt;br /&gt;Para kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) mengimani ayat diatas, yaitu bahtera nabi Nuh mendarat di Pegunungan Ararat itu.&lt;br /&gt;Dalam kitab suci al-Quran, dikisahkan bahwa bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Judi, sebagaimana dpt di baca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; …‘dan bahtera itupun  berlabuh diatas bukit Judi…’ (QS, 11: 44). Jelas ummat Islam juga mengimani ayat ini, yaitu bahwa bahtera Nabi Nuh mendarat di Gunung Judi. &lt;br /&gt;b. Pegunungan Ararat Dan Gunung Judi &lt;br /&gt;Pegunungan Ararat terletak dekat perbatasan Turki-Iran-Armenia. Pegunungan ini mempunyai dua puncak. Yaitu Gunung Ararat Besar (GAB) yh tingginya mencapai 5.137 meter, dan disebelah barat-dayanya tegak berdiri Gunung Ararat Kecil (GAK), yang tingginya 3.896 meter. Kedua  gunung itu saling berangkai dan kedua puncaknya ditutupi salju.&lt;br /&gt;Gunung Judi terletak di perbatasanya Iran-Turki, serta berada disebelah barat daya rangkaian GAB dan GAK, dan berjarak sekitar 200 mil (320Km) dari rangkaian Gunung Ararat tsb. Namun demikian Gunung Judi ini masih merupakan bagian dari pegunungan Ararat yang panjang itu.&lt;br /&gt;Ekspedisi pencarian bahtera Nabi Nuh, scr intensif telah dilakukan oleh para Tim Ekspedisi Barat sejak mulainya abad XX. &lt;br /&gt;Sebagai contoh, pd th 1988, Dr Charles Willis melacak keberadaan bahtera nabi Nuh diantara ke2 puncak GAB dan GAK, dg menggunakan radar dan pengebor es. Namun Tim Ekspedisi itu belum menemukan hasil yg konklusif ttg keberadaan bahtera nabi Nuh tsb. Setahun kemudian, 1989, seorang Italia bernama Angelo Palego mengklaim telah menemukan bahtera Nabi Nuh diantara Dataran Tinggi Barat dan Glassior Parrot di pegunungan Ararat. Namun klaim dari palego ini belum dpt dibuktikan lagi oleh para Tim Ekspedisi selanjutnya.&lt;br /&gt;c. Tim Ekspedisi Fasold-Bayraktutan&lt;br /&gt;Tahun 1988, sebuah Tim Espedisi utk mencari jejak bahtera Nabi Nuh dilakukan disekitar Gunung Judi. Tim ini di ketuai oleh Dr. David Fasold, seorang ahli geofisika dr  AS, dan Prof. Dr. Salih Bayraktutan, Direktur Geologi Universitas Ataturk, Turki. Tim ekspedisi ini mengggunakan instrumen canggih, yaitu ground-radar yg dpt memotret bendah di jauh kedalaman tanah, dg hasil yg sangat baik.&lt;br /&gt;Setelah ekspedisi berjalan 6 tahun, maka pd th 1994, Tim Ekspedisi ini berhasil mengambil foto sebuah obyek berbentuk bahtera yg terkubur di kedalaman 2.300 meter. Panjang obyek kapal itu diperkirakan 170 meter, dan lebarnya 45 meter. Al-Quran tdk memberi rincian ttg ukuran bahtera Nabi Nuh. Dalam AQ surat 11, ayat 37 disebutkan; ‘Dan buatlah bahtera itu dg pengawasan dan petunjuk wahyu kami’. &lt;br /&gt;Salih Bayraktutan memperkirakan umur bahtera trsbut lbh dr 100.000 th. Fasol jg yakin bahwa Timnya telah menemukan sisa-sisa kabin bagian atas yg telah menjadi fosil, hasil foto itu sangat jelas bahkan kita bisa hitung papan–papan lantai (dek) diantara dinding bahtera.&lt;br /&gt;Para ilmuan AS dan Timur Tengah menemukan pula sebuah batu besar dg lubang dipahat diujungnya. Bati itu diyakini sbg batu kendali. Pd kapal-kapal kuno, benda itu biasa dikaitkan di belakang kapal sbg alat penyeimbang.&lt;br /&gt;d. Reaksi Ummat Islam dan Ahli Kitab &lt;br /&gt;Ummat Islam sangat gembira dg hasil temuan itu, bahkan pemerintah Turki berncana menjadikan lokasi penemuan khusus itu utk kepentingan studi arkeologis. Namin para ahli kitab tdk begitu senang dg hasil temuan itu, sebab secara tegas temuan itu terjadi di Gunung Judi, sebuah gunung yg disebut scr jelas dlm al-Quran, surat 11, ayat 44 sbg tempat pendaratan bahtera Nabi Nuh &lt;br /&gt;7. Bukti Arkeologis Akan Eksistensi Bangsa ‘Ad, Tsamud, Dan Kota Iram&lt;br /&gt;Dalam AQ surah  Al-Fajr (89), ayat 6-9 menyebut adanya bangsa (kaum) ‘Ad, Tsamud serta menyebut pula kota Iram sbg ibukota kerajaan bangsa ‘Ad. Di sebutkan pula bahwa kota Iram mempunyai bangunan-bangunan (pilar-pilar) yg tinggi, yg pd waktu itu belum ada tandingannya diseluruh wilayahnya. Juga disebutkan bahwa bangsa Tsamud mempunyai keahlian membelah batu untuk tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;Pertanyaanny adalah: adakah bukti-bukti ilmiah yg mndukung eksistensi bangsa ‘Ad, Tsamud, maupun kota Iram? Jwbn dr pertanyaan itu penting agar kita dpt menangkis fitnah para orientalis, dan yg penting lagi adalah jawaban positif dr prtanyaan diats sangat menarik utk memperkuat/menambah keimanan kita.&lt;br /&gt;Dalam tradisi Arab Purba, dipercaya bahwa Tarikh (sejarah) bangsa ‘Ad dan Tsamud adalah mendahului tarikh Ibrahim as. Bangsa ‘Ad bertempat tinggal disekitar wilayah wilayah Arabia Selatan , sedang Tsamud bertempat tinggal disekitar wilayah Arabia Baratdaya. Dg dipandu oleh tradisi inilah penggalian arkeologi mulai dilaksanakan.&lt;br /&gt;Tarikh nabi Ibrahim as 4300-4500 th yg lalu, tarikh bangsa ‘Ad dan Tsamud 4500-5000 th yang lalu. &lt;br /&gt;Penggalian pertama kali dilakukan 1834 disekitar wilayah Yaman Selatan. Dalam penggalian ini ditemukan sebuah prasasti yg bertuliskan huruf himyarite (huruf bangsa arab purba: Himyar) dg menggunakan analisis karbon-14, ternyata prasati tsb berumur 800SM atau sekitar 2800 th yang lalu. Menilik umurnya, maka jelas bukan bahwa prasasti itu bukan langsung berasal dr bangsa ‘Ad, karena tarikh prasasti itu jauh lebih muda. Namun yg menarik adalah pernyataan yg tertulis  dlm prasasti berhuruf himyarite itu.pernyataan dlm bhs himyar itu berbunyi: ‘Mereka mengatur urusan kami, dg menggunakan hukum-hukum (agama) Hud yg lurus’. Dari prasasti inilah utk pertama kali nama Hud disebut di luar al-Quran. Hud as adalah sorang rosul yg dikirim oleh Alloh SWT kpd bangsa ‘Ad. Jadi nampaknya prasati ini berasal dr sebuah bangsa yg merupakan keturunan bangsa ‘Ad (yg terselamatkan dr adzab Alloh SWT). Dalam sejarah Arabia, bangsa Himyar memang lbh muda dibanding bangsa ‘Ad. &lt;br /&gt;Di awal abad xx dilakukan penggalian di wilayah Siria Utara.&lt;br /&gt;Dalam penggalian ini ditemukan prasasti yg umurnya sama dengan prasasti himyarite di atas, sktar 800 SM atau sekitar 2800 th yang silam.  ini dinamakan Prasasti Assyiria atau prasasti Sargon-II; karena prasasti ini berhuruf Assyiria, serta menceritakan ttg seorang Raja Assyiria bernama Sargon-II.&lt;br /&gt;Yg menarik dr prasasti ini adalah menceritakan bahwa kerajaan Assyiria di bwh raja Sargon-II menaklukkan suku-suku Ta-mu-di. Para ahli arkeologi berpendapat bahwa suku Ta-mu-di yg tersebut dlm prasasti Assyiria ini adalah keturunan bangsa Tsamud dlm tarikh qur’aniyah disebut keturunan karena tarikh Ta-mu-di baru sekitar 2800 th yg lalu, sedangkan tradisi Arab Purba menyebut bangsa Tsamud eksisi sekitar 4500 th yang lalu.&lt;br /&gt;8. Prasasti Ebla,Penegasan Eksistensi Bangsa ‘Ad,Tsamud, Dan Kota Iram&lt;br /&gt;PENEGASAN ILMIAH TTG EKSISTENSI BANGSA ‘Ad,kota Iram dan bangsa Tsamud didapat setelah ditemukannya Prasasti Ebla, serta terungkapnya pernyataan tertulis yg trdapat prasasti itu.&lt;br /&gt;Prasasti Ebla ternyata berumur 4500 th yg silam. Jadi umur tarikh prasasti ini sama dengan umur tarikh bangsa ‘ad dan Tsamud. Sedang pernyataan  dlm huruf dan bahasa Eblaite menyatakan bahwa: ‘Kerajaan Ebla tlah mengadakan hubungan dagang dg bangsa Shamutu, ‘Ad di kota Iram’. Jlas disini bahwa bangsa shamutu tdk lain adalah Tsamud yg tsb dl AQ.sedangkan bangsa ‘Ad dn kota Iram dlm prasasti Ebla ini ditulis dg nama yg identik seperti tertulis dalam Alqur’an.&lt;br /&gt;9. Kesimpulan&lt;br /&gt;EKSISTENSI bangsa Tsamud, ‘ad dan kota Iram seperti yg tersebut dlm AQ surat 89 ayat 6-9, telah dikuatkan oleh bukti ilmiah arkeologi dari prasasti Ebla.&lt;br /&gt;a. Penggalian Kota Iram Oleh Nicholas Clapp&lt;br /&gt;Adalah waga AS dan seorang yg prnah memenangkan award dlm pmbuatan film dokumenter. Dia sangat trtarik mempelajari riwayat2 dlm tradisi Arab purba, al ttg bangsa ‘Ad dan kota Iram &lt;br /&gt;Th 1984, Clapp bersama2 dg Prof Juris Zarins seorang pakar arkeologi arabia dan Ranulph Fiennes dan George Hedges, membuat proposal yg ditujukan kpd CIT-JPL, NASA yang isinya ingin memotret kawasan Arabia selatan dr pesawat ulang alik Challenger, dg menggunakan teknik SIR. Teknik SIR ini mampu memotret sampai kedalaman 200-400 M dibawah tanah.&lt;br /&gt;NASA mnyetujui proposal tsb, dan pd th itu jg Challenger melakukan pemotretan di Arabia selatan dr antariksa, dg mnggunakan teknik SIR-B. setelah melakukan 2 x pass over diatas Arabia Selatan, didapatkan foto2 yang sangat menkjubkan. Setelah melalui pemrosesan dg komputer, maka foto2 itu memperlihatkan bahwa dikedalaman 183 m di bawah tanah, terlihat ada satu spot yg disertai garis2 panjang semuanya mnj ke spot tsb. &lt;br /&gt;Untuk meyakinkan hal tsb, NASA meminta bantuan Prancis, utk melakukan pemotretan pd daerah yg sama dg menggunakan satelit yg dilengkapi dg optical sensing system. Dan ternyata hasil pemotretan tsb identik dg hasil yg diperoleh NASA. Analisis foto2 tsb menunjukkan bahwa dikedalaman kurang lebih 200m di bawah tanah, kemungkinan ada kota tua yang terbenam, sedang garis-garis putih yang ada pd foto itu kemungkinan ada pd foto itu kemungkinan rute-rute karavan tua, yang menuju ke kota itu. &lt;br /&gt;Pd th 1991 Clapp mulai melakukan penggalian ditempat yg ditunjukka oleh data dari NASA tsb. Pd th 1992, bulan pebruari, Tim yng di ketuai Clapp berhasil mengangkat suatu bangunan raksasa berbentuk oktagonal dg menara2 dan dinding2 yang tinggi. Sangat menakjubkan sehingga para arkeologi tsb menyitir Aq surat 89, ayat 7, yaitu bahwa kota Iram mempunyai pilar-pilar yg tinggi. Sungguh menakjubkan temuan ini!!Kota yang Eksistensinya diragukan selama beratus-ratus tahun opleh para orientalis, sekarang terbukti secara meyakinkan akan eksistensinya, bahkan dilakukannya oleh para orientalis sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-1077934357830529865?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/1077934357830529865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/06/ijaz-alquran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/1077934357830529865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/1077934357830529865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2010/06/ijaz-alquran.html' title='I’JAZ ALQUR’AN'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-479878160160911790</id><published>2009-01-01T22:34:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T22:39:27.330-08:00</updated><title type='text'>SILABUS MATA KULIAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;SILABI MATAKULIAH&lt;br /&gt;SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM&lt;br /&gt;Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Samarinda&lt;br /&gt;Tahun Akademik 2008/2009&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mata Kuliah           : Sosiologi  Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Jurusan                    : Tarbiyah&lt;br /&gt;Program Studi       : Pendidikan Agama Islam (PAI)&lt;br /&gt;Program                   : Sarjana (S1)&lt;br /&gt;Dosen Pengasuh    : Zamroni, M.Pd&lt;br /&gt;Bobot                          : 2 SKS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A&lt;/strong&gt;.    &lt;strong&gt;Deskripsi Mata Kuliah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan Islam ini di desain untuk memberikan kerangka analisis sosiologi, untuk itu teori-teori tentang sosiologi  akan digunakan dalam mengkaji realitas pendidikan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.    Tujuan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;·        Mahasiswa dapat memahami dan memperoleh wawasan tentang sosiologi pendidikan Islam&lt;br /&gt;·       Mahasiswa mampu untuk memahami berbagai persoalan pendidikan  dan menganalisisnyadari sudut pandang sosiologi.&lt;br /&gt;·      Mahasiswa mampu mengembangkan gagasan tentang berbagai persoalan pendidikan baik untuk pengembangan ilmu maupun untuk kepentingan praktis&lt;br /&gt;C.    Materi&lt;br /&gt;Konsep dasar sosiologi pendidikan (Pengertian dan sejarah sosiologi)&lt;br /&gt;Wilayah kajian sosiologi: Individu, Social Group, gejala sosial (sosiologi), dan gejala non sosial.&lt;br /&gt;Rumpun Ilmu-ilmu Sosial&lt;br /&gt;Obyek sosiologi: Struktur Sosial, unsur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial&lt;br /&gt;Term-term penting sosiologi: Harmoni, konflik, integrasi, sosial grup, interest, komunitas, antagonisme, resolusi, dan solusi.&lt;br /&gt;Hakikat sosial dari pendidikan.&lt;br /&gt;Keterkaitan cabang-cabang Ilmu Sosial dengan Pendidikan&lt;br /&gt;Dinamika Masyarakat dan budaya Melalui Pendidikan.&lt;br /&gt;Pendidikan dan Stratifikasi Sosial&lt;br /&gt;LembagaPendidikan.&lt;br /&gt;Upaya Penyelesaian Masalah  dalam Institusi Pendidikan Islam dengan Menggunakan Pendekatan Ilmu Sosiologi&lt;br /&gt;Faktor pendukung dan penghambat sosiologi pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ahmadi, 2004, Sosiologi Pendidikan, , Jakarta: Rineka Cipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Shadily. 1983. Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Bina Aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishomuddin. 1996. Sosiologi Agama Pluralisme Agama dan Interpretasi Sosiologis. Malang: Pusat Penerbitan UMM Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamanto Sunarto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor Polak. 1976. Sosiologi Suatu Buku Pengantar Ringkas. Jakarta: Ichtiar Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.  Bahan dan Tugas Perkuliahan&lt;br /&gt;a.   Bahan Perkuliahan&lt;br /&gt;Bahan perkuliahan yang dipergunakan berupa referensi-referensi yang telah ditentukan sebelumnya, buku paket dan bahan-bahan tambahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Tugas-tugas perkuliahan&lt;br /&gt;Tugas-tugas perkuliahan  yang diberikan kepada mahasiswa sesuai dengan kontrak belajar adalah:&lt;br /&gt;1.      Tugas-tugas insidental yang diberikan setiap penyampaian materi perkuliahan yang disesuaikan dengan konteks materi yang ada.&lt;br /&gt;2.      Tugas-tugas pembuatan makalah untuk didiskusikan oleh masing-masing kelompok yang telah dibentuk di awal perkuliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.   Strategi Pembelajaran&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran dalam proses perkuliahan pada mata kuliah sosiologi pendidikan Islam ini menggunakan strategi yang berorientasi pada keaktifan belajar mahasiswa (avtive learning). Melalui strategi tersebut diharapkan mahasiswa dapat berperan secara aktif dalam setiap proses perkuliahan yang berlangsung dan berorientasi pada penggalian dan pemantapan kemampuan mahasiswa dalam memahami, mengemukakan, dan mempraktekkan konsep –konsep sosiologi dalam pendidikan islam. Strategi-strategi pembelajaran yang akan digunakan antara lain:&lt;br /&gt;1.      Perkuliahan interaktif (Interactive lecturing)&lt;br /&gt;2.      Panduan membaca (Reading guide)&lt;br /&gt;3.      Diskusi kelompok kecil (Small group discussion)&lt;br /&gt;4.      Tugas akhir (Last task)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.     Evaluasi&lt;br /&gt;1.   Formatif                                         = 30 %&lt;br /&gt;a. Kehadiran                     = 10 %&lt;br /&gt;b. Presentasi                     = 10 %&lt;br /&gt;c. Partisipasi                     = 10 %&lt;br /&gt;2.   Tugas-tugas                                              = 15 %&lt;br /&gt;      a. Tugas Harian   = 5 %&lt;br /&gt;      b. Tugas Akhir      = 10 %                       &lt;br /&gt;3.   Ujian Tengah Semester             = 15 %&lt;br /&gt;4.   Ujian Akhir Semester                 = 40 %&lt;br /&gt;      Jumlah Total                       = 100 %&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-479878160160911790?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/479878160160911790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2009/01/silabus-mata-kuliah-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/479878160160911790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/479878160160911790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2009/01/silabus-mata-kuliah-sosiologi.html' title='SILABUS MATA KULIAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-3987805509601042575</id><published>2008-12-29T18:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T18:34:54.674-08:00</updated><title type='text'>HUBUNGAN HADIS DAN AL-QUR'AN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoTitle" dir="ltr" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;HUBUNGAN HADIS DAN AL-QUR'AN&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;" lang="NL"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Oleh :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Zamroni,M.Pd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam beragama Rosulullah SAW telah mewariskan kepada umatnya dua buah harta warisan yang paling berharga bagi kehidupan manusia khususnya umat Islam yaitu al-Qur'an dan hadis serta menetapkan keduanya sebagai sumber pokok ajaran Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Al-Qur'an dan hadis juga merupakan dua sumber untuk mengenali hukum dan ajaran Islam yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan, aqidah, konsep hidup, ibadah, penetapan hukum, akhlak, adab sopan santun dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Oleh sebab itu kita mesti memahami al-Qur'an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar. Tanpa itu mustahil kita akan dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan tuntunan dan syariat Allah SWT yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam tulisan ini akan diuraikan secara terperinci tentang kedudukan hadis terhadap Al-Qur’an, fungsi hadis terhadap Al- Qur’an dan analisa penulis tentang hubungan hadis dan Al-Qur’an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Kedudukan hadis terhadap al-Qur'an &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;Hadis sebagai      penafsir ayat al-Qur'an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Hadis memiliki berbagai peranan yang penting terhadap al-Qur'an. Diantaranya hadis memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur'an jika memang tidak terdapat penjelasan yang lebih detail dalam al-Qur'an tentang sebuah ayat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam pengantar buku Usul at-Tafsir berkata : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;"Sesungguhnya cara menafsiri al-Qur'an yang paling tepat ialah menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an. Sesuatu yang disebutkan secara umum pada satu tempat dirinci pada tempat yang lain, dan sesuatu yang disebutkan secara singkat pada satu tempat disebutkan secara panjang lebar pada tempat yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Apabila tidak mendapatkan penafsirannya dalam al-Qur'an maka tafsirkanlah dengan hadis Nabi SAW karena sesungguhnya dia memberikan penjelasan terhadap al-Qur'an. Bahkan Imam Syafi'i mengatakan bahwa setiap hukum yang ditetapkan oleh Rosulullah SAW merupakan pemahaman yang berasal dari al-Qur'an. Allah berfirman &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أرك الله ولا تكن للخآئنين خصيما&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : "&lt;i&gt;Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili diantara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang khianat". (QS. an-Nisa' : 105)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dan firman Allah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;وما أنزلنا عليك الكتاب إلا لتبين لهم الذى اختلفوا فيه وهدى ورحمة لقوم يؤمنون&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : "&lt;i&gt;Dan kami tidak menurunkan al-Kitab (al-Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". (QS. an-Nahl : 64)&lt;/i&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;Hadis/sunnah      sebagai sumber hukum mendampingi al-Qur'an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sebagaimana disampaikan di awal bahwa hadis/sunnah merupakan sumber hukum Islam. Dan para sahabat Rosulullah SAW telah melakukan ijma' dengan merujuk pada hadis/sunnah dan menempatkannya sebagai satu sumber hukum syariat yang mendampingi al-Qur'an. Diantaranya ialah para khulafa' rasyidin dan orang-orang yang datang setelah mereka, yang menyatakan dengan perkataan dan perbuatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sebagai contoh as-Suyuthi menyatakan dalam kitab &lt;i&gt;Ad-Duur&lt;/i&gt; &lt;i&gt;al-Mansur&lt;/i&gt; bahwa Abdu bin Humaid Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Kholid Ibnu Usaid berkata kepada Abdullah Ibnu Umar : "Sesungguhnya kami menemukan shalat &lt;i&gt;al-Hadhar&lt;/i&gt; bagi orang tidak bepergian dan shalat &lt;i&gt;al-Khawf&lt;/i&gt; (shalat dalam keadaan waspada saat peperangan) di dalam al-Qur'an tetapi kami tidak menemukan shalat &lt;i&gt;as-Safar &lt;/i&gt;(bagi orang yang bepergian)? Ibnu Umar berkata : "Wahai anak saudaraku sesungguhnya Allah mengutus Muhammad SAW kepada kita saat ita tidak mengetahui sesuatu. Dan sesungguhnya kita melakukan amalan sebagaimana kita melihat Rosulullah SAW melakukannya dan meng-&lt;i&gt;qashar&lt;/i&gt; shalat dalam perjalanan sebagai satu sunnah yang ditetapkan oleh Rosulullah SAW.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam sejarah fiqih Islam penggunaan hadis/sunnah sebagai sumber hukum fiqih selain al-Qur'an ulama fiqih terbagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok madzhab yang menetapkan hadis/sunnah sebagai dasar semua hukum fiqih dalam Islam, dan mengingkari penggunaan &lt;i&gt;qiyas&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ta'lil&lt;/i&gt;. Diantara mereka adalah madzhab Dawud dan Ibnu Hazm azh-Zahiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Kedua adalah kelompok madzhab &lt;i&gt;ra'yu&lt;/i&gt; yang dipelopori oleh madzhab Abu hanifah dan kawan-kawannya. Dimana kelompok ini dikenal lebih pada penggunaan akal dalam menetapkan hukum Islam, sehingga terkesan kelompok ini mengingkari adanya sunnah/hadis. Pada kenyataannya sesungguhnya madzhab Abu Hanifah (imam para ahli &lt;i&gt;ra'yu&lt;/i&gt;) tidak pernah menolak sunnah dan para imamnya masih berargumentasi dengannya serta membangun hukum-hukum mereka berdasarkan sunnah. Kebanyakan pemecahan maslah-masalahnya juga didasarkan pada sunnah. Sebagaimana contoh buku yang ditulis oleh al-Marghinan dengan judul al-Hidayah. Yang kemudian diberi penjelasan (&lt;i&gt;syarah&lt;/i&gt;) dalam kitab yang berjudul Fath al-Qodir yang ditulis oleh Kamaluddin bin al-Hammam, maka akan kita dapatkan kekayaan yang besar dalam hadits. Bahkan Ibnu Hajar telah mentahrij hadits-hadits yang terdapat kitab al-Hidayah dalam karangan beliau yang berjudul ad-Dirayah lil hadits fi al-Hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya kelompok ini juga menggunakan sunnah dalam penetapan hukum Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Yusuf Qardhawi mengatakan terdapat anggapan beberapa penulis sekarang bahwa menurut Abu Hanifah hadits yang shahih hanya ada tujuhbelas saja. Hal ini didasarkan kepada pernyataan Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibnu Khaldun menyatakan bahwa menurut Abu Hanifah hanya ada sekiat 17 – 50 hadits saja yang shahih. Tetapi kalau kita teliti maka pernyataan itu akan terbantahkan dengan sendiri oleh pernyataan Ibnu Khaldun dalam kitab yang sama tentang ketatnya persyaratan yang dimiliki oleh Abu Hanifah dalam memilih hadits. Abu Hanifah menerapkan syarat shahih sebuah hadits diantaranya hadits tidak boleh bertentangan dengan akal. Hal inilah yang menjadikan hadits shahih menurut Abu Hanifah sangat sedikit dan bukan pengingkaran atau kesengajaan beliau untuk mengingkari sunnah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Oleh sebab itu pembahasan mengenai hadis/sunnah sebagai sumber hukum Islam setelah al-Qur'an di dalam semua buku ushul fiqih dalam semua madzhab diakui merupakan pembahasan yang luas dan berkepanjangan mencakup aspek &lt;i&gt;kehujjahan&lt;/i&gt;, ketetapan, syarat-syarat penerimaan, &lt;i&gt;dalalah&lt;/i&gt;, dan lain-lain yang tidak menjadi rahasia bagi orang yang mengkajinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Kalaupun terjadi penolakan imam fiqih dalam mengambil sebuah hadits sebagai dasar hukum Islam Yusuf Qardhawi menyebutkan ada tiga alasan pokok yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mereka tidak yakin bahw Nabi SAW mengatakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ketidak yakinan tentang maksud yang difahami dari sabda Nabi SAW tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mereka yakin bahwa hukum tersebut sudah dihapus.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;Kontroversi      kehujjahan hadis/sunah sebagai sumber hukum Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam penggunaan hadis/sunah sebagai sumber hukum Islam terdapat kelompok yang menolak hadis sebagai sumber hukum Islam. Mereka menyadarkan pemikiran mereka kepada keragu-raguan (&lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt;) yang mereka sangka sebagai dalil. Argumentasi mereka berdasarkan pada dalil berikut ini :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Firman Allah SWT &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 1.3pt 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;وما من دآبة فى الأ رض ولا طير يطير بجناحيه إلا أمم أمثالكم ما فرطنا فى الكتاب من شيئ ثم إلى ربهم يخشرون&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : "&lt;i&gt;Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatu dalam al-Kitab (al-Qur'an), dan kepada tuhanlah mereka dihimpun". (QS. al-An'am : 38)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 1.3pt 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.... ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيئ وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : &lt;i&gt;"… Dan kami Turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar genbira bagi orang-orang yang berserah diri". (QS. an-Nahl : 89).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sesungguhnya Allah menjaga al-Qur'an dan tidak menjaga Sunnah. Hal ini mereka dasarkan kepada firman Allah dalam surah Al-Hijr : 9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : "&lt;i&gt;Sesungguhnya kamilah yang menurukan al-Qur'an, dan sesungguhnya kami memeliharanya". (QS. Al-Hijr : 9)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Jadi tidak terdapat garansi tentang kebenaran dan kemurnian hadits (&lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Terdapatnya perintah Nabi SAW kepada beberapa orang sahabat untuk menulis al-Qur'an yang dikenal dengan para penulis wahyu sedangkan Nabi SAW melarang penulisan hadits dengan menyatakan janganlah kamu menulis sesuatu selain al-Qur'an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kemungkinan pemalsuan dalam hadits yang begitu besar bahkan terdapat hadits yang dhoif dan tidak dapat dijadikan landasan penetapan hukum dan argumentasi, serta sulit membedakan antara hadits yang &lt;i&gt;shohih&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;dhoif&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Meski ulama hadits telah menyeleksi sunnah dari hadits-hadits maudhui tetapi belum menyeluruh pada sanad hadits dan matannya. Seleksi baru dilakukan pada bagian luarnya saja sehingga banyak hadits yang bertentangan dengan akal pikiran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sesungguhnya sunnah mencakup apa yang dikatakan oleh Nabi SAW sebagai manusia biasa dan perbuatan duniawinya atau sebagai pemimpin atau qadhi, maka bagaimana mungkin hal ini dijadikan satu ajaran agama secara umum untuk umatnya hingga hari kiamat kelak.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Keraguan terhadap &lt;i&gt;kehujjahan&lt;/i&gt; hadis ditanggapi oleh ulama hadits dengan mengutarakan beberapa argumentasi diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Al-Qur'an menjelaskan kaidah-kaidah sedangkan hadis merinci hukum-hukumnya. Bahwa dalam ayat al-Qur'an surah an-Nahl : 89 bahwa al-Qur'an menjelaskan segala sesuatu, tetapi perlu digaris bawahi bahwa hal tersebut masih umum (&lt;i&gt;mujmal&lt;/i&gt;) jadi membutuhkan perincian yang lebih jelas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemeliharaan Allah terhadap al-Qur'an mencakup pemeliharaan sunnah. Hal ini didasarkan pada keberadaan sunnah sebagai perincian dari ayat al-Qur'an maka secara otomatis pemeliharaan mencakup pemeliharaan keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Periode penulisan hadis. Memang Nabi SAW melarang penulisan hadis pada masa beliau karena kemampuan baca tulis masyarakat muslim tatkala itu sangat lemah sehingga dikhawatirkan salah. Tetapi Nabi SAW juga telah memberikan perintah kepada beberapa sahabat tertentu untuk menulis hadits dan menyampaikannya dengan hati-hati agar tidak bercampur dengan al-Qur'an, diantara sahabat yang diizinkan menulis hadits ialah Abdullah bin 'Amr.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kontribusi para ulama dalam melayani hadis/sunnah dan pemurniannya. Banyak hal dilakukan oleh ulama sunnah dalam melawan pendusta hadits dengan berbagai argumentasi serta menetapkan berbagai persyaratan dan criteria bagi hadits dari berbagai aspek yang dikemudian hari hal ini dijadikan sebuah ilmu yaitu ilmu mustholhul hadits yang mencakup sembilan puluh disiplin ilmu dalam hadits.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Fungsi hadis/sunah terhadap al-Qur'an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;As-Sunnah memiliki beberapa fungsi dalam kaitannya dengan al-Qur'an, diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memberikan perincian (&lt;i&gt;tafshil&lt;/i&gt;) terhadap ayat-ayat yang global (&lt;i&gt;mujmal&lt;/i&gt;). Misalnya ayat-ayat yang menunjukkan perintah shalat, zakat, haji di dalam al-Qur'an disebutkan secara global. Dan sunnah menjelaskan secara rinci mulai dari syarat, rukun, waktu pelaksanaan dan lain-lain yang secara rinci dan jelas mengenai tatacara pelaksanaan ibadah shalat, zakat dan haji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengkhususkan (&lt;i&gt;takhsis&lt;/i&gt;) dari makna umum (&lt;i&gt;'am&lt;/i&gt;) yang disebutkan dalam al-Qur'an. Seperti firman Allah an-Nisa' : 11. Ayat tentang waris tersebut bersifat umum untuk semua bapak dan anak, tetapi terdapat pengecualian yakni bagi orang (ahli waris) yang membunuh dan berbeda agama sesuai dengan hadits Nabi SAW. "&lt;i&gt;Seorang muslim tidak boleh mewarisi orang kafir dan orang kafir pun tidak boleh mewarisi harta orang muslim&lt;/i&gt;" (HR. Jama'ah). Dan hadits "&lt;i&gt;Pembunuh tidak mewarisi harta orang yang dibunuh sedikit pun&lt;/i&gt;" (HR. Nasa'i).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Membatasi (men-&lt;i&gt;taqyid&lt;/i&gt;-kan) makna yang mutlak dalam ayat-ayat al-Qur'an. Seperti al-Maidah 38 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 1.3pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما جزاء بما كسبا نكلا من الله والله عزيز حكيم&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : "&lt;i&gt;Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah SWT. Dan Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana". (QS. Al-Maidah : 38).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Ayat di atas dibatasi dengan sabda Nabi SAW : "&lt;i&gt;Potong tangan itu untukseperempat dinar atau lebih&lt;/i&gt;". Dengan demikian hukuman potong tangan bagi yang mencuri seperempat dinar atau lebih saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menetapkan dan memperkuat hukum yang telah ditentukan oleh al-Qur'an. Misalnya al-Hajj : 30. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;... واجتنبوا قول الزور&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : &lt;i&gt;"… Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta". QS. Al-Hajj : 30).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Kemudian Rosulullah SAW menguatkannya dalam sabdanya : "Perhatikan! Aku akan memberitahukan kepadamu sekalian sebesar-besarnya dosa besar! Sahut kami : "&lt;i&gt;Baiklah hai Rasulullah". Beliau meneruskan sabdanya : "1. Musyrik kepada Allah SWT. 2. Menyakiti orang tua". Saat itu Rosulullah sedang bersandar, tiba-tiba duduk seraya bersabda lagi : "Awas berkata (bersaksi) palsu&lt;/i&gt;". (HR. Bukhori Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menetapkan hukum dan aturan yang tidak didapati dalam al-Qur'an. Misalnya di dalam al-Qur'an tidak terdapat larangan untuk memadu seorang perempuan dengan bibinya, larangan terdapat dalam hadits yang berbunyi : "&lt;i&gt;Tidak boleh seseorang memadu seorang perempuan dengan 'ammah (saudari bapak)nya dan seorang perempuan dengan khalah (saudara ibu)nya&lt;/i&gt;". (HR. Bukhori dan Muslim).&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Selain yang tersebut diatas, fungsi hadis/sunah terhadap al-Qur’an adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Membuat hukum baru yang tidak terdapat      dalam Al-Qur'an. Dalam hal ini hukum-hukum atau aturan itu hanya      berasaskan sunnah/hadits semata-mata. Contohnya larangan mengawini seorang      wanita yang sepersusuan, karena ia dianggap muhrim senasab, dalam      sabdanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm 18pt 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إن الله حرم من الرضاعة ما حرم من النسب –متفق عليه-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 0cm 18pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Sungguh Allah telah mengharamkan mengawini seseorang karena sepersusuan, sebagaimana halnya Allah telah mengharamkannya karena senasab”. (riwayat Bukhari-Muslim)&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, serta hadits tentang kehalalan janin ikan yang ada dalam perut induknya yang disembelih dengan halal, dan seperti juga halalnya bangkai ikan laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Mengubah ketetapan hukum dalam      Al-Qur'an. Contohnya adalah ayat 180 Surat Al Baqoroh yang menjelaskan      tentang kewajiban berwasiat. Kemudian diubah dengan hadits yang berbunyi: &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;لا وصية لوارث&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Menurut sebagian ulama ayat ini sudah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dinasakh. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style=""&gt; yang mengatakan bahwa      ayat ini dinasakh dengan hadits yang tersebut di atas. Akan tetapi ada      pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa ayat ini masih tetap      “muhkamah”, artinya masih tetap berlaku. Antara lain pendapat seorang      mufassir yang terkenal bernama Abu Muslim Al-Asfahany.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Menurut ulama mutaqaddimin bahwa terjadinya naskh ini karena pembuat syariat menurunkan ayat tersebut tidak diberlakukan untuk selama-lamanya. Ketentuan yang terakhir menghapus ketentuan yang terdahulu karena yang terakhir dipandang lebih luas dan lebih cocok dengan nuansanya. Ini menurut ulama yang menganggap adanya fungsi bayan naskh. Kelompok ini adalah golongan Muktazilah, Hanafiyah, dan madzhab Ibn Hazm Al Dhahiri. Hanya saja muktazilah membatasi fungsi naskh ini hanya berlaku untuk hadits–hadits yang mutawatir. Sementara golongan hanafiyah tidak mensyaratkan hadits mutawatir bahkan hadits masyhur yang merupakan hadits ahad pun bias menasakh hukum sebagian ayat Al Qur’an. Bahkan Ibnu Hazm sejalan dengan adanya naskh kitab dengan sunnah meskipun dengan hadits ahad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sedangkan yang menolak naskh jenis ini adalah Imam Syafi’i dan sebagian besar pengikutnya, meskipun naskh tersebut dengan hadits yang mutawatir. Kelompok lain yang menolak adalah sebagian besar pengikut madzhab Dzahiriyah dan kelompok Khawarij. Menurut As-Syafi’i sunnah/hadis &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak dapat menaskh Al Qur’an. Hanya saja sunnah/hadis itu menjelaskan adanya naskh dalam Al-Qur’an, sebab naskh itu membutuhkan keterangan tentang dalil mana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dahulu dan dalil mana yang datang kemudian. Sedangkan penjelasan dalam hal ini adalah dari Nabi sendiri.&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Analisa&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pada dasarnya fungsi pokok hadis/sunnah terhadap al-Qur’an adalah sebagai penjelas, walaupun terdapat salah satu fungsi hadis terhadap al-Qur’an sebagi pembawa hukum yang tidak ada ketentuan nashnya dalam al-Qur’an , akan tetapi ketika ditinjau lebih dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebenarnya setiap hadis/sunah mempunyai rujukan ketentuan pokok dalam al-Qur’an. Demikian juga dengan kedudukan hadis/sunnah adalah mendampingi dan penafsir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;al-Qur’an, hal ini disebabkan karena al-Qur’an penjelasannya masih bersifat mujmal dan masih sangat global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dengan demikian hubungan hadis/sunah dan al-Qur’an sangat terkait dan kuat sekali, serta tak bisa terpisahkan.Ummat manusia tidak akan dapa menangkap secara jelas ayat-ayat al-Qur’an yang sangat global tanpa panduan dari hadis/sunnah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: left; text-indent: -18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Demikian kuat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hubungan dan keterkaitan antara hadis/sunnah dan al-Qur'an bahkan Yusuf Qardhawi sendiri menyatakan seandainya tidak ada hadis/sunnah maka tidak ada qur'an. Dan bagaimana mungkin umat manusia akan dapat menangkap secara jelas ayat-ayat al-Qur'an yang begitu global dan ringkas serta memahami dengan benar tanpa panduan dan penjelasan yang lebih rinci dan jelas dari sunnah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Bahkan Masyfuk Zuhdi memberikan keterangan bahwa sesungguhnya sunnah adalah bagian dari wahyu ilahy yang disampaikan kepada Muhammad SAW melalui perantara Jibril as. Sebagaimana termaktub dalam &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; an-Najm ayat 3 dan 4 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحى يوحى&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Artinya : "&lt;i&gt;Dan tiadalah yang diucapkan itu (al-Qur'an) menurut hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang disampakan (kepadanya)". (QS. An-Najm : 3-4)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dan sabda Nabi : "Ketahuilah bahwasanya aku diberi Qur'an dan semacam Qur'an besertanya". (HR. Abu awud, At-Tiridzi, Ibnu Majah dari al-Miqdam bin Ma'dikariba ra.).&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(Dosen STAIN Samarinda &amp;amp; STAIS Sengatta Kutim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Al-Khathib, M. Ajaj. &lt;i&gt;Hadits Nabi Sebelum Dibukukan&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;. Gema Insani. 1999&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ismail, M. Syuhudi. &lt;i&gt;Metodologi Penelitian Hadits Nabi&lt;b&gt;,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;. Bulan Bintang, 1992&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Qardhawy, Yusuf&lt;i&gt;, Pengantar Kajian Islam Studi Analistik Komprehensif tentang Pilar-pilar Substansial, Karakteristik&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;Tujuan dan Sumber Acuan Islam&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;. Pustaka al-Kautsar. 1997&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;…… , &lt;i&gt;Al-Qur'an dan As-Sunnah Referensi Tertinggi Ummat Islam&lt;/i&gt;, Robbani Press, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 1997. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Suparto, Munzier, &lt;i&gt;Ilmu Hadits&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;. Raja rafindo Persada. 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sahabuddin. H. &lt;i&gt;As-Sunnah Diantara Pendukung dan Penolaknya&lt;/i&gt;. Jurnal Kajian Islam " Al-Insan". No. 2.Vol. 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Yusanto, Muhammad Ismail. et. al, &lt;i&gt;Prinsip-prinsip pemahaman al-Qur'an dan al-Hadits&lt;/i&gt;, ,. 2002. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Khairul Bayan, Sumber Pemikiran Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Zuhdi , Masyfuk, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Hadits&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;, Bina Ilmu. 1985.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 27pt; text-align: left; text-indent: -27pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Rahman, Fatchur, &lt;i&gt;Ikhtisar Mushthalahul Hadis&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;: PT Al- Ma’arif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yusuf Qardhawi , &lt;i&gt;Al-Qur'an dan As-Sunnah Referensi Tertinggi Ummat Islam&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;: Robbani Press, , 1997. h. 46&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid. h. 68&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid. h. 78&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Ibid.&lt;/i&gt; h. 84&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Yusuf Qardhawy, &lt;i&gt;Pengantar Kajian Islam Studi Analistik Komprehensif tentang Pilar-pilar Substansial, Karakteristik, Tujuan dan Sumber Acuan Islam&lt;/i&gt;. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Pustaka al-Kautsar. 1997. h. 372-375&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Muhammad Ismail Yusanto et. al, &lt;i&gt;Prinsip-prinsip pemahaman al-Qur'an dan al-Hadits&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;: Khairul Bayan, Sumber Pemikiran Islam 2002. h.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;114-116&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dapat dilihat lebih lanjut dalam &lt;i&gt;Tasyri’ul-Jina’iyl Islamy&lt;/i&gt;, A. Qadir ‘Audah I, hal.174-179 dalamFatchur Rahman, 1974&lt;i&gt;, Ikkhtisar Mushtholahul Hadits&lt;/i&gt;, &lt;st1:place&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: PT Al-Ma’arif. h.49.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Masyfuk Zuhdi, 1993, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Hadis&lt;/i&gt;, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Bina Ilmu. h. 65-66.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Munzier Suparta,&lt;i&gt;Ilmu Hadis&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;: PT RajaGrafindo Persada&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;2003, h .65-66.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Masyfuk Zuhdi, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Hadits&lt;/i&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Bina Ilmu. 1985. Hlm. 17&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-3987805509601042575?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/3987805509601042575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/hubungan-hadis-dan-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/3987805509601042575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/3987805509601042575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/hubungan-hadis-dan-al-quran.html' title='HUBUNGAN HADIS DAN AL-QUR&apos;AN'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-9150252016316139111</id><published>2008-12-29T18:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T18:32:31.337-08:00</updated><title type='text'>METODE PEMECAHAN PARADOKSI HADITS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;METODE PEMECAHAN PARADOKSI HADITS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pendahuluan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebuah pendapat mengatakan bahwa hadits merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an sangatlah rasional, karena dalam kenyataannya apa yang terdapat di dalam teks hadits adakalanya merupakan penjelas terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap masih terlalu umum dan sulit untuk diterapkan. Walaupun kadang-kadang hadits bisa juga dianggap setara kedudukannya dengan al-Qur’an. Hal ini bisa dilihat manakala suatu hukum tidak terdapat dalam al-Qur’an akan tetapi dalam hadits dijelaskan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Pemahaman seseorang dengan orang lainnya terhadap teks sebuah hadits akan berbeda-beda. Hal ini dilatar belakangi oleh wawasan, kecerdasan dan analisis yang masing-masing orang yang tidak sama. Dalam kenyataanya mulai zaman sahabat perhatian terhadap pertentangan hadits dianggap sangat urgen. Pasalnya sepeninggal Nabi Muhammad saw, para sahabat inilah yang menjadi rujukan setiap permasalahan umat sehingga dari generasi kegenerasi pertentangan hadits ini menjadi pembahasan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pengertian Paradoksi Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Paradoksi Hadits adalah ilmu yang mempelajari tentang hadits-hadits yang dhahirnya terlihat bertentangan.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Istilah lain paradoksi (&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; (&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;مختلف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dapat dipahami sebagai adanya pertentangan dua hadits dari segi maknanya. Pertentangan adakalanya bisa diselaraskan antara keduanya, dan adakalanya sulit untuk diselaraskan.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dua hadits yang dari segi makna dapat diselaraskan adalah hadits yang segi dhahirnya saja yang bertentangan, akan tetapi hakikatnya selaras/ tidak bertentangan. Seperti contoh dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari ra: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-right: 9pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;لا عدوى ولا طيرة &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;رواه بخا رى)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;dan hadits:&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-right: 9pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;فر من المجذوم فرارك من الأسد (رواه احمد)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;pada hadits yang pertama Nabi saw meniadakan bahwa semua penyakit tidak akan menular. Sedangkan hadits yang kedua mengisyaratkan untuk lari dari penyakit judzam sebagaimana lari dari singa. Sedangkan sebab timbulnya hadits pertama adalah karena adanya kepercayaan orang jahiliyah bahwa mereka meyakini setiap penyakit akan menular dengan sendirinya. Untuk itulah Nabi saw mengeluarkan hadits yang menyatakan bahwa penyakit tidak akan menular apabila tidak dikehendaki oleh Allah swt. sedangkan hadits Nabi saw yang kedua mengisyaratkan jika dekat dengan orang yang mempunyai penyakit judzam, maka bisa menjadi sebab tertularnya penyakit judzam itupun dengan kehendak Allah.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dua hadits yang memerlukan penjelasan karena seakan bertentangan, misalnya ada sebuah hadits yang berbunyi:&lt;span dir="rtl" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;الماء لا ينجس شيء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yang artinya sesuatu tidak bisa menajiskan air. Kemudian hadits lainnya berbunyi :&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;اذا بلغ الماء قلتين لم يحمل نجسا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;artinya jika air sampai dua kullah maka tidak akan menjadi najis. Kedua dalil tersebut seakan bertentangan karena yang pertama memberi pengertian bahwa air tidak akan menjadi mutanajis meski terkena sesuatu yang najis, akan tetapi yang hadits kedua mengisyaratkan bahwa air jika kurang dari dua kulah jika terkena sesuatu yang najis maka airnya akan menjadi mutanajis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebagian ulama’ memberikan nama terhadap ilmu ini dengan bermacam-macam nama antara lain: Musykilul Hadits, Ikhtilafu al-Hadits, Ta’wil Hadits, Talfiq Hadits, yang mana kesemuannya satu maksud yakni paradoksi hadits.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pentingnya Mempelajari Paradoksi Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Paradoksi hadits adalah bagian terpenting dari ulumul hadits yang dibutuhkan oleh ahli hadits dan fuqaha serta ulama-ulama lainnya. Sangat dianjurkan bagi orang yang menekuni ilmu hadis untuk mempelajari ilmu ini secara mendalam. Ilmu ini merupakan buah dari ilmu hadits, yang di dalamnya membahas tentang keumuman dan kekhususan hadits, hadits yang muthlaq dan muqayyad, membahas mengenai penyelarasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hadits yang kontradiktif dan penyelesaian, serta menjelaskan hadits Nabi yang sulit dipahami penjelasannya dan pentakwilannya jika tidak dikaitkan dengan hadits yang lain.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Sebagaimana yang dikatakan Imam Sakhowi bahwa pemahaman seorang ahli hadits dan ahli fiqih akan sempurna jika telah mempelajari kitab paradoksi hadits.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama memusatkan perhatian terhadap ilmu ini sejak zaman shahabat, yang menjadi rujukan umat dalam segala perkara sejak wafatnya Rasulullah saw. &lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama berijtihad dalam banyak hukum, mengumpulkan hadits-hadits dan menjelaskan yang dimaksud dari sebuah hadits. Dari generasi kegenerasi ulama telah mempelajarinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kitab-kitab Paradoksi Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama terdahulu telah menghasilkan karya-karya besar dalam penyusunan kitab paradoksi hadits. Karya-karya tersebut dapat disebutkan sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ikhtilafu al-Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kitab Ikhtilafu al-Hadits adalah kitab karya Muhammad Ibnu Idris Asy-Syafi’i (150-204 H). Kitab ini merupakan kitab paling masyhur diantara kitab-kitab lain yang membahas tentang paradoksi hadits. Karena kitab ini adalah pelopor adanya kitab paradoksi hadits. Dalam kitab ini tidak disebutkan keseluruhan hadits-hadits yang bertentangan. Akan tetapi memuat penjelasan adanya hadits hadits yang bertentangan serta metode penyelesaiannya. Dari sini Imam Syafi’i berharap ulama’ berikutnyalah yang akan mengikuti jalan beliau dan menyempurnakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ta’wilu Mukhtalifu al-Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kemudian kitab yang terkenal setelah karya Imam Syafi’i adalah kitab Ta’wilu Mukhtalifu al-Hadits karya Imam Al-Hafidh Abdullah Bin Muslim Bin Qutaibah Ad-Dainuri (213-276 H). Isi kitab ini adalah menolak para penentang hadits (inkar sunnah), yang menuduh bahwa hadits tidak bisa dipakai untuk pijakan hukum syara’ karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hadits dari perowinya tidak dapat dipercaya dengan asumsi adanya hadits yang bertentangan sehingga kehujjahan hadits masih diragukan. Untuk itulah al-Hafidh membantah tuduhan-tuduhan tersebut dalam kitab ini.&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Musykilu al-Hadits wa Bayanuhu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kitab yang ketiga adalah Musykilu al-Hadits wa Bayanuhu karya Imam al-Muhaddits Abi Bakar Muhammad Bin al-Hasan (Ibnu Furak) al-Anshori al-Ashbihani, wafat (406 H). Yang isinya membahas hadits-hadits Nabi saw yang secara dhahir mengesankan menyerupakan Allah, memfisikkan Allah dan membahas hadits yang bertentangan, menolak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tuduhan kafir yang mencacat agama Islam dengan menjelaskan maksud hadit-hadits Nabi, membatalkan pencacatan-pencacatan dan hadits yang samar-samar dengan hujjah-hujjah nakli dan akli. Kitab ini dicetak tahun 1362 H.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kaidah Pemecahan Paradoksi Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Adapun cara penyelesaian dua dalil yang bertentangan menurut ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Zhahiriyah adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Al-Jam’u wa al-Taufiq&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Zhahiriyah menyatakan bahwa metode pertama yang harus ditempuh adalah mengumpulkan dan mengkompromikan kedua dalil tersebut, sekalipun dari satu sisi saja. Alasan mereka adalah kaidah fiqh yang dikemukakan Hanafiyyah di atas yaitu “mengamalkan kedua dalil itu lebih baik daripada meninggalkan salah satu di antaranya.” Mengamalkan kedua dalil, sekalipun dari satu segi, menurut mereka ada tiga cara, yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apabila kedua hukum yang bertentangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu bisa dibagi, maka dilakukan cara pembagian yang sebaik-baiknya. Apabila dua orang saling menyatakan bahwa rumah “A” adalah miliknya, maka kedua pernyataan itu jelas bertentangan yang sulit untuk diselesaikan, karena pemilikan terhadap sesuatu sifatnya menyeluruh. Akan tetapi, karena barang yang dipersengketakan adalah barang yang bisa dibagi, maka penyelesaiannya adalah dengan membagi dua rumah tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apabila hukum yang bertentangan itu sesuatu yang berbilang, seperti sabda Rasulullah saw, yang menyatakan:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 126pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;لا صلاة لجار المسجدالا فى المسجد (رواه أبو داود و أحمد بن حنبل)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tidak (dinamakan) shalat bagi tetangga mesjid kecuali di mesjid. &lt;/i&gt;(H.R. Abu Daud dan Ahmad Ibn Hanbal)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;Dalam hadits ini ada kata “&lt;i&gt;la” &lt;/i&gt;yang dalam ushul fiqh mempunyai pengertian banyak, yaitu bisa berarti “tidak sah”, bisa berarti “tidak sempurna” dan bisa berarti “tidak utama.” Oleh karena itu, seorang mujtahid boleh memilih salah satu pengertian mana saja, asal didukung oleh dalil lain.&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Apabila&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hukum tersebut bersifat umum yang mengandung beberapa hukum, seperti kasus ‘iddah bagi wanita hamil, atau kasus persaksian yang terdapat dalam hadits. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;i&gt;al-Baqarah, &lt;/i&gt;2:234 bersifat umum dan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;i&gt;al-Thalaq, &lt;/i&gt;65:4 bersifat khusus, maka dari satu sisi ‘iddah wanita hamil ditentukan hukumnya berdasarkan kandungan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;i&gt;al-Thalaq, &lt;/i&gt;65:4. Ulama Hanafiyyah menempuh cara ini dengan metode &lt;i&gt;naskh, &lt;/i&gt;bukan melalui pengkompromian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Tarjih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila pengkompromian kedua dalil itu tidak bisa dilakukan, maka seorang mujtahid boleh menguatkan salah satu dalil berdasarkan dalil yang mendukungnya. Tata cara &lt;i&gt;tarjih &lt;/i&gt;yang dikemukakan para ahli ushul fiqh bisa ditempuh dengan berbagai cara. Umpamanya, dengan men-&lt;i&gt;tarjih &lt;/i&gt;dalil yang lebih banyak diriwayatkan orang dari dalil yang perawinya sedikit, bisa juga melalui pen-&lt;i&gt;tarjih-&lt;/i&gt;an &lt;i&gt;sanad &lt;/i&gt;(para penutur hadits), bisa melalui pen-&lt;i&gt;tarjih-&lt;/i&gt;an dari sisi &lt;i&gt;matan &lt;/i&gt;(lafal hadits), atau di-&lt;i&gt;tarjih &lt;/i&gt;berdasarkan indikasi lain di luar nash.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Naskh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila dengan cara &lt;i&gt;tarjih &lt;/i&gt;kedua dalil tersebut tidak dapat diamalkan, maka cara ketiga yang ditempuh adalah dengan membatalkan salah satu hukum yang dikandung kedua dalil tersebut, dengan syarat harus diketahui mana dalil yang pertama kali datang dan mana yang datang kemudian. Dalil yang datang kemudian inilah yang diambil dan diamalkan, seperti sabda Rasulullah saw.:&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 144pt;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها ( رواه مسلم )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Adalah saya melarang kamu untuk menziarahi kubur, tetapi sekarang ziarahlah &lt;/i&gt;(H.R. Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dalam hadits ini mudah sekali dilacak mana hukum yang pertama dan mana yang terakhir. Hukum pertama adalah tidak boleh menziarahi kubur, dan hukum terakhir adalah dibolehkan menziarahi kubur, karena &lt;i&gt;‘illat &lt;/i&gt;(motivasi) larangan dilihat Nabi saw. tidak ada lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Tasaquth al-Dalilain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila cara ketiga, yaitu &lt;i&gt;naskh &lt;/i&gt;pun tidak bisa ditempuh, maka seorang mujtahid boleh meninggalkan kedua dalil itu dan berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebih rendah dari kedua dalil yang bertentangan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut ulama syafi’iyyah, Malikiyyah dan Zhahiriyyah, keempat cara tersebut harus ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menyelesaikan pertentangan dua dalil secara berurutan.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sedangkan menurut Hanafiyyah kaidah dalam menyelesaikan paradoksi hadits adalah:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Naskh&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tarjih&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Al-Jam’u a al-Taufiq&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tasaquth al-Dalilain&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Hujah-hujah Penolak Paradoksi Hadits&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Jika mengkaji mendalam kitab Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan ditemukan pemahaman bahwa sebenarnya tidak mungkin terjadi pertentangan sebuah hadits antara yang satu dengan yang lainnya. Karena tidak mungkin terjadi Allah dan Rasulnya menurunkan aturan-aturan yang saling bertentangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Dalil-dalil &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang menolak adanya pertentangan hadits antara lain:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Firman Allah swt dalam &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; An-Najm ayat : 1-4:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Yang artinya: &lt;i&gt;“demi bintang apabila terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkanya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya)”&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;An-Nisaa ayat 82&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Yang artinya :”&lt;i&gt;patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Qur’an? Kalaukah al-Qur’an itu(datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan yang banyak di dalamnya”&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ali Imran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Yang artinya:”&lt;i&gt;Sesungguhnya Allah telah mengurniakan (rahmat-Nya) kepada orang-orang yang beriman, setelah ia mengutuskan di kalangan mereka seorang Rasul dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan membersihkan mereka, serta mengajar mereka Kitab Allah (al-Qur’an) dan al-Hikmah”&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Ibnu Hazm berkata: tidak ada pertentangan sedikitpun dalam al-Qur’an dan hadits, pertentangan terjadi karena keterbatasan ilmu pengetahuan kita. Abu Ishaq al-Syatibi berkata: “perselisihan tersebut (dalil-dalil syara’) timbul karena kelemahan mereka memahami dan menemukan tujuan-tujuan Allah yang terkandung dalam nas-nasnya, hal ini bukan adanya pertentangan dalam dalil-dalil syara’ sendiri. Ibnu Qayyim berkata: “Sekelompok orang menduga bahwa ada hadits-hadits Nabi yang berlawanan dengan hadits-hadits lainnya, saling menggugurkan dan bertentangan, kami berpendapat bahwa tidak akan ada pertentangan antara hadits-hadits shahih&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Wahbah al-Zuhaili menyatakan bahwa pertentangan antara dua dalil atau hukum itu hanya dalam pandangan mujtahid, sesuai dengan kemampuan pemahaman, analisis, dan kekuatan logikanya, bukan pertentangan aktual, karena tidak mungkin terjadi Allah dan Rasulnya menurunkan aturan-aturan yang saling bertentangan.&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Pada dasarnya, &lt;i&gt;nash&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;nash&lt;/i&gt; syari’at tidak mungkin saling bertentangan. Sebab, kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran. Karena itu, apabila diandaikan juga adanya pertentangan, maka hal itu hanya dalam tampak luarnya saja, bukan dalam kenyataan yang hakiki. Atas dasar itu wajib menghilangkanya dengan cara: apabila pertentangan itu dapat dihapus dengan cara menggabungkan atau menyesuaikan kedua &lt;i&gt;nash&lt;/i&gt;, tanpa harus memaksakan atau mengada-ada, sehingga kedua-duanya bisa diamalkan, maka yang demikian itu lebih utama daripada harus mentarjihkan antara keduanya. Sebab, pentarjihan berarti mengabaikan salah satu dari keduanya sementara mengutamakan yang lainnya.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;G.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Analisa dan kritik&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Paradoksi hadits adalah ilmu yang membahas tentang hadits yang secara dhahir bertentangan serta penyelesaiannya. Bagi ulama ahli hadits dan fuqoha sangat penting mendalami ilmu ini, karena dengan mendalami ilmu ini, maka akan sempurna pemahamannya terhadap hadits dan fiqh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Penyelesaian paradoksi hadits menurut Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Zhahiriyah adalah: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Al-Jam’u wa al-Taufiq&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Al-Tarjih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Al-Naskh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Tasaquth al-Dalilain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sedangkan Hanafiyyah berpendapat tentang cara penyelesaian paradoksi hadits sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al-Naskh&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al-Tarjih&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al-Jam’u wa al-Taufiq&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tasaquth al-Dalilain&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kaidah pemecahan paradoksi hadits menurut Hanafiyyahlah yang dianggap lebih rajih, karena mendahulukan al-Naskh kemudian al-Tarjih dan seterusnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara Allah dan Rasulnya. Paradoksi pada dasarnya bersifat semu. Untuk itulah diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap hadits-hadits yang terlihat bertentangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Kepustakaan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Abdullah, Hafiz Firdaus dalam http;//www/alfirdaus.com/HadisCanggah/Pengenalan.htm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj, 1997, &lt;i&gt;Ushulu al-Hadits &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ulumuhu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Wa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; Musthalahuhu,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; cet. Ke-7, Jeddah-Makkah, Daarul Munaaroh, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Al-Atthar, Abdu al-Nashir Taufiq, 1987, &lt;i&gt;Ulumu al-Sunnati Wadustuuru lilummah&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Harun, Nasrun, 1997, &lt;i&gt;Ushul Fiqh 1&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; ,Logos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Holly al-Qur’an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Qardawi, Yusuf, Pent. Muhammad al-Baqir, 1995, &lt;i&gt;Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW&lt;/i&gt;, cet.&lt;i&gt; IV, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;, Karisma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj, 1997, &lt;i&gt;Ushulu&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;al-Hadits &lt;/i&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;i&gt;Ulumuhu&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;i&gt;Wa&lt;/i&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i&gt; Musthalahuhu,&lt;/i&gt; cet. Ke-7, Jeddah-Makkah, Daarul Munaaroh, hlm. 295&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al-Atthar, Abdu al-Nashir Taufiq, 1987, &lt;i&gt;Ulumu al-Sunnati Wadustuuru lilummah, &lt;/i&gt;hlm. 179&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abdullah, Hafiz Firdaus dalam http;//www/alfirdaus.com/HadisCanggah/Pengenalan.htm&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al-Khatib, op.cit. hlm. 295-296&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ibid&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ibid, hlm. 6&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Harun, Nasrun, 1997, U&lt;i&gt;shul Fiqh 1&lt;/i&gt;, &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ,Logos, hlm 178-180&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt; Ibid,&lt;/i&gt; hlm. 175-178&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Holly al-Qur’an&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abdullah, &lt;i style=""&gt;op.cit&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i style=""&gt;ibid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abdullah, &lt;i style=""&gt;Op.cit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Haroen, op.cit,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hlm 174&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Qardawi, Yusuf, Pent. Muhammad al-Baqir, 1995, &lt;i&gt;Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW, cet. IV, &lt;/i&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;Bandung&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, Karisma,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hlm. 48&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-9150252016316139111?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/9150252016316139111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/metode-pemecahan-paradoksi-hadits.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/9150252016316139111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/9150252016316139111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/metode-pemecahan-paradoksi-hadits.html' title='METODE PEMECAHAN PARADOKSI HADITS'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-3627185921704999910</id><published>2008-12-23T07:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T07:13:29.656-08:00</updated><title type='text'>studi banding</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVD_45pCFfI/AAAAAAAAACo/w8ggF3cjoiw/s1600-h/DSCN5699.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVD_45pCFfI/AAAAAAAAACo/w8ggF3cjoiw/s320/DSCN5699.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283003715916273138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-3627185921704999910?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/3627185921704999910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/studi-banding.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/3627185921704999910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/3627185921704999910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/studi-banding.html' title='studi banding'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVD_45pCFfI/AAAAAAAAACo/w8ggF3cjoiw/s72-c/DSCN5699.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1085234612018972591.post-1315030591695174872</id><published>2008-12-22T05:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T06:06:07.079-08:00</updated><title type='text'>cita ideal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVDvuped6pI/AAAAAAAAABY/hrU9edcAKJc/s1600-h/Graphic1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 202px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVDvuped6pI/AAAAAAAAABY/hrU9edcAKJc/s320/Graphic1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282985947592256146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SU-cJVp7E6I/AAAAAAAAAAM/iV-wiRgDoRA/s1600-h/DSC00713.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1085234612018972591-1315030591695174872?l=zamronimpd.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zamronimpd.blogspot.com/feeds/1315030591695174872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/uin-malang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/1315030591695174872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1085234612018972591/posts/default/1315030591695174872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zamronimpd.blogspot.com/2008/12/uin-malang.html' title='cita ideal'/><author><name>Zamroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157360942332323876</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVmg3fvx18I/AAAAAAAAAC4/KQXejGwdNtY/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xiWAgXXZgRA/SVDvuped6pI/AAAAAAAAABY/hrU9edcAKJc/s72-c/Graphic1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
